Tuk Pake

Pada awal Oktober 2016 M, saya ada agenda perjalanan ke salah satu negeri Melayu. Dan untuk pertama kalinya saya mendengar istilah “tuk pake”.

Saat pertama kali saya mendengar kosa kata “tuk pake”, saya mengira bahwa maksudnya adalah: “untuk dipakai”, dengan asumsi “tuk” merupakan bentuk penyingkatan dari kosa kata “untuk”, dan “pake” adalah bentuk penyingkatan dari kosa kata “pakai”.

Saya ketahui kemudian, ternyata, kosa kata “tuk pake” itu, ternyata, pada asalnya adalah: “tok faqir”.

Lha terus “tok faqir” itu apa?

Sepertinya, Wallahu a’lam, kosa kata “tok” itu berasal dari kata “datok”, yang berarti kakek: bapaknya ayah, atau bapaknya ibu.

Namun, dalam perkembangannya, kosa kata “tok” juga disematkan kepada siapa saja yang mempunyai kehormatan untuk dimuliakan sebagaimana memuliakan seorang kakek. Misalnya, kosa kata “tok” juga disematkan kepada seorang alim (ulama’). Dalam hal ini, mirip-mirip lah dengan penggunaan kosa kata “syekh” dalam bahasa Arab, di mana asal muasal kosa kata “syekh” disematkan kepada seorang lelaki yang sudah berumur (sudah tua), namun, dalam perkembangannya, kosa kata “syekh” juga disematkan kepada siapa saja yang mendapatkan kehormatan untuk dimuliakan sebagaimana memuliakan orang tua, karenanya, kosa kata “syekh” juga disematkan kepada seorang alim (ulama’). Ada mirip-mirip juga lah dengan kosa kata “kiyai” di Indonesia, terutama di Jawa.

Sedangkan kosa kata “pake”, pada asalnya adalah kosa kata “faqir“. namun, karena di negeri Melayu ini huruf “R” tidak dibunyikan, maka ia berubah menjadi: “pake”. Atau istilahnya: orang Melayu di sini menelan dan memakan huruf “R” ini, maka kosa kata “faqir” dibunyikannya menjadi “pake”.

Kosa kata “faqir” yang dibunyikan dengan: “pake” ini, memang, sebenarnya, ia menunjuk kepada seseorang yang tidak mempunyai kecukupan harta, sebagaimana pengertiannya dalam bahasa Arab, Indonesia dan juga Melayu.

Menariknya, jika gabungan kosa kata “tok” yang dibunyikan: “tuk” dan kosa kata “faqir” digabungkan, sehingga menjadi “tok faqir” dan yang dibunyikan: “tuk pake”, maka ia menunjuk kepada “kelas” masyarakat tertentu, dengan budaya tertentu, dengan pemikiran tertentu dan perilaku tertentu pula.

“Tuk pake”, di kawasan negeri Melayu sini, adalah kosa kata yang disematkan kepada seorang pelajar, yang menempuh pendidikan di pondok, untuk mengaji kitab kuning, kepada seorang ulama’, dengan mengedepankan kehidupan zuhud dan sederhana.

Jadi, “tuk pake” itu, dalam budaya di Indonesia, khususnya di Jawa, adalah santri, santri dalam persepsi dan pengertian tempo dulu.

Dandanan dan penampilan “tuk pake” pun deket-deket dengan dandanan dan penampilan santri: memakai kain sarung, baju gamis, sorban, dengan parfum nya yang khas, dan selalu memakai terompah (sandal).

Pekerjaannya sehari-hari adalah mengaji kitab-kitab kuning, semisalFathul Qarib dalam bidang fiqih, Aqidatul Awam dalam bidang aqidah, kitab-kitab nahwu dan shorof semisal Jurumiyah dan semacamnya, persis dengan yang dipelajari oleh para santri di Indonesia.

Life style mereka sehari-hari adalah  zuhud dan sederhana: pondok-pondok (asrama) mereka sederhana, makanan mereka sederhana, pakaian mereka sederhana, dan penampilan mereka pun sederhana dan bersahaja.

Mungkin karena kebersahajaan yang menjadi life style mereka inilah, maka disematkanlah kepada mereka label: “tok faqir” yang dibunyikan: “tuk pake”.

Ooalaaaaah…

sumber: http://tekad.id/2016/10/10/tuk-pake/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *