THAHÂRAH ATAU NAZHÂFAH

Prolog

Ada pernyataan yang sudah sangat populer di tengah masyarakat, namun sebenarnya ia masih perlu mendapatkan pencermatan, yaitu pernyataan: اَلنَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ atau “kebersihan bagian dari keimanan”. Sedemikian populernya, sehingga pernyataan ini bisa diketemukan dalam berbagai media penyiaran: baliho, baik cetak maupun elektronik, pamplet, poster, stiker dan bahkan iklan layanan masyarakat di media cetak, maupun elektronik. Lebih serunya lagi, banyak juga juru dakwah, pengkhutbah atau pemberi kultum, atau sambutan-sambutan dari para pejabat yang mengutip pernyataan ini dan menjadikannya sebagai dalil.

Benarkah pernyataan ini merupakan sebuah hadits nabi Muhammad SAW? Atau dengan redaksi lain, benarkah nabi Muhammad SAW pernah bersabda demikian?

Kenapa di dalam kitab-kitab agama lebih dikenal istilah thahârah daripada nazhâfah? Apa perbedaan antara thahârah dan nazhâfah?

Tulisan ini mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, semoga dapat memberi penerangan dan penjelasan, amin.

Redaksi Hadits yang Shahih

Hasil penelusuran Ilmu Hadits terhadap pernyataan: اَلنَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ atau “kebersihan bagian dari keimanan” menemukan bahwa redaksi yang berbunyi: اَلنَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ atau “kebersihan bagian dari keimanan” tidak lah merupakan hadits nabi. Dalam kalimat lain: nabi Muhammad SAW tidak pernah bersabda dengan redaksi: اَلنَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ atau “kebersihan bagian dari keimanan”.

Namun, beliau SAW pernah bersabda: اَلطُّهُوْرُ شَطْرُ الْإِيْمَانِ atau “kesucian itu separuh keimanan”.

Redaksi terakhir ini merupakan penggalan atau potongan dari hadits shahih yang lengkapnya adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : «الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآَنِ – أَوْ تَمْلَأُ – مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَالصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ، كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا» (روواه مسلم [223]).

Dari Abu Malik al-Asy’ari (RA) ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Kesucian itu separuh keimanan, ucapan: ‘alhamdulillah’ memenuhi timbangan, ucapan: ‘sub-hanallah walhamdulillah’ keduanya memenuhi – atau: memenuhi – antara langit dan bumi, shalat itu cahaya, sedekah itu bukti, kesabaran itu sorot sinar, Al-Qur’an itu hujjah yang menguntungkanmu atau merugikanmu dan semua orang memasuki pagi harinya lalu menjual dirinya, lalu ia membebaskannya atau membinasakannya”. (H.R. Muslim [223]).

Beberapa Perbedaan Antara Dua Redaksi Pernyataan

Ada beberapa perbedaan antara redaksi thahârah dan nazhâfah, diantaranya:

  1. Dalam hadits shahih, kosa kata yang dipergunakan adalah kosa kata thahârah, sedangkan kosa kata yang populer adalah nazhâfah. Thahârah berarsi suci, atau kesucian. Sedangkan nazhâfah berarti bersih, atau kebersihan.
  2. Dalam hadits shahih, kosa kata yang dipergunakan adalah syathr yang berarti separuh, atau setengah belahan, sedangkan dalam redaksi yang populer, kosa kata yang dipergunakan adalah min yang berarti sebagian, bisa sebagian kecil, meskipun bisa juga berarti sebagian besar.
  3. Dalam terminologi Islam, ada perbedaan antara “bersih” dan “suci”, sebab, tidak semua yang bersih adalah suci, meskipun, terkadang, dalam skala kecil, yang suci pun terkadang dianggap tidak bersih. (dalam penjelasan lanjutan, akan semakin jelas perbedaannya, insyaAllah).
  4. Secara makna, kata syathr menunjuk kepada sesuatu yang bulat, lalu dibelah persis pada posisi di tengah-tengahnya. Hasil dari pembelahan ini, masing-masingnya disebut syathr. Jadi, dalam redaksi: “kesucian itu separuh keimanan” maknanya, iman itu dianggap sebagai benda yang nilainya 100 %, lalu dibelah menjadi dua bagian 50 % nya adalah hal-hal yang berkenaan dengan kesucian, sedangkan yang 50 % sisanya, insyaAllah merupakan hal-hal yang bersifat menghiasi atau mengisi. (lihat: Bahjat Qulub al-abrar wa qurratu uyunil akhyar fi syarhi jawami’il akhbar, karya: Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di [w. 1376 H], hal. 61, dengan bahasa yang berbeda).

Jadi keimanan itu 50 % nya mensucikan atau mengosongkan. Istilahnya adalah takhliyah (تخلية) dan 50 % lagi adalah menghiasi atau mengisi, istilahnya tahliyah (تحلية). (lihat: Syarhul Arba’in an-Nawawiyah, karya: Ibn Utsaimin  [w. 1421 H], hal. 220).

