Tidak Jadi Masalah Serius

Piring-pecah

Cemburu, memang bisa berakibat “fatal” dan “serius”. Lebih-lebih lagi cemburu di antara sesama istri. Namun, jika suami pandai dalam bersikap, istilahnya: ihsan dalam bersikap, sesuatu yang diprediksi, diperkirakan dan dinilai “fatal” serta “serius”, bisa diselesaikan dengan mudah, bahkan dengan tersenyum.

Tersebutlah bahwa ummul mukminin Shofiyyah (RA) terkenal sebagai perempuan yang pandai membuat makanan. Dan kepandaian seperti ini terkadang justru menjadi sumber kecemburuan, terutama diantara sesama istri dari seorang lelaki. Apalagi jika faktor “pandai” memasak itu bergabung dengan faktor lainnya, misalnya: kecantikan, kepandaian, kepintaran dan lain sebaginya.

Dan “bahan bakar” kecemburuan itu akan semakin menguat lagi bila ditambah dengan faktor dan sebab lainnya. Misalnya saja, istri yang “pandai” membuat makanan itu mengirimkan hasil masakannya kepada suaminya selagi suaminya sedang berada di rumah istri yang lainnya, bisa berabe itu.

Kira-kira, suasana seperti itulah yang pernah terjadi di rumah ummul mukminin ‘Aisyah (RA), dimana pada suatu hari, selagi Rasulullah SAW sedang berada di rumah ummul mukminin ‘Aisyah (RA), tiba-tiba datang kiriman “masakan” dari ummul mukminin Shafiyyah (RA), padahal, bukankah ummul mukminin Shafiyyah (RA) terkenal dan populer sebagai perempuan yang jago “memasak” dan membuat makanan?!

Kontan saja karena terbakar oleh rasa cemburu, ummul mukminin ‘Aisyah (RA) langsung marah dan memukul piring yang berisi makanan atau masakan itu!! Dan seketika, makanan tumpah dan piring pun pecah.

Yang lebih “memperburuk” keadaan dan situasi, saat itu Rasulullah SAW sedang menerima beberapa sahabat beliau sebagai tamu!! Bayangkan saja, di hadapan para tamu, ummul mukminin ‘Aisyah (RA) marah besar, lalu memukul piring, sehingga makanan atau masakannya tumpah dan piring itu pun pecah!!! Tidak tanggung-tanggung…di hadapan para sahabat radhiyallahu ‘anhum?!!!

Hal ini jelas masalah yang “sangat fatal” dan “sangat serius”!!!

Bagaimana mungkin seorang istri nabi marah-marah sampai ke tingkat seperti itu??!!! Berantakin masakan atau makanan!!! Mecahin piring??!! Di hadapan para tamu?!! Udah gitu, makanan itu adalah makanan kiriman dan hadiah untuk Rasulullah SAW dan para tetamunya?!!

Namun, Rasulullah SAW adalah seorang nabi yang sangat mulia, sangat bijaksana, dapat menempatkan segala sesuatu secara proporsional dan pada tempatnya. Juga dapat bersikap dan bertindak secara hikmah, adil dan tepat, sehingga masalah yang sepertinya akan menjadi serius itu, berubah menjadi ringan saja dan bahkan berujung kepada sebuah senyuman, dari semua pihak, termasuk para tamu beliau SAW…

Terkait dengan hal ini, ummul mukminin ‘Aisyah (RA) dan Anas bin Malik (RA) bercerita:

(رواية أحمد): مَا رَأَيْتُ صَانِعَةَ طَعَامٍ مِثْلَ صَفِيَّةَ، أَهْدَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَاءً فِيهِ طَعَامٌ، فَمَا مَلَكْتُ نَفْسِي أَنْ كَسَرْتُهُ .. [25155]

وفي البخاري: فَسَقَطَتِ الصَّحْفَةُ فَانْفَلَقَتْ، فَجَمَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِلَقَ الصَّحْفَةِ، ثُمَّ جَعَلَ يَجْمَعُ فِيهَا الطَّعَامَ الَّذِي كَانَ فِي الصَّحْفَةِ، وَيَقُولُ: «غَارَتْ أُمُّكُمْ» ثُمَّ حَبَسَ الخَادِمَ حَتَّى أُتِيَ بِصَحْفَةٍ مِنْ عِنْدِ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا، فَدَفَعَ الصَّحْفَةَ الصَّحِيحَةَ إِلَى الَّتِي كُسِرَتْ صَحْفَتُهَا، وَأَمْسَكَ المَكْسُورَةَ فِي بَيْتِ الَّتِي كَسَرَتْ [5225]

Riwayat Ahmad: [‘Aisyah] berkata: “Saya tidak melihat perempuan yang pandai membuat makanan yang seperti Shafiyyah (RA), dia menghadiahkan kepada nabi SAW sebuah tempat yang di dalamnya terdapat makanan, maka saya tidak bisa mengendalikan nafsuku, seketika aku pecahkan tempat makanan itu … [25155].

Dalam riwayat Bukhari dari Anas (RA): .. maka jatuhlah piring itu dan terbelah, maka nabi SAW mengumpulkan pecahan-pecahan piring itu, kemudian memunguti makanan yang tadinya ada di dalam piring itu sambil bersabda: «Ibu kalian sedang cemburu», kemudian Rasulullah SAW menahan pembantu yang mengantarkan makanan itu sehingga beliau mengambil piring bagus dari rumah istri beliau di mana beliau sedang berada, lalu menyerahkan piring bagus itu kepada istri beliau yang lain yang piringnya dipecahkan tadi dan membiarkan piring yang pecah tetap berada di rumah istri beliau di mana beliau sedang berada [5225].

One Comment

  1. MasyaAllah….(al qudwah hasanah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *