Sejarah Kalimat Marhaban wa Ahlan

ahlan09

Yang Pertama Mengucapkannya

Menurut Abu Hilal al-‘Askari (wafat setelah tahun 395 H = setelah tahun 1005 M), sebagaimana disebutkan dalam salah satu kitab-nya: al-Awa-il (الأوائل), yang pertama kali mengucapkan kata sambutan “Marhaban wa Ahlan (مَرْحَبًا وَأَهْلًا)” adalah Saif bin Dzi Yazan al-Himyari.

Hal ini dapat dilihat di kitab al-Awa-il halaman 86.

Saif bin Dzi Yazan al-Himyari sendiri adalah salah seorang raja Yaman, hidup sekitar tahun 110 – 50 sebelum hijrah nabi Muhammad SAW, atau sekitar tahun 516 – 574 M.

Dia adalah raja Yaman yang berhasil mengakhiri kekuasaan orang-orang Habasyah (Ethiopia) yang sempat berkuasa di Yaman, dan dia berhasil mengalahkan Masruq bin Abrahah al-Asyram, atau putera Abrahah al-Asyram.

Abrahah al-Asyram sendiri adalah seseorang yang sangat terkenal, sebab, dialah raja yang pernah membentuk pasukan besar untuk menghancurkan Ka’bah, yang diantara pasukannya terdapat pasukan gajah, sehingga dikenal sebagai pasukan gajah atau ash-habul fil, yang peristiwanya diabadikan dalam Al-Qur’an Al-Karim dalam surat Al-Fil, surat yang ke-105 dalam urutan mush-haf Al-Qur’an.

Cerita Marhaban wa Ahlan

Setelah Saif bin Dzi Yazan berhasil membunuh putera Abrahah yang berkuasa di Yaman, dan dia kembali menempati kedudukannya sebagai raja Yaman, maka banyak sekali tokoh-tokoh dan suku-suku bangsa Arab yang datang kepada Saif untuk memberikan ucapan selamat kepadanya.

Diantara yang datang untuk memberi ucapan selamat kepadanya adalah tokoh-tokoh Quraisy, yaitu:

  1. Abdul Muththalib bin Hasyim (kakek Rasulullah SAW).
  2. Umayyah bin Abdi Syams.
  3. Abdullah bin Jadz’an.
  4. Khuwailid bin Asad, dan
  5. Wahb bin Abdi Manaf bin Zuhrah.

Sesampainya rombongan utusan Quraisy ini di Shan’a, mereka meminta ijin (perkenan) untuk dapat menemui Saif bin Dzi Yazan dengan maksud untuk memberikan ucapan selamat kepadanya dan yang menjadi juru bicara mereka adalah Abdul Muththalib, kakek Rasulullah SAW.

Terjadilah dialog antara Abdul Muththalib dengan Saif, yang dari dialog ini Saif mengetahui siapa Abdul Muththalib itu.

Dalam pandangan Saif bin Dzi Yazan, Abdul Muththalib adalah seorang tokoh yang sangat istimewa, sebab:

  1. Abdul Muththalib adalah pemimpin Quraisy.
  2. Quraisy adalah suku yang tinggal di Makkah.
  3. Di Makkah terdapat Ka’bah Baitullah, tempat seluruh orang Arab menunaikan ibadah haji.
  4. Quraisy dengan Abdul Muththalib sebagai pemimpinnya adalah kaum yang “dibela” oleh Allah SWT saat mereka diserbu oleh pasukan Abrahah al-Asyram (Ash-habul fil), dimana Abrahah sekaligus adalah musuhnya Saif bin Dzi Yazan.
  5. Dan juga karena sebab “khusus” lainnya yang akan dijelaskan kemudian.

Karena keistimewaan-keistimewaan inilah, maka Saif bin Dzi Yazan menyambut Abdul Muththalib dengan kata sambutan yang sangat-sangat istimewa, yaitu kalimat sebagai berikut:

مَرْحَبًا وَأَهْلًا، وَنَاقَةً وَرَحْلًا، وَمَنَاخًا سَهْلًا، وَمَلِكًا رِبَحْلًا يُعْطِيْ عَطَاءً جَزْلًا

Aku menyambutmu dengan dada lapang dan perasaan senang hati, jadi engkau tidak perlu merasa asing, sebab engkau adalah bagian dari keluarga ku.

Selamat datang juga kepada rombongan unta dan silahkan beristirahat di tenda kemah sambutan

Dan silahkan menambatkan untamu di tempat penambatan yang baik dan nyaman

Selamat bertemu dengan seorang raja dermawan yang memberi hadiah besar

Lalu, kalimat Marhaban wa Ahlan itu menjadi sangat populer, sebab muncul dalam suasana yang sangat luar biasa, dimana seorang raja yang baru saja memenangkan satu peperangan, dan semua kalangan datang untuk menghormatinya, namun ternyata sang raja yang baru saja mendapatkan kemenangan itu sedemikian rupa menyambut seorang tamu yang bermaksud mengucapkan selamat kepadanya, maka wajar saja kalau kalimat itu dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru Arab pada saat itu, dan menjadi “symbol” kata sambutan istimewa pada generasi berikutnya sampai sekarang.

Ada Kaitannya Dengan Rasulullah SAW

Ternyata, ada “sebuah rahasia” yang melatar belakangi sambutan Saif bin Dzi Yazan yang sangat istimewa kepada Abdul Muththalib.

Ceritanya, setelah semua tamu istirahat di tenda sambutan masing-masing, Saif bin Dzi Yazan memanggil Abdul Muththalib secara pribadi dan rahasia, lalu mengadakan pertemuan super secret dengannya, dan dalam pertemuan empat mata itu, Saif bin Dzi Yazan mengungkapkan rahasia dan “ilmu simpanan”-nya yang terkait dengan nabi akhir Zaman.

Ia mengungkapkan “ilmu simpanan”-nya itu dengan menjelaskan kepada Abdul Muththalib bahwa telah tiba masa kelahiran seorang nabi akhir zaman, di mana nabi yang terlahir ini adalah salah seorang keturunan Abdul Muththalib, namanya Muhammad dan atau Ahmad, dia lahir dalam keadaan ayahnya telah meninggal dunia, dan tidak lama setelah kelahirannya ibunya pun akan meninggal dunia, lalu “sang nabi” itu akan diurus oleh kakeknya dan salah seorang pamannya, nabi itu nantinya akan mendapatkan kejayaannya di kota Yatsrib, sebuah kota yang mempunyai hubungan nasab dengan Saif bin Dzi Yazan.

Setelah Saif bin Dzi Yazan membuka “ilmu simpanan”-nya itu, dia pun berpesan kepada Abdul Muththalib agar menjaga cucunya itu dengan sebaiknya, lalu Saif memberikan hadiah yang sangat besar dan sangat istimewa kepada Abdul Muththalib.

Dengan demikian, menjadi jelas dan terang lah bahwa kemunculan kata sambutan: Marhaban wa Ahlan ini mempunyai keterkaitan dengan Rasulullah SAW.

Menurut Ibnul Jauzi (508 – 597 H = 1114 – 1201 M), peristiwa pertemuan antara Abdul Muththalib dengan Saif bin Dzi Yazan ini terjadi pada tahun ke-7 setelah kelahiran nabi Muhammad SAW.

[lihat kitab: Al-Muntazham fi Tarikhil Umam wal Muluk, juz 2 halaman 276 – 280].

2 Comments

  1. Pingback: Makna Marhaban Wa Ahlan dan Tarhib Ramadhan – Musyafa

  2. jazakallah ustadz atas materi dan tatsqif yang disampaikan di web ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *