Urgensi Hati yang Bersih dalam Berinteraksi dengan Al-Qur’an

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Pertama mohon maaf kalau pembahasan ini sedikit “melelahkan”.

Dalam kitab Az-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal (1/106, no. 680) disebutkan:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنِي أَبُو مَعْمَرٍ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ قَالَ: قَالَ عُثْمَانُ رَحِمَهُ اللَّهُ: «لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَا شَبِعْتُمْ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ» (1 / 106، رقم 680)

[Abu Bakar Ahmad bin Ja`far bin Hamdan bin Mâlik al-Qathî`î[1] berkata:] telah menceritakan kepada kami Abdullah[2] [bin Ahmad bin Hanbal], [ia berkata]: telah menceritakan kepadaku Abû Ma`mar, [ia berkata]: telah menceritakan kepada kami Sufyân bin `Uyainah, ia berkata: Utsmân bin `Affân – rahimahullah – berkata: “Kalau saja hati kalian suci bersih, niscaya kalian tidak akan pernah kenyang dari kalamullah [Al-Qur’an]”.

Menurut ilmu Mushthalah Hadits, riwayat ini “bermasalah”, sebab di situ terdapat seorang perawi yang bernama Sufyân bin `Uyainah yang lahir pada tahun 107 H yang mengatakan: “Utsmân bin `Affân – rahimahullah – berkata”, padahal Utsmân bin `Affân – radhiyallâhu `anhu – wafat pada tahun 35 H. artinya, Sufyân bin `Uyainah – rahimahullâh – tidak pernah bertemu dengan Utsmân bin `Affân – radhiyallâhu `anhu -. Oleh karena inilah, para ahli hadits menilai riwayat ini sebagai riwayat munqathi`ah, maksudnya, terdapat keterputusan atau ketidak tersambungan dalam sanadnya. Padahal adanya inqithâ` (keterputusan atau ketidak tersambungan sanad) merupakan satu sebab bagi dha`îf-nya suatu periwayatan.

Namun, menurutku yang lemah dan miskin ilmu ini, substansi dari kandungan riwayat yang dha`îfah ini tetaplah shahih.

Lho … kok? Kenapa?

Sebab, bukankah substansi dari riwayat yang dha`îfah ini mengajarkan tentang perlunya hati yang bersih dan suci saat berinteraksi dengan Al-Qur’an yang merupakan kalamullah?

Tentu maksudnya adalah bersih dan suci dari:

  1. Syirik, yaitu segala bentuk penyekutuan kepada Allah SWT, baik syirik khafiy, terlebih lagi syirik jaliy, syirik ashgar, terlebih lagi syirik akbar.
  2. Dosa dan maksiat, sebab dosa dan maksiat itu adalah noktah atau noda hitam yang di satu sisi ia menutupi hati untuk melihat cahaya Al-Qur’an, dan di sisi lain, ia menutupi Al-Qur’an yang “mencari” hati.
  3. Segala bentuk syubhat dan syahawat, sebab, dua hal ini merupakan suatu penyakit yang membuat hati menjadi lemah, sakit dan bahkan keras, lalu menjadi mati.

Kenapa substansi dari riwayat yang dha`îfah ini tetap dikatakan shahih?

Sebab Allah SWT berfirman:

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ . نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الأمِينُ . عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (الشعراء: 192 – ١٩٤)

Dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dDia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. (Q.S. Asy-Syu`arâ’: 192 – 194).

Jadi, Al-Qur’an al-Karim, pada awalnya turun kepada “hati” nabi Muhammad SAW, tentunya, hati beliau SAW adalah hati yang bersih dan suci. Maka hal ini menunjukkan bahwa siapa saja dari umat nabi Muhammad SAW, kalau ingin berinteraksi dengan Al-Qur’an, hendaklah membersihkan dan mensucikan hatinya dari tiga hal di atas.

Karena substansi dari riwayat yang dha`îfah ini tetaplah shahih, maka kita dapati para ulama’ tetap mempergunakan riwayat yang dha`îfah ini, diantaranya adalah Imam Ghazali (450 – 505 H = 1058 – 1111 M) dalam kitab Ihyâ’ `Ulûm ad-Dîn (1/288) dan Imam Ibn Rajab al-Hanbalî (736 – 795 H = 1335 – 1393 M) dalam kitab Jâmi` al-`Ulûm wa al-Hikam (2/342).

Terkait dengan hal ini, menarik juga untuk disimak penjelasan pada link berikut:

http://www.al-ikhwan.net/tafsir-terbaik/

Semoga bermanfaat, amin.

[1] Beliau ini adalah tokoh yang meriwayatkan kitab az-Zuhd kepada generasi berikutnya, beliau mengesahkan periwayatan kitab ini pada bulan Rabî` al-Awwal tahun 443 H. (lihat bagian awal kitab az-Zuhd).

[2] Di sini Abdullah; putra Imam Ahmad bin Hanbal tidak meriwayatkannya dari Imam Ahmad, karenanya, riwayat ini terhitung sebagai zawâid (penambahan) terhadap kitab az-Zuhd yang ditulis oleh Imam Ahmad. Karenanya, sebagian ulama’ saat men-takhrij riwayat ini mengatakan bahwa riwayat ini terdapat dalam Zawâid az-Zuhd.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *