Untung Tidak Su-uzh-zhan

makanan1

Alkisah …

Adalah seorang tokoh bernama Abdul Ghani al-Quwatli.. beliau adalah kakek presiden Syuria yang pertama: Syukri Bik al-Quwatli.

Abdul Ghani al-Quwatli adalah seorang tokoh ternama dan terpandang di zamannya, yang hidup di kota Damaskus pada abad 19 M.

Diantara kebiasaan Abdul Ghani al-Quwatli ini, setiap hari, dia selalu mempersiapkan hidangan makan besar yang diperuntukkan bagi orang kaum fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan.

Menariknya, tidak satu pun yang ditanya tentang siapa nama? Apa pekerjaannya, dan seperti apa kondisi perekonomian dan kehidupan mereka yang datang untuk menyantap hidangan besar hariannya itu. Boro-boro diminta meninggalkan KTP atau tanda pengenal lainnya. Dan sudah tentu, tidak satu pun dari mereka harus melewati pintu metal detector atau pun memasukkan barang bawaannya melalui lubang eksray, karena memang pada zaman itu belum ada, he he.

Pada suatu hari di bulan Ramadhan yang mulia, terlihatlah diantara yang hadir untuk menyantap hidangan berbuka di tempat Abdul Ghani al-Quwatli itu, seorang lelaki yang terlihat perlente: memakai jaket kulit mulus dan halus. Lelaki itu terlihat ikut serta menyantap hidangan dengan tenang, diam dan tanpa berbicara.

Abdul Ghani al-Quwatli menyaksikan hal itu dan mengamatinya, namun ia tidak mengenalnya. Maka ia memerintahkan kepada salah seorang pembantunya untuk secara diam-diam memasukkan 10 lira emaske dalam saku jaket kulit lelaki itu, yang kebetulan digantung di salah satu dinding tempat acara itu.

“Wahai Beik (tuan), mosok cuma 10 lira?? Terlalu kecil??!!” kata si pembantu kepada Abdul Ghani al-Quwatli.

Abdul Ghani pun tersenyum dan berkomentar: “Kalau begitu, masukkan 20 lira emas ke dalam saku jaket kulit itu!!”.

Dari body language-nya, sepertinya si pembantu hendak berbicara lagi, maka Abdul Ghani berkata: “Okey, masukkan 30 lira emas ke dalam saku jaket kulit yang digantung itu!!”.

Maka sang pembantu melaksanakan titah Abdul Ghani al-Quwatli, seperti yang dipesan, yaitu, jangan sampai diketahui oleh si pemilik jaket kulit itu.

Selesai acara buka puasa bersama itu, lelaki itu pun mengambil jaket kulitnya. Dia merasa ada sesuatu yang lain pada jaket kulit itu, karena terasa berat pada dua sisi sakunya, maka ia masukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya, dan betapa kagetnya ia saat kedua tangannya mendapati ada banyak uang di dalamnya, namun ia tetap menjaga air muka dan body language-nya supaya tidak tampak bahwa ia terkejut dan keheranan.

Ia pun berjalan pergi meninggalkan rumah Abdul Ghani. Setelah agak jauh, ia menghitung uang lira emas itu, dan didapatinya berjumlah 30 lira.

Secara diam-diam, Abdul Ghani pun mengirim seorang “mata-mata”-nya untuk mengamati siapa lelaki itu dana pa tingkahnya, tanpa sepengetahuan lelaki perlente itu.

Sementara lelaki perlente itu, setelah mengetahui bahwa di saku jaketnya terdapat tiga puluh lira, ia pun pergi menuju penjual daging, dan ia menyerahkan beberapa lira emas kepadanya sambil meminta maaf kepadanya bahwa ia terlambat dalam melunasi hutangnya kepadanya.

Lalu lelaki perlente itu pun pergi ke penjual roti dan makanan, membeli beberapa makanan.

Lalu pergi ke penjual minyak samin, dan membeli beberapa keperluannya darinya. Dan begitulah lelaki itu berbuat dan berpindah dari satu penjual ke penjual lainnya.

Setelah dirasa keperluannnya tercukupi, lelaki itu pun pulang ke rumahnya, dan di sana ia telah disambut oleh seorang putrinya kecilnya yang terlihat sangat cantik.

Gadis kecil mungil itu berkata: “Ayah.. kemana saja sih? Kami yang di rumah menunggu ayah sampai hampir mati kelaparan, kan kita sudah beberapa hari tidak makan??!!

Dari mata-matanya, Abdul Ghani mengetahui bahwa lelaki itu sebenarnya terhitung “orang besar”, namun, perputaran roda zaman telah mengubahnya menjadi lelaki yang miskin, namun tetap memiliki izzah dan iffah, sehingga ia tidak pernah menunjukkan kemiskinannya kepada siapa pun, apa lagi sampai ke tingkat meminta-minta.

Maka berkatalah Abdul Ghani kepada keluarga dan orang-orangnya: “Berikanlah belas kasihan kepada tokoh masyarakat yang berubah menjadi miskin seperti dia itu!!”.

Ramadhan karim, Ramadhan mubarak..

Untung tidak bersu-uzh-zhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *