Thulaihah bin Khuwailid RadhiyaLlahu ‘anhu (Bagian 2)

Bagian 2

Islam, Murtad dan Mengaku Sebagai Nabi

Thulaihah dan Islam

Thulaihah bin Khuwailid al-Asadiy, termasuk tentara yang bergabung dengan al-Ahzab; sebuah pasukan koalisi yang mengepung dan berusaha menggempur kota Madinah, kota Islam, kota Rasulullah SAW.

Al-Ahzab adalah gabungan berbagai kekuatan penentang Islam. Atas prakarsa kaum Yahudi, pasukan koalisi anti Islam ini terbentuk. Tidak tanggung-tanggung, 10.000 (sepuluh ribu) pasukan mendatangi, mengepung dan berusaha menggempur pertahanan Islam di Madinah, sementara kaum muslimin bertahan dengan membuat “benteng” parit yang dalam bahasa Arab disebut Khandaq, karenanya perang ini juga disebut perang Khandaq.

Saat itu, Thulaihah bin Khuwailid berada dalam pasukan koalisi anti Islam itu, sebab saat itu dia masih kafir, masih musyrik, belum masuk Islam.

ini peristiwa yang terjadi pada tahun 5 hijriyah.

Pada tahun 9 hijriyah, saat banyak suku-suku di semenanjung Arabia berbondong-bondong datang ke Madinah untuk memeluk Islam, Bani Asad; sukunya Thulaihah, termasuk yang datang ke Madinah dan menyatakan masuk Islam.

Diantara rombongan (wafd) Bani Asad yang datang saat itu adalah Hadhramiy bin ‘Amir, Dhirar bin al-Azur, Wabishah bin Ma’bad, Qatadah bin al-Qaif, Salamah bin Hubaisy, Thulaihah bin Khuwailid, Nufadah bin Abdullah bin Khalaf.

Jadi, Thulaihah bin Khuwailid masuk Islam pada tahun 9 H.

Thulaihah Murtad dan Mengaku Sebagai Nabi

Namun, setelah beberapa lama Thulaihah bin Khuwailid di kampung halamannya, ia menyatakan keluar dari Islam. Bahkan ia mengaku sebagai seorang nabi.

Mendengar berita itu, Rasulullah SAW mengutus Dhirar bin al-Azur untuk memerangi Thulaihah dan juga memerangi siapa saja yang mentaatinya. Pasukan ini belum menjalankan tugasnya, Rasulullah SAW keburu wafat. Maka “urusan” dan posisi Thulaihah menjadi semakin kuat dan kokoh.

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, sebagai khalifah Rasulullah SAW mengutus sepasukan perang dipimpin oleh Khalid bin al-Walid untuk menghadapi Thulaihah bin Khuwailid.

Sebelum terjadi perang, Khalid bin al-Walid mengutus Tsabit bin Aqram al-Anshari al-‘Ajlani al-Badri  dan ‘Ukasyah bin Mihshan al-Asadiy, al-Badri radhiyallahu ‘anhuma. Namun keduanya dibunuh oleh Thulaihah bin Khuwailid dan oleh saudaranya. Maka Khalid bin al-Walid menyerang memerangi mereka.

Khalid bin al-Walid dapat mematahkan perlawanan Thulaihah dan menjadikan pasukannya kocar kacir, dan Thulaihah sendiri kemudian melarikan diri dengan membawa istrinya, menjauh menuju Syam dan bergabung dengan keluarga Jafnah, keluarga Bani Ghassan yang berkuasa di sana.

Saat itu, Thulaihah sempat diledek oleh ‘Uyainah bin Hushn yang berkata kepadanya: “malaikat Jibril-mu ke mena? Kok tidak membantumu? Sungguh, ia telah meninggalkanmu di saat kamu sangat memerlukan bantuannya?!”. Maka Thulaihah menjawab: “Silahkan kalian berperang demi membela harga diri kalian, tentang agama, tidak ada agama!!”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *