Thulaihah bin Khuwailid RadhiyaLlahu ‘anhu (Bagian 3)

Bagian 3

Kembali kepada Islam

Tidak lama Thulaihah “bersembunyi” di keluarga Jafnah; penguasa di Syam pada saat itu. Ia pun kemudian memutuskan untuk kembali kepada Islam, kembali dalam arti yang sebenarnya. Ia pun menjadi seorang muslim yang baik. Maka ia pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah umrah. Hal ini terjadi masih pada masa kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Ia tidak “berani” ke Madinah untuk bertemu dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. bukan karena takut, akan tetapi, karena malu.

Pada masa kekhilafahan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Thulaihah bin Khuwailid pun pergi kembali ke Mekkah untuk menunaikan umrah atau haji. Di sana, ia bertemu dengan Umar bin al-Khaththab ra.

Umar berkata kepadanya: “Engkau kah yang telah membunuh dua lelaki mulia nan shalih: Tsabit bin Aqram al-Anshari dan ‘Ukasyah bin Mihshan al-Asadiy?”.

Thulaihah bin Khuwailid menjawab: Wahai amirul mukminin, Allah SWT telah memuliakan kedua orang mulia nan shalih itu gara-gara tangan saya” (maksudnya: keduanya mati syahid, kematian yang mendatangkan kemuliaan bagi keduanya), “dan keduanya tidak menghinakan diriku ini”. (maksudnya: kalau Thulaihah saat itu yang terbunuh, niscaya ia mati dalam keadaan murtad, dan neraka lah tempat baginya, tempat yang menginakannya).

Umar menjawab: “Kalau begitu, demi Allah, saya tidak akan mencintaimu selamanya”.

Maka Thulaihah menjawab: “Kalau engkau tidak bisa mencintaiku, maka perlakukanlah diriku secara baik nan indah wahai amirul mukminin, sebab, manusia tetap harus memperlakukan orang lain secara baik, meskipun hatinya dipenuhi oleh kebencian”.

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu sangat terkesan dengan jawaban Thulaihah itu, maka ia berpesan kepada para pemimpin Islam dan para panglima perang, agar mempergunakan “tenaga” dan “pikiran” serta kepiawaian Thulaihah, khususnya dalam urusan perang, dengan catatan, tidak memberi jabatan dan kedudukan apapun kepadanya.

Dan tepat sekali istruksi Umar bin al-Khaththab ra. itu, sebab, bukankah Thulaihah pernah mengaku sebagai nabi? Dan itu dikarenakan ia mencintai jabatan dan kedudukan?!

Setelah pertemuannya dengan Umar tersebut, Thulaihah kembali ke Syam dan bergabung dengan pasukan Islam di sana yang sedang berprang di Yarmuk, bergabung sebagai mujahid muslim mukmin.

Lalu, ia pun pergi ke Iraq untuk bergabung dengan kaumnya Bani Asad di satu sisi, dan bersama Bani Asad bertempur melawan pasukan Persia di sana.

Karenanya, sebagian ulama’ mensifatinya dengan istilah al-bathal al-karrar, seorang jagoan yang come back, pahlawan yang kembali ke medan laga untuk membela Islam dan kaum muslimin.

Sungguh, kembali ke pangkuan Islam dengan kembali yang lebih baik, semoga Allah SWT meridhaimu wahai Thulaihah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *