Sumur dan Kera

قصص وعبر

Al-Kisah, tersebutlah di suatu desa di mana mereka mengandalkan keperluan air untuk MCK (Mandi Cuci Kakus) nya kepada satu sumur yang ada di pinggiran desa itu, meskipun sumur tersebut dikenal sangat dalam dan gelap, sehingga tidak tampak bagian bawahnya.

Namun, sesuatu terjadi pada sumur tersebut, di mana, setiap kali ada seorang penduduk menurunkan embernya ke dalam sumur itu untuk mengambil air, tali ember itu kembali tanpa ember.

Berkali-kali upaya mengambil air dilakukan dengan cara seperti itu, dan selalu, ember itu hilang seakan ditelan oleh sumur tersebut.

Tentu saja peristiwa-peristiwa ini mengherankan penduduk desa, membuat mereka menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi dengan ember-ember itu dan bahkan mulai tersebar isu bahwa sumur itu mulai dihuni oleh jin atau syetan yang memutus tali ember dan “memakan” ember-ember itu??!!

Meskipun demikian, mereka melangsungkan sebuah rapat yang keputusannya: perlu ada seseorang yang masuk ke dalam sumur yang dalam nan gelap itu dan mengetahui apa yang terjadi pada sumur tersebut, sebab, keperluan MCK mereka “hanya” bergantung kepada sumur tersebut.

Repotnya, hampir tidak ada seorang pun yang rela “berkorban” untuk satu urusan yang sangat pelik itu, mengingat ada kemungkinan jin atau syetan yang akan “memakan” siapa saja yang mencoba masuk dan menyelidiki sumur itu, betapa tidak takut, ember saja “dimakan”, apalagi manusia!!!??

Sampai akhirnya, muncullah seorang pemuda perkasa dari desa itu yang menyatakan berani untuk menjalankan tugas mulia penuh tantangan tersebut, namun, ia menuntut dipenuhinya beberapa syarat, yaitu:

  1. Hendaklah disiapkan tali yang sangat kuat yang jauh lebih kuat dan lebih besar daripada tali ember pada umumnya, sebab ia akan memasuki sumur itu dalam keadaan diikat pada tali tersebut.
  2. Hendaklah tali yang sangat kuat itu diikatkan pada sebuah pohon yang sangat kokoh nan kuat.
  3. Hendaklah tali itu dipegang oleh saudara lelakinya, dan saudara lelaki ini berjanji bahwa apa pun yang akan terjadi, ia tetap akan setia memegangi tali itu.

Penduduk desa itu agak keheranan dengan syarat-syarat itu, meskipun mereka menerima dan berjanji untuk memenuhinya, sebab, dalam pikiran mereka, mereka, para lelaki di desa itu, adalah orang-orang yang sangat kuat dan gagah, kenapa mesti masih ada syarat-syarat tersebut.

Setelah mereka mendapatkan tali yang besar dan sangat kuat, diikatlah pemuda perkasa itu, dan lalu mereka ikatkan satu ujung tali pada sebuah pohon, dan mereka pun dengan “gagah” memegangi tali itu dan memasukkan pemuda “relawan” itu ke dalam sumur, dan terutama, yang berada pada posisi terdepan pemegang tali itu adalah saudara lelakinya yang telah melakukan janji setia khusus untuk urusan dan tugas mulia tersebut.

Setelah pemuda perkasa itu berada di dalam sumur, tahulah ia bahwa di dalam sumur itu ternyata terdapat seeker kera yang entah bagaimana ceritanya bisa berada di dalam sumur itu. Maka pemuda perkasa itu lalu meletakkan ember-ember yang pernah direnggut putus oleh kera itu di atas kepalanya, lalu pemuda perkasa itu membimbing kera tersebut untuk merambat naik ke atas sumur, sementara dia sendiri masih “menunggu” di bawah.

Begitu banyak ember muncul dari dalam sumur itu, karena pemandangannya yang sangat aneh, kontan saja seluruh penduduk desa itu lari tunggang langgang, karena mengira bahwa jin atau syetan yang selama ini “memakan” ember-ember mereka telah muncul ke permukaan, dan jin atau syetan itu juga telah “memakan” pemuda “relawan” mereka!!!??? Satu-satunya orang yang tidak lari dan tetap setia memegangi tali itu adalah saudaranya yang telah berjanji setia untuk tetap memegangi tali, apa pun yang terjadi.

Setelah kera dan ember-ember itu sukses keluar dari sumur, pemuda “pahlawan” penduduk kampong itu pun kemudan berteriak kepada saudaranya untuk menarik tali dan dirinya dari dalam sumur, sehingga pemuda gagah perkasa itu pun juga berhasil keluar dari dalam sumur andalan MCK penduduk desa itu.

Inilah kisah yang menggambarkan betapa penting dan strategisnya:

  1. Persaudaraan yang sebenar-benarnya, persaudaraan yang tidak basa-basi, persaudaraan yang haqq.
  2. Pemenuhan dan kesetiaan kepada janji setia, apa pun yang terjadi.
  3. Mempersiapkan segala kemungkinan dan antisipasi dan prediksi terhadap segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.
  4. Jiwa kepeloporan dan kepahlawanan dengan seluruh tuntutan dan konsekwensi dari kepeloporan dan kepahlawanan itu, utamanya spirit berkorban dan bertadh-hiyah.

Sekaligus juga menggambarkan betapa buruk dan negatifnya:

  1. Mengembangkan segala bentuk takhayyul dan khurafat, dan
  2. Ketidak setiaan terhadap persaudaraan yang dilakonkan oleh kebanyakan penduduk desa itu.

Semoga Allah SWT berikan taufik, hidayah dan kekuatan kepada kita untuk menjadi orang-orang yang setia kepada janji-janjinya, memiliki jiwa kepeloporan dan spirit berkurban, amin.

One Comment

  1. good story

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *