Tangisan Imam Nawawi

Al-kisah …

Pada suatu hari, Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi (631 – 676 H = 1233 – 1277 M), atau biasa dikenal dengan Imam Nawawi, sedang menyampaikan pelajaran rutinnya kepada para murid beliau.

Saat pelajaran sampai kepada firman Allah SWT:

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ . وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ [الحجر: 49 – 50]

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku lah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih. (Q.S. Al-Hijir: 49 – 50).

Pada saat pelajaran sampai pada dua ayat ini, sang Imam yang menjadi penulis kitab Arba’in dan Riyadhush-Shalihin dan kitab-kitab lainnya ini menangis. Bukan tangisan biasa, namun, tangisan yang sangat kuat dan mendalam.

Setelah tangisan beliau agak reda, para murid beliau bertanya: “Apa gerangan yang membuat sang imam menangis sedemikian rupa?”.

Maka imam penyusun syarah shahih Muslim itu menjawab: “Tidak kah kalian perhatikan dengan seksama, betapa agung, besar dan luasnya pengampunan dan rahmat Allah SWT?!”.

“Tidak kah kalian perhatikan bahwa saat Allah SWT menjelaskan tentang pengampunan dan rahmat-Nya, Allah SWT berfirman: أَنِّيْ أَنَا الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ”.

“Coba kalian perhatikan dengan seksama:

Pertama: Allah SWT menjelaskannya dalam bentuk jumlah ismiyah, yang menunjukkan makna dan konotasi istimrar (kontinyu dan berkesinambungan).

Kedua: Allah SWT memulainya dengan kata أَنَّ yang menunjukkan taukid atau penegasan terhadap suatu informasi atau kabar, agar hilang dan sirna segala bentuk sangsi dan keraguan.

Ketiga: Allah SWT menguatkannya sekali lagi dengan kata أَنَا sebagai bentuk penegas dan penguat terhadap dhamir ya’ mutakallim yang menjadi isim أَنَّ

Keempat, dan ini yang paling penting, yang berbeda dengan saat menjelaskan tentang adzab-Nya pada ayat 50.

Perhatikan dengan baik dan dengan seksama hal ini, di mana Allah SWT menisbatkan pengampunan dan rahmat-Nya kepada Dzat-Nya, kepada Diri-Nya sendiri, hal yang menunjukkan bahwa memberi pengampunan dan memberi rahmat merupakan sesuatu yang Dzatiy, yang menyatu dengan Dzat Allah SWT, seakan Allah SWT hendak menjelaskan bahwa Dzat yang memberi pengampunan dalam arti yang sebenarnya adalah Allah SWT, dan Dzat yang memberi rahmat dalam arti yang sebenarnya adalah Allah SWT, dan pengampunan dan rahmat itu menyatu dengan Dzat Allah SWT.

Sementara, saat menjelaskan tentang adzab-Nya, Allah SWT menjadikan adzab itu sebagai “mamluk”, sebagai sesuatu yang dimiliki oleh Allah SWT dan tidak menyatu dengan Dzat-Nya, sebab ayatnya menyatakan: وَأَنَّ عَذَابِيْ dan bahwasanya adzab-Ku, dan Allah SWT tidak berfirman: إِنِّيْ أَنَا الْمُعَذِّبُ”.

Kata Imam penyusun kitab Al-Majmu’ ini selanjutnya: “Saat aku menghayati makna-makna ini, saya teringat kepada perkataan Ibnu Abbas (RA) yang menyatakan: ‘Sesungguhnya, Allah SWT akan menurunkan boooanyak sekali rahmat-Nya pada hari kiamat, sampai-sampai Iblis pun berprasangka bahwa dia akan mendapatkan pengampunan Allah SWT”. (end)

Ya Allah…

Berikanlah kepada kami, orang tua kami, anak-anak kami, saudara-saudara kami, ikhwan dan akhawat kami taufik, hidayah dan ri’ayah-Mu, agar kami tercakup dalam pengampunan dan rahmat-Mu, amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *