Guru-guruku

Sebagai orang kamso (kampung ndeso), guru-guruku bukanlah orang-orang yang terkenal dan populer, meskipun sepertinya ada juga yang populer.

Di Kampung

Guru Ngaji

Ada tiga bentuk pengajian yang saya ikuti sewaktu saya masih di kamso (kampung ndeso), yaitu:

  1. Pengajian Al-Qur’an.

Sebelum saya bisa membaca Al-Qur’an, terlebih dahulu saya belajar Kaidah Baghdadiyah, yaitu pelajaran dasar untuk dapat membaca Al-Qur’an al-Karim. Waktu itu belum ada metode Qiroati, atau Iqra’ dan semacamnya. Jadi semua anak-anak di kampungku, kalau mau belajar membaca Al-Qur’an, dia harus mempergunakan Kaidah Baghdadiyah.

Saya belajar Kaidah Baghdadiyah kepada seorang guru di kampung yang bernama Kasmun. Sampai sekarang beliau masih hidup, Allah yahfazhuhu.

Dia tidak lain adalah salah seorang paman saya sendiri.

Beliau dengan sukarela membuka pengajian untuk anak-anak kampung, sebab beliau alumni pondok pesantren dan mempunyai kemampuan membaca Al-Qur’an secara mujawwad.

Orangnya tinggi besar nan gagah, pemberani, namun mempunyai suara yang merdu dan keras (lantang), dan beliau adalah salah seorang muadzdzin Jum’at di masjid kampung kami.

Awalnya saya belajar Kaidah Baghdadiyah, lalu berlanjut kepada Turutan. Yaitu kitab yang dicetak secara khusus untuk menghimpun juz ‘amma, lalu berlanjut belajar Al-Qur’an sampai tamat.

  1. Pengajian Tilawatil Qur’an.

Kaum muslimin di kampungku, sampai sekarang, mempunyai hobi mengikuti seni baca Al-Qur’an. Yaitu membaca Al-Qur’an dengan cara dilagukan. Mereka menamakannya Qiroat. Maksudnya bukan Ilmu Qiroat yang dikenal sebagai bagian dari Ulumul Qur’an, tetapi, seni baca Al-Qur’an, yang secara periodik dilombakan dalam ajang MTQ, atau Musabaqah Tilawatil Qur’an. Jelasnya, cara baca Al-Qur’an seperti model yang dilakukan oleh Qari Mu’ammar ZA itu.

Ada tiga guru qiro’at atau seni baca Al-Qur’an yang pernah saya ikuti, yaitu:

  1. Ustadz Subki, Allah yahfazhuhu.
  2. Ustadz Fadholi, Allah yahfazhuhu, dan
  3. Ibu Suriyah, Allah yahfazhuha. Beliau ini pernah menjadi juara MTQ tingkat propinsi Jawa Tengah.

Disamping mendapat bimbingan khusus setiap kali mau mengikuti perlombaan dari kakak ipar saya (istri kakak saya) yaitu Ibu Thaifah, Allah yahfazhuha.

Cukup lama saya mengikuti pengajian seni baca Al-Qur’an ini dan pernah beberapa kali mendapatkan hadiah, karena terhitung sebagai juara, he he.

Kejuaraan paling tinggi yang pernah saya ikuti adalah MTQ tingkat kecamatan khusus untuk kalangan pelajar, he he.

  1. Pengajian kitab agama.

Di tempat pengajian bapak Kasmun, Allah yahfazhuhu, saya tidak hanya belajar Al-Qur’an. Akan tetapi juga belajar ilmu-ilmu agama.

Ilmu-ilmu agama yang pernah saya pelajari di tempat beliau ini, antara lain:

  1. Pratikum shalat, dengan buku pegangan Fasholatan, yang ditulis oleh KH Asnawi Kudus, Jawa Tengah.
  2. Doa-do a dan dzikir-dzikir khusus, dengan buku pegangan yang sama.
  3. Kitab Taqrib dengan makna gandul yang sudah tercetak. Sebuah kitab mukhtasar jiddan dalam madzhab Syafi’i.
  4. Tafsir Al-Ibriz Lima’anil Kitab al-Aziz billughah al-Jawiyah, sebuah kitab tafsir berbahasa Jawa, ditulis dengan huruf Arab, yang ditulis oleh KH Bisyri Musthafa, dari Rembang, Allah yarham, ayah dari KH Musthofa Bisyri (gusmus, Allah yahfazhuhu).

Guru Madrasah Ibtidaiyah

Pendidikan formal tingkat dasar yang saya ikuti adalah pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah.  Madrasah Ibtidaiyah diselenggarakan pada pagi hari. Dan kurikulum yang diajarkan mengikuti Departemen Agama (Depag).

