Petuah #9 – DURAR AL-SULÛK FÎ SIYÂSAT AL-MULÛK

KAJIAN KITAB DURAR AL-SULÛK FÎ SIYÂSAT AL-MULÛK

(PETUAH-PETUAH TAUJIH SIYASI UNTUK PARA RAJA DAN PEMIMPIN)

Karya Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Habib al-Mawardi (364 – 450 H / 974 – 1058 M)

Petuah #9

وَهَذَا أَمْرٌ يَنْبَغِيْ لِكُلِّ وَاحِدٍ أَنْ يُرَاعِيَهُ مِنْ نَفْسِهِ، وَيُفَرِّقَ بَيْنَ مُتَمَلِّقِهِ اِحْتِيَالاً وَبَيْنَ مُخْلِصٍ لَهُ النَّصِيْحَةَ مِنْ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَاءِ اَلَّذِيْنَ هُمْ مَرَايَا مَحَاسِنِهِ وَعُيُوْنِهِ.

Hal ini adalah urusan di mana semua orang hendaklah memperhatikan dirinya dan membedakan antara penjilat yang hendak menjebak, dan antara seseorang yang dengan ikhlas menasihatinya dari kalangan orang-orang yang jujur dan setia, yang mereka itu adalah orang-orang terbaik yang ada dalam pandangan dan penglihatannya.

فَإِنَّهُ إِنْ أَغْفَلَ ذَلِكَ دَاهَنَ نَفْسَهُ، وَنَافَقَ عَقْلَهُ، وَاسْتَفْسَدَ أَهْلَ الْوَفَاءِ وَالصِّدْقِ، وَصَارَ مَأْكَلَةَ النِّفَاقِ وَالْمَلْقِ، فَأَعْقَبَهُ ذَلِكَ ضَرَرًا، وَأَوْرَثَهُ تَهْجِيْنًا وَذَمًّا.

Sebab, jika seseorang lengah tentang hal ini (kemampuan membedakan antara penjilat dan pemberi nasihat), maka ia akan mengakali diri sendiri, bersikap munafik kepada akalnya sendiri, dan merusak hubungannya dengan orang-orang yang setia dan jujur. Dan jadilah ia santapan kemunafikan dan penjilatan, akibat berikutnya adalah terkena marabahaya dan menjadi bahan ledekan dan ejekan.

وَالْمَلِكُ أَوْلَى مَنْ حَذِرَ ذَلِكَ وَتَوَقَّاهُ، لِأَنَّ حَضْرَةَ الْمُلُوْكِ كَالسُّوْقِ اَلَّتِيْ يُجْلَبُ إِلَيْهَا مَا يَنْفِقُ فِيْهَا، وَكُلُّ دَاخِلٍ عَلَيْهِ فَإِنَّمَا يُرِيْدُ اَلتَّقَرُّبَ إِلَيْهِ بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ، فَإِذَا عَلِمُوْا مِنْهُ إِيْثَارَ الْمُوَافَقَةِ عَلَى الْهَوَى وَحُبِّ الْمَدْحِ وَاْلإِطْرَاءِ، جَعَلُوْا ذَلِكَ أَرْبَحَ بَضَائِعِهِمْ لَدَيْهِ وَمِنْ أَجَلِّ مَا يَتَقرَّبُ بِهِ إِلَيْهِ، فَيَتَصَوَّرُ ذَمَّهُ حَمْدًا وَقَدْ كَسَبَ بِهِ ذَمًّا، وَيَتَصَوَّرُ قُبْحَهُ حَسَنًا وَقَدْ كَسَبَ بِهِ قُبْحًا، فَهَذَا مِمَّا يَجِبُ أَنْ يَتَوَقَّاهُ الْمَلِكُ وَيَحْذَرَهُ

Dan seorang raja adalah manusia yang paling harus mewaspadai hal ini dan berhati-hati dengannya, sebab, yang mulia para raja itu ibarat pasar, apa saja didatangkan ke situ untuk diperdagangkan, terutama yang akan laku keras di situ, dan semua orang yang masuk kepadanya, tiada lain maksudnya adalah mendekatkan diri kepada sang raja dengan ucapan dan perbuatannya. Maka, jika mereka mengetahui bahwa sang raja merasa cocok kepada mereka, senang dipuji dan disanjung, maka mereka akan menjadi pujian dan sanjungan ini sebagai dagangan yang paling menguntungkan mereka, dan menjadikannya pula sebagai modal paling utama untuk mendekatkan diri mereka kepada sang raja, lalu sang raja mempersepsi celaan sebagai pujian, dan mempersepsi keburukan sebagai kebaikan.
Hal inilah yang wajib diwaspadai oleh sang raja dan berhati-hati darinya

Petuah ini masih berbicara tentang dampak buruk dari para penjilat.
Ada beberapa hal yang dapat digaris bawahi dari PETUAH_09 ini, diantaranya:
Mengingat bahwa antara nasihat yang tulus dan sanjungan serta pujian yang menjilat hampir tidak ada perbedaan di antara keduanya, maka, Imam Mawardi me-wanti-wanti yang mengingatkan para raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi tentang perbedaan diantara keduanya.
Memang Imam Mawardi tidak menjelaskan secara detail perbedaan diantara keduanya ini, namun, indikasinya adalah:
Nasihat yang tulus, datang dari ahli ash-shidqi wal wafa (orang-orang yang setia dan jujur). Mereka tidak menjadikan nasihatnya sebagai “dagangan” atau “modal” bagi keuntungan pribadi.
Sedangkan mutamalliqin (para penjilat dan pencari muka), mereka mempergunakan:
Sanjungan
Pujian, dan
Hal-hal yang menyenangkan sang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, sebagai modal atau umpan atau bahan untuk mendekatkan diri kepadanya.
Ciri dan indikasi lain adalah:
Ahlush-shidqi wal wafa tidak segan-segan menasihati sang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi dengan hal-hal yang mungkin tidak disenangi olehnya, asalkan hal itu membawa maslahat baginya dunia dan akhirat, sedangkan
Al-mutamalliqun tidak segan-segan menggambarkan keburukan sebagai kebaikan, mempercantiknya dan memperindahnya di hadapan sang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi. Mereka tidak segan-segan pula untuk menampilkan, menggambarkan, mempersepsi kebaikan sebagai keburukan di hadapan sang raja, atau pemimpin, atau pejabat atau politisi.
Kemampuan membedakan antara dua hal ini, terpulang kepada kemampuan sang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi dalam men-siyasat-i dirinya. Tentunya, setelah banyak berdoa dan bertawakkal kepada Allah SWT.
Jika seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, tidak memiliki kemampuan seperti ini, menurut sudut pandang dan kacamata siyasah), maka ia akan terjebak kepada:
Dharar (marabahaya),
Tahjin (penghinaan, ledekan dan ejekan),
Dzamman (celaan).
Ma’kalatan-Nifaq (santapan kemunafikan) dari pihak lain.
Istifsad ahlish-shidqi wal wafa (rusaknya hubungan antara dirinya dengan mereka-mereka yang jujur dan setia), serta
Jungkir balik dan tidak jelasnya lagi mana yang baik mana yang buruk, mana yang terpuji dan mana yang tercela.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *