Umara’, Ulama, DPR dan Kemunduran Umat Islam

Pada tanggal 21 Rabi’ul Akhir 1348 H / 1929 M, seorang Imam di kerajaan Sambas Kalimantan Barat bernama Muhammad Basyuni Imran menulis surat pembaca ke Majalah Al-Manar yang dipimpin oleh Syekh Muhammad Rasyid Ridha.

Inti suratnya adalah sebuah pertanyaan singkat:
Kenapa kaum muslimin mundur?
Dan kenapa bangsa lain maju?

Muhammad Basyuni meminta kepada Syekh Muhammad Rasyid Ridha, agar yang menjawab pertanyaannya adalah al-Amir Syakib Arsalan.

وَمِنْ أَكْبَرِ عَوَامِلِ تَقَهْقُرِ الْمُسْلِمِيْنَ: فَسَادُ أَخْلَاقِ أُمَرَائِهِمْ؛ حَيْثُ ظَنَّ هَؤُلَاءِ – إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ – أَنَّ الْأُمَّةَ قَدْ خُلِقَتْ لَهُمْ، وَبِالتَّالِيْ فَلَهُمْ أَنْ يَفْعَلُوْا بِهَا مَا يَشَاؤُوْنَ، وَقَدْ رَسَخَ فِيْهِمْ هَذَا الْفِكْرُ، حَتَّى إِذَا حَاوَلَ مُحَاوِلٌ أَنْ يُقَوِّمَ عِوَجَهُمْ عَلَى الْجَادَّةِ، بَطِشُوْا بِهِ، لِيَكُوْنَ عِبْرَةً لِغَيْرِهِ مِنَ الْمُتَطَفِّلِيْنَ عَلَيْهِمْ.
Diantara jawaban al-Amir, beliau menyinggung peran umara dan ulama terhadap kemunduran dan keterbelakangan kaum muslimin.

Beliau menulis:
Diantara faktor terbesar bagi kemunduran kaum muslimin adalah kebejatan akhlaq para penguasa mereka. Di mana para penguasa mengira – kecuali yang masih mendapatkan rahmat Allah SWT – bahwa umat seakan dicipta untuk mereka. Karenanya, para penguasa merasa berhak untuk berbuat apa saja terhadap umat.

Repotnya, pemikiran seperti ini sudah tertanam kuat pada mereka, sehingga, saat ada yang berusaha meluruskan kebengkokan mereka tadi, para penguasa pun membantai umat, dengan alasan agar menjadi pelajaran bagi yang ada keinginan untuk coba-coba mengingatkan mereka.

وَجَاءَ الْعُلَمَاءُ اَلْمُتَزَلِّقُوْنَ لِأُوْلَئِكَ الْأُمَرَاءِ، اَلْمُتَقَلِّبُوْنَ فِيْ نَعْمَائِهِمْ، اَلضَّارِبُوْنَ بِالْمَلَاعِقِ فِيْ حُلْوَائِهِمْ، وَأَفْتَوْا لَهُمْ بِجَوَازِ قَتْلِ ذَلِكَ النَّاصِحِ، بِحُجَّةِ أَنَّهُ شَقَّ عَصَا الطَّاعَةِ، وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ.
Payahnya, muncul pula ulama’-ulama’ penjilat para penguasa itu, ulama’ yang telah bergelimang dalam kenikmatan yang mereka dapat dari panguasa, yang asyik masyuk membentur-benturkan sendok dan garpunya di meja hidangan para penguasa. Ulama’-ulama’ itu memberi fatwa kepada para penguasa bahwa orang yang coba menasehati penguasa berhak dibunuh, dengan alasan bahwa dia telah keluar dari garis ketaatan dan memisahkan diri dari jamaah (bangsa).

وَلَقَدْ عَهِدَ الْإِسْلَامُ إِلَى الْعُلَمَاءِ بِتَقْوِيْمِ أَوَدِ الْأُمَرَاءِ، وَكَانُوْا قَدِيْمًا فِي الدُّوَلِ الْإِسْلَامِيَّةِ الْفَاضِلَةِ بِمَثَابَةِ الْمَجَالِسِ اَلنِّيَابِيَةِ فِيْ هَذَا الْعَصْرِ، يُسَيْطِرُوْنَ عَلَى الْأُمَّةِ، وَيُسَدِّدُوْنَ خُطُوَاتِ الْمَلِكِ، وَيَرْفَعُوْنَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ طُغْيَانِ الدَّوْلَةِ، وَيَهِيْبُوْنَ بِالْخَلِيْفَةِ – فَمَنْ بَعْدَهُ – إِلَى الصَّوَابِ.
Padahal, sejatinya, Islam telah mengambil janji dari para ulama’ agar mereka meluruskan kebengkokan penguasa. Dan dahulunya, di dalam negara Islam yang mulia, peran ulama itu seperti DPR di zaman sekarang. Ulama’ lah yang memegang kendali umat, mereka lah yang meluruskan langkah-langkah raja, mereka lah yang bersuara lantang saat terjadi hegemoni negara atas rakyat, dan mereka pula lah yang mendorong khalifah dan bawahannya untuk kembali kepada jalan yang benar.

Dikutip dari buku:

لماذا تأخر المسلمون ولماذا تقدم غيرهم

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *