Sya’ban dan Perpindahan Kiblat

sya'ban

Menurut satu pendapat, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir (701- 774 H = 1302 – 1373 M) – rahimahullah – perpindahan kiblat dari al-Masjidil Aqsha ke al-Masjidil Haram, terjadi pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 2 hijriyah (al-Bidayah wan-Nihayah [3/308]}.

Yang menarik untuk dicatat pada peristiwa ini (dan semua peristiwa sirah nabi Muhammad SAW adalah menarik untuk dicatat) adalah bahwa gara-gara peristiwa ini terjadilah hal-hal yang “luar biasa”, baik di internal kaum muslimin, maupun di luar kaum muslimin.

Terkait dengan hal ini, Ibnu Dihyah al-Kalbi (544 – 633 H = 1150 – 1236 M) berkata:

وَفِي النِّصْفِ مِنْهُ (أي: مِنَ شَعْبَانَ) حُوِّلَتِ الْقِبْلَةُ مِنَ الْمَسْجِدِ الأَقْصَى إِلَى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الْمَحْفُوفِ بِالرَّحْمَةِ وَالْغُفْرَانِ، فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى الْيَهُودِ وَعُبَّادِ الصُّلْبَانِ وَالأَوْثَانِ، وَجَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِعْلاءِ كَلِمَةِ اللَّهِ غَيْرُ مُقَصِّرٍ وَلا وَانِ.

Dan pada pertengahan bulan Sya’ban, kiblat dipindahkan dari al-Masjidil Aqsha ke al-Masjidil Haram, sebuah masjid yang dikelilingi oleh rahmat dan pengampunan. Perpindahan kiblat ini dirasakan berat oleh Yahudi, para penyembah salib dan para penyembah patung. Sementara Rasulullah SAW semakin bersungguh-sungguh dalam meninggikan kalimat Allah SWT dengan tanpa melemah dan tanpa ogah-ogahan.

[dikutip dari kitab: Ma Wadhaha Wastabana fi Fadhaili Syahri Sya’ban, hal. 12).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *