Kisah Nama, Tempat dan Tanggal Lahir

NAMA & KISAH

Nama ku dalam dokumen resmi adalah MUSYAFA AHMAD RAHIM.

Sebenarnya, nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku semenjak hari ketujuh dari kelahiranku adalah MUSYAFFA’ (double “f” dan pake koma atas sebagai pengganti huruf ‘ain dalam bahasa Arab).

Kalau ditulis dengan huruf Arab, namaku adalah مُشَفَّع

Kata ibuku, paling tidak ada dua hal yang melatar belakangi pemberian namaku ini, yaitu:

  • Pertama:

Di desa ku yang NU (Nahdlatul Ulama), masyarakat sangat menyukai acara DIBAAN, atau mauludan (nisbat kepada maulid nabi Muhammad SAW).

Mereka rutin, pada setiap malam Jum’at membaca mauludan, baik yang dibaca adalah DIBA’, atau BARZANJI, atau BURDAH.

Di awal bacaan DIBA’ atau BARZANJI, di sana ada kalimat: ya Rabbi Nakhtim bil MUSYAFFA’, ya Rabbi shalli ‘alaihi wa sallim.

Maklum, orang kampung, namaku, katanya diambil dari situ.

  • Kedua:

Pada era tahun 1970 (abad lalu, ya, abad lalu ya?), di kabupaten Demak, ada seorang qari’ terkenal, namanya MUSYAFFA’, bahkan karena pernah menjadi juara MTQ, entah yang ke berapa, dan pada tingkat apa? Sang qari’ mendapatkan hadiah haji, sehingga terkenallah ia dengan panggilan Haji MUSYAFFA’.

Adalah harapan orang tua, agar aku menjadi qari’ kayak Haji MUSYAFFA’ itu, karenanya, aku diberi nama MUSYAFFA’.

Sedang nama AHMAD RAHIM yang melekat di dokumen resmi ku, itu adalah nama ayahku (Allah yarham). Orang kampung ku sendiri memanggil nama ayahku dengan panggilan MATROHIM. Maklum, orang kampung.

TEMPAT & TANGGAL LAHIR

Di dokumen resmi, aku tertulis lahir di: DEMAK, 23 JULI 1968

Dulunya, tempat kelahiranku bukan DEMAK (nama kabupaten), tetapi tempat kelahiranku tertulis: SIDOKUMPUL (nama desaku).

Hal ini karena wawasan orang kampung, pak guru, pak carik (sek des) dan yang lainnya, wawasannya di era pendokumentasian itu, masih wawasan kampung, sehingga tempat lahir ditulis nama desa.

Coba bayangkan, kalau sampai sekarang di dokumen resmi masih tertulis begitu, yang membaca apa nggak mumet nyari makhluq yang bernama SIDOKUMPUL itu?

Tanggal kelahiranku?

Di dokumen resmi tertulis 23 Juli 1968

Tanggal ini adalah tanggal karangan. Ceritanya, di tahun 1975, saat saya mulai sekolah di Madrasah Ibtidaiyah, dimulailah proses dokumentasi itu oleh pihak sekolahan. Maka semua siswa/siswi diberi pesan agar menanyakan kepada bapak ibu dan saudaranya, kapan kita-kita ini dilahirkan?

Saya pun bertanya kepada ibu saya (bapak sedang tidak dirumah). Maka Ibu pun mulai mengingat-ingat. Hasil pengingatannya: kamu itu lahir, pada hari Jum’at Kliwon, delapan hari sebelum lebaran (???).

Lha trus aku nulisnya gimana?

Kebetulan kakakku lagi liburan dari mesantrennya. Maka aku pun nanya kepada dia. Repotnya, dia pun juga tidak ingat, sebab, zaman itu, orang kampung memang tidak ada yang mencatat hal-hal demikian.

Kakak saya tidak kehabisan “cara”. Diambil nya lah sebuah kalender yang ada di rumah pada waktu itu. (kebetulan sudah ada kalender). Lalu dicarilah olehnya momentum delapan hari sebelum lebaran, dan diitunglah umur saya. Maka ketemulah tanggal 23 Juli 1968 itu.

Jadi, jelas, ini tanggal hasil karangan.

Setelah di zaman sekarang mulai banyak software yang dapat mengkonversi penanggalan hijriyah dan miladiyah, termasuk yang buatan orang Indonesia, bahkan buatan orang Jawa, saya pun mencoba mencari hari tanggal lahir saya.

Dugaan kuat, berdasarkan software, saya lahir pada tanggal 13 Desember 1968.

Kenapa saya duga kuat demikian?

Sebab, di tanggal itu, berdasarkan software, harinya Jum’at Kliwon, tanggal 22 Ramadhan (artinya lebaran kurang delapan hari, sesuai keterangan ibu saya) tahun 1388 H.

Sedangkan tanggal 23 Juli 1968, kalau didasarkan kepada software itu, bertepatan dengan 26 Rabi’ul Akhir 1388 H. harinya pun Selasa Pahing. Jadi sama sekali nggak cocok dengan keterangan Ibu saya.

Comments are closed