Ada banyak guru yang pernah mengajar saya semasa belajar di Madrsah Ibtidaiyah Nurul Huda, desa Sidokumpul, kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Diantara guru-guru MI saya dulu adalah:

  1. Ahmad Zaenuri, Allah yarham.
  2. Mawardi, Allah yahfazhuhu.
  3. Abdul Jalil, Allah yahfazhuhu.
  4. Thaha, Allah yahfazhuhu.
  5. Muzzammil bin Mu’allim, Allah yahfazhuhu.
  6. Muslihun, Allah yarham.
  7. Junaidi, Allah yahfazhuhu.

Guru Madrasah Diniyyah

Madrasah Diniyyah diselenggarakan di sore hari, dengan kurikulum yang disusun oleh dewan guru dengan mengacu kepada kitab-kitab yang dipandang cocok untuk tingkat Diniyyah. Dan banyak diantara kitab-kitab yang dipergunakan dalam bentuk nazhoman (semacam syi’ir) yang bisa dilagukan, sehingga mudah untuk dihafalkan.

Di Madrasah Diniyyah ini saya belajar, Nahwu, Shorof, Bahasa Arab, Imla’, Fiqih, Tajwid dan Al-Qur’an.

Kitab-kitab yang pernah saya pelajari sewaktu di Madrasah Diniyyah adalah sebagai berikut:

  1. Ilmu Nahwu: Ajjurumiyyah, Sullamush-Shibyan, Imrithy.
  2. Shorof, ada dua kitab yang pernah saya pelajari, orang kampung menyebutnya: Padang dan Jombang (al-amtsilah at-tashrifiyyah).
  3. Bahasa Arab, menggunakan nazhoman Arab-Jawa, sebuah kitab mufrodat atau kosa kata Arab dan Jawa dalam bentuk nazhom.
  4. Imla’, maksudnya adalah guru membunyikan kosa kata atau kalimat, lalu murid disuruh menuliskan apa yang dibunyikan oleh guru, hasilnya dikumpulkan dan dinilai oleh guru.
  5. Fiqih, mempergunakan kitab fiqih berbahasa Jawa dalam bentuk nazhoman, dan juga mempergunakan kitab taqrib.
  6. Tajwid, pada mulanya mempergunakan kitab nazhoman berbahasa Jawa, lalu mempergunakan nazham Tuhfatul Athfal.

Pada awalnya, guru-guru madrasah diniyyah sangatlah banyak, sehingga saya tidak semuanya menghafalnya, namun, sistemnya kemudian dirubah, sehingga jumlah guru tidak lagi sebanyak pada awalnya.

Diantara mereka-mereka yang pernah mengajar saya adalah:

  1. Masykuri, Allah yahfazhuhu.
  2. Saeroji, Allah yahfazhuhu.
  3. Abdul Hamid, Allah yahfazhuhu.
  4. Luthfil Hakim, Allah yahfazhuhu.
  5. Sami’un, Allah yarham.
  6. Muzzammil bin Shibun.
  7. Muhammad Ridhwan, kakak saya sendiri, Allah yahfazhuhu.

Guru Madrasah Tsanawiyah

Setelah saya tamat (lulus) dari Madrasah Ibtidaiyah, saya melanjutkan studi ke Madrasah Tsanawiyah Sultan Fatah di desa Gaji, kecamatan Guntur, kabupaten Demak.

MTs ini, disamping menerapkan kurikulum Depag, juga menambahkan dengan pelajaran-pelajaran “diniyyah”, maksudnya pelajaran-pelajaran yang biasanya diajarkan di Madrasah Diniyyah, meskipun disesuaikan dengan level Tsanawiyyah.

Diantara pelajaran diniyyah yang saya dapatkan di Madrasah Tsanawiyah ini adalah:

  1. Nahwu, Imrithy, sampai khatam, dan berlanjut ke Alfiyah Ibnu Malik, serta
  2. Shorof, dengan mempergunakan kitab al-amtsilah at-tashrifiyyah, yang oleh orang kampung dikenal dengan istilah Sharaf Jombang.

Ada banyak guru yang pernah mengajar saya di MTs ini, akan tetapi tidak semuanya saya hafal. Juga karena ada di antara mereka yang mengajar hanya sebentar saja. Diantaranya:

  1. Nashirun, Allah yarham.
  2. Badrun, Allah yahfazhuhu.
  3. Mawardi, Allah yahfazhuhu. Beliau ini pernah mengajar saya sewaktu saya di MI.
  4. Abdul Halim, guru matematika. Allah yahfazhuhu.
  5. Fathul Hadi, Allah yahfazhuhu.
  6. Ihsan, Allah yahfazhuhu.
  7. Masykuri.
  8. Muzzammil.
  9. Abdul Muththalib.

Semoga Allah muliakan semua guru-guruku. Allahumma Amin.

Comments are closed