Sedangkan kosa kata “min” yang berarti sebagian, ia tidak secara pasti menunjuk kepada nilai 50 % dari sesuatu, sebab, nol koma satu (0,1) pun bisa disebut sebagian, meskipun 99 % pun juga bisa disebut sebagian.

Nazhâfah Bersifat Lahiriyah, Thaharah Lahir & Bathin

Kosa kata nazhâfah lebih mengarah kepada hal-hal yang bersifat lahiriyah, tampak dan kasat mata, sedangkan kosa kata suci, pemaknaannya bisa sangat luas dan mendalam, mencakup aspek lahir yang tampak dan kasat mata, dan juga mencakup aspek bathin yang tidak tampak dan tidak kasat mata. (lihat: Mu’jamul Furuq al-Lughawiyyah, karya: al-‘Askari [w. 395 H], hal. 339).

Cakupan Makna Thaharah

Kosa kata thahârah dalam terminologi Islam mencakup hal-hal sebagai berikut:

  1. Thahârah dari segala bentuk kemusyrikan, sebab, dalam pandangan Islam, patung-patung, berhala dan segala bentuk penyembahan kepada selain Allah SWT itu terhitung sebagai rijsun (رجس) di mana orang beriman diwajibkan menjauhinya (Q.S. Al-Maidah: 90), (Q.S. Al-A’raf: 70 – 71), sama rijs-nya dengan bangkai, darah dan daging babi (Q.S. Al-An’am: 145).
  2. Thahârah dari segala bentuk kemunafikan, karenanya, pada akhirnya, Rasulullah SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk berpaling dari orang-orang munafik, alasan Allah SWT adalah karena mereka itu rijsun (Q.S. At-Taubah: 95).
  3. Thahârah dari segala sifat dan akhlaq tercela, seperti: hasad (iri), hiqd (dengki) dan semacamnya. Sebab, sifat-sifat tercela ini menjadikan hati manusia berpenyakitan (في قلوبهم مرض) serta perlu mendapatkan tazkiyah (proses penyucian).
  4. Thahârah dari segala bentuk dosa dan maksiat, karenanya, kaum nabi Luth bermaksud mengusir nabi Luth (AS), alasan mereka, karena nabi Luth (AS) tidak mau berbuat dosa bersama mereka. Istilahnya: innahum unasun yatathahharun (Q.S. Al-A’raf: 82) (Q.S. An-Naml: 56).
  5. Thahârah dari hal-hal yang membuat hati “ngeres” dikarenakan urusan syahwat, khususnya syahwat kemaluan. Sebagaimana diceritakan tentang orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, baik dikarenakan oleh syubhat maupun oleh syahwat, maka Allah SWT semakin tambahkan kepada mereka rijsan ila rijsihim (Q.S. At-Taubah: 125).
  6. Thahârah dari segala hadats, baik hadats kecil maupun hadast Dalam pandangan Islam, orang yang junub, meskipun kelihatan bersih, ia tidak lah suci, karenanya, kalua hendak shalat, mestilah ia mandi terlebih dahulu. Begitu juga dengan orang yang kentut, dalam pandangan Islam, ia bukanlah orang yang “suci”, meskipun dalam keadaan “sangat bersih”, karenanya, kalua hendak shalat, mestilah ia berwudhu.
  7. Thahârah dari segala bentuk najis, baik yang tidak tampak (najis hukmi) maupun yang tampak (najis ‘aini).
  8. Thahârah dari segala bentuk kotoran dan debu, meskipun kotoran dan debu itu tidak najis, karenanya, Islam mengajarkan agar palingg tidak, atau minimal, seorang muslim mencuci kepalanya satu kali dalam setiap Jum’at, agar kepalanya itu bersih dan tentunya suci.
  9. Thahârah dalam Islam bahkan mencakup juga sunanul fithrah (sunnah-sunnah kesucian fithrah), yang diantaranya memotong kuku, mencabuti bulu ketiak dan semacamnya.

Jadi, terminologi Thahârah dalam Islam pengertiannya sangat luas, namun, dalam keluasan pengertian, makna dan cakupannya, semua bersifat takhliyah (pembersihan, penyucian dan pengosongan), karenanya, ia disebut sebagai syathrul iman (separuh keimanan), di mana yang separuhnya lagi bersifat tahliyah (menghiasi atau mengisi), sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Karena keluasa cakupan, makna dan pengertian thahârah inilah, redaksi yang tersebut dalam hadits shahih, yaitu الطهور شطر الإيمان atau “kesucian adalah separuh keimanan”, maknanya jauh lebih mendalam dibandingkan dengan redaksi yang sudah sangat populis: النظافة من الإيمان atau “Kebersihan sebagian daripada iman”, sebab, terminologi nazhâfah makna, cakupan dan pengertiannya tidaklah sedalam makna, cakupan dan pengertian thahârah.

Wallahu A’lam

Semoga ada manfaatnya, amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *