Siapa Sangka?

Pengantar

Adalah Syekh Abdurrahman As-Sumaith, seorang dokter dari Kuwait, dan seorang aktifis dakwah yang telah mewakafkan dirinya untuk berdakwah di Afrika.

Dengan perantaraan beliau ada lebih dari 13 juta orang Afrika telah memeluk Islam, bayangkan betapa besar dan agung kerja, amal dan pahala beliau!! Allahu Akbar!!

Belum lagi kalau kita hitung juga, berapa orang yang memeluk Islam melalui orang yang telah memeluk Islam melalui perantaraa beliau!! Allahu Akbar!!

Menariknya lagi adalah bahwa beliau rela meninggalkan negeri petro dollar; Kuwait yang maju, makmur, gemah ripah loh jinawi, untuk berdakwah memasuki pedalaman-pedalaman Afrika yang sangat miskin, sangat terbelakang, dan banyak penyakit!!

Lebih menarik lagi, semua itu beliau lakukan dengan tanpa hingar bingar dan gegap gempita media, baik media mainstream maupun media social!! Semoga hal ini menjadi indikasi keikhlasan beliau – rahimahullah –

Tidak Pernah Menduga Sama Sekali …

Diantara kisah dan pengalaman beliau – rahimahullah – dalam berdakwah di Afrika, adalah kisah beliau berikut ini:

Pada suatu hati, saya berdiri terdiam mendengarkan tangis seorang perempuan Afrika dan sesenggukannya, ia menangis merengek-rengek kepada salah seorang dokter yang bekerja untuk mengobati anak-anak Afrika yang berpenyakitan dan merawat mereka.

Memperhatikan tangisan dan rengekannya, saya sangat terpengaruh, sebab ia begitu nekad dan ngeyel agar anaknya bisa diterima untuk diobati dan dimasukkan ke dalam golongan yang akan mendapatkan perawatan secara khusus.

Oleh karena itu, saya berkata kepada sang dokter itu: “Kenapa si ibu ini kok begitu nekad dan ngeyel agar anaknya diobati dan dimasukkan ke dalam golongan yang mendapatkan perawatan khusus, dan kenapa pula engkau sepertinya keberatan untuk memenuhi rengekan ibu ini?!”.

Sang dokter menjelaskan:

  • Pertama, jumlah anak yang harus diobai dan harus mendapatkan perawatan, terlalu banyak.
  • Kedua, anggaran yang ada pada kami tidak cukup untuk merawat seluruh anak yang dibawa ke sini.
  • Ketiga, anak si ibu ini, masih dalam usia menyusui, dan menurut kalkulasi kami, anak si ibu ini, sekarang memang masih berstatus hidup, akan tetapi, menurut sudut pandang ilmu kedokteran, ia sudah bisa dikatakan telah meninggal dunia!! Karenanya, kami merasa kalau harus mengeluarkan anggaran untuk anak ini, maka bisa dikatakan bahwa penggunaan anggaran untuknya, bisa dianggap penggunaan yang sia-sia??!! Sebab, anak si ibu ini, mungkin hanya akan hidup beberapa hari lagi saja!! Karenanya, alangkah baiknya, kalau anggaran yang sangat terbatas ini, dipergunakan untuk anak yang lainnya!!

Dokter As-Sumaith melanjutkan ceritanya:

Saat saya berdialog dengan sang dokter itu, si ibu tidak pernah melepaskan pandangannya kepada saya, pandangan memelas dan sekaligus berharap.

Maka, saya pun berkata kepada penerjemah: tolong tanyakan kepada ibu itu, berapa harta yang diperlukannya untuk merawat anaknya perharinya?

Maka si ibu itu pun menjelaskan anggaran yang diperlukannya untuk merawat anaknya untuk setiap harinya, dan ternyata… anggaran itu, kalau di Kuwait, hanyalah senilai satu botol soft drink saja!!

Maka saya pun berkata kepada sang dokter: “Biarlah urusan anggaran ibu ini saya yang menanggungnya secara pribadi! Dari kantongku sendiri, agar tidak membebani anggaran lembaga!

Lalu akupun menenangkan si ibu itu dan menyerahkan uang saya kepadanya.

Saking girangnya, sambil menerima uang itu, si ibu itu hendak mencium tangan saya, maka saya pun mencegahnya, kata dokter As-Sumaith. Lalu, akupun berkata kepada si ibu itu: “Saya berkomitmen untuk memberikan anggaran untuk perawatan anak ibu selama satu tahun ke depan, dan silahkan nanti, kalau ibu perlu, silahkan datang ke lembaga sini!”.

Lalu, saya pun menuliskan di atas lembaran cek, uang yang diperlukan untuk ibu itu selama satu tahun, dan berpesan kepada lembaga, agar hal ini diurus dengan baik.

Dokter As-Sumaith melanjutkan ceritanya:

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, dan saya pun telah melupakan peristiwa itu, karena, saya pun berpandangan bahwa anak si ibu itu kemungkinan besar sudah meninggal dunia!! Semua yang aku lakukan, hanyalah untuk menenangkan sang ibu yang mengiba dan menangis sedemikian rupa itu! Terlebih setelah saya mengetahui bahwa si ibu itu adalah seorang muslimah baru, muallaf lah istilahnya!!

Sampai akhirnya, setelah peristiwa itu berlalu 12 tahun, dan saya sedang berada di lembaga yang saya pimpin itu, tiba-tiba, salah seorang pegawai saya memberitahu kepada saya bahwa ada seorang ibu yang memaksa agar ia diperkenankan untuk bertemu dengan saya, dan bahwasanya, si ibu itu telah beberapa kali datang ke lembaga ini untuk keperluan bertemu dengan saya!!

Maka, saya pun berkata kepada sang pegawai: “bawa masuk dia”!

Maka masuklah seorang ibu yang saya tidak mengenalnya, bersamanya ada seorang anak lelaki berusia 14 tahunan, wajahnya bersih dan berseri, pembawaannya sopan dan tenang.

Si ibu itu berkata: Ini adalah anak saya, Namanya Abdurrahman, sama namai dia dengan nama yang sama dengan nama tuan. Alhamdulillah ia telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Ia juga telah menghafal banyak hadits nabi. Sengaja ia saya bawa ke sini dengan harapan agar tuan mau menerimanya sebagai anggota korp juru dakwah yang tuan pimpin!

Dokter Abdurrahman As-Sumaith bertanya: “Kenapa ibu mempunyai keinginan kuat agar saya menerimanya sebagai anggota korps juru dakwah di lembaga saya?”. Dan di dalam hati, saya pun bertanya-tanya, dan saya pun tidak segera menemukan jawaban atas pertanyaan saya sendiri itu!!

Dan ternyata, anak remaja itu kemudian berkata kepada saya dalam Bahasa Arab dengan sangat tenang namun mantab, yang maknanya adalah: “Kalau saja bukan karena Islam dan rahmat Islam, mungkin saja saya telah meninggal dunia semenjak 12 tahun yang lalu yang tidak mungkin hari ini berdiri di hadapan tuan, sebab ibuku ini telah menceritakan kepada saya tentang apa yang telah tuan perbuat kepada saya dan ibu saya 12 tahun yang lalu. Oleh karena itu, saya ingin berada d bawah kepemimpinan tuan, menjadi juru dakwah di Afrika ini, alhamdulillah saya bisa berbahasa Afrika dengan sangat baik, saya tidak akan meminta apa-apa dari tuan, selain cukup untuk makan saja. Dan sekarang ini, saya ingin memperdengarkan kepada tuan bacaan Al-Qur’an saya.

Sang anak itu pun langsung memperdengarkan kepada saya bacaan surat Al-Baqarah dengan suaranya yang tenang, merdu dan berkesan mendalam, sambil kedua matanya melelehkan air mata penuh pengharapan agar “lamaran”-nya bisa saya terima!!

Saat itulah saya teringat kepada peristiwa 12 tahun yang lalu, maka saya pun bertanya kepada si ibu: “Inikah anak ibu yang dulu ditolah untuk mendapatkan perawatan khusus?”.

Dia menjawab: “ya, dan saya beri nama, seperti nama tuan, Abdurrahman”!

Demi mendengar penjelasan itu, kedua kakiku, di mana saat itu saya dalam keadaan berdirim, tidak mampu lagi menopang tubuhku, tubuhku pun terasa lumpuh saking terkejut dan gembira di saat yang bersamaan, maka akupun bersujud kepada Allah sebagai wujud rasa syukur yang tiada terkira, sambil terus saya bergumam dalam hati: “uang seharga soft drink bisa melahirkn seorang juru dakwah yang sedemikian rupa?!!!

Dan di kemudian hari, sang anak itu telah menjadi seorang juru dakwah yang sangat handal di pedalaman-pedalaman Afrika!! Allahu Akbar!!

Dokter Abdurrahman As-Sumaith berkata:

Betapa indahnya syurga Allah SWT!

Betapa mudahnya taqarrub (upaya pendekatan) kepada Allah SWT!

Betapa, sedekah yang “sangat sedikit”, telah mampu mengubah kehidupan banyak orang dan menjadikan mereka sebagai manusia-manusia yang berbahagia dunia dan akhirat!!

Dan betapa meruginya kita saat membuang-buang harta tanpa manfaat yang jelas, dan bahkan tanpa tujuan yang jelas!!

Semoga kita bisa mengambil ibroh dan isnpirasi terbaik dari kisah ini, amin.

One Comment

  1. masyaAllah ustadz… sungguh kisah yang penuh inspirasi.. jazakallahu khairan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *