Petuah #8 – DURAR AL-SULÛK FÎ SIYÂSAT AL-MULÛK

KAJIAN KITAB DURAR AL-SULÛK FÎ SIYÂSAT AL-MULÛK

(PETUAH-PETUAH TAUJIH SIYASI UNTUK PARA RAJA DAN PEMIMPIN)

Karya Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Habib al-Mawardi (364 – 450 H / 974 – 1058 M)

Petuah #8

وَلِلْكِبْرِ أَسْبَابٌ، فَمِنْ أَقْوَى أَسْبَابِهِ عُلُوُّ الْيَدِ وَنُفُوْذُ الْأَمْرِ وَقِلَّةُ مُخَالَطَةِ الْأَكْفَاءِ

Kibr memiliki beberapa sebab, di antaranya yang paling kuat adalah:
Ketinggian tangan (banyak jasa),
Perintah atau urusan yang terlaksana dan
Sedikit gaul dengan sebaya

وَلِلْإِعْجَابِ أَسْبَابٌ، فَمِنْ أَقْوَى أَسْبَابِهِ كَثْرَةُ مَدِيْحِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَإِطْرَاءُ الْمُتَمَلِّقِيْنَ اَلَّذِيْنَ اِسْتَبْضَعُوْا الْكَذِبَ وَالنِّفَاقَ وَاسْتَصْحَبُوْا الْمَكْرَ وَالْخِدَاعَ، فَإِذَا وَجَدُوْا لِنِفَاقِهِمْ سُوْقًا، وَلِكَذِبِهِمْ تَصْدِيْقًا جَعَلُوْهُ فِيْ ذِمَمِ النَّوْكَى، فَاعْتَاضُوْا بِهِ رُتَبًا، وَعَوَّضُوْا مِنْهُ نُشْبًا، وَحَسَبُوْهُ زَيْنًا فَصَارَ شَيْنًا، وَحُكْمُ الْمَمْدُوْحِ بِكَذْبِ قَوْلِهِمْ عَلَى صِدْقِ عِلْمِهِ، وَجَعَلَ لَهُمْ طَرِيْقًا إِلَى الِاسْتِهْزَاءِ بِهِ

Ujub mempunyai beberapa sebab, diantaranya yang paling kuat adalah:
Banyaknya pujian dari orang-orang dekat
Sanjungan berlebihan dari para pencari muka, yang telah memperdagangkan kebohongan dan kemunafikan serta bersahabat dengan makar dan tindakan mengecoh.
Maka, jika mereka mendapati pasar bagi kemunafikannya (jika kemunafikannya laku) dan kebohongannya dibenarkan, maka mereka menjadikannya sebagai jaminan orang-orang bodoh, lalu mereka mem-barter-nya dengan kedudukan-kedudukan, menukarnya dengan harta dan kekayaan, mereka mengira hal itu adalah kebaikan, padahal sebenarnya adalah keburukan, dan hukum orang yang dipuji adalah dengan mendustakan ucapan mereka, hal ini didasarkan pada kebenaran pengetahuan atas diri sendiri, dan menjadikan untuk mereka jalan untuk menghina dengannya.

وَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “اُحْثُوْا فِي وُجُوْهِ الْمَدَّاحِيْنَ التُّرَابَ”

karena inilah Rasulullah SAW bersabda: “tebarkanlah debu ke wajah para tukang memuji”.

وَقِيْلَ لِأَنُوْشَرْوَانَ: لِمَ تَتَهَاوَنُوْنَ بِالْمَدْحِ إِذَا مُدِحْتُمْ؟! قَالَ لِأَنَّنَا رَأَيْنَا مَمْدُوْحًا هُوَ بِالذَّمِّ أَحَقُّ

Ditanyakan kepada Anusyarwan (seorang Kisra Persia): Kenapa engkau menganggap remeh pujian saat engkau dipuji?! Ia mejawab: Sebab kami melihat seorang yang dipuji, padahal ia lebih berhak dicela

Ada beberapa hal yang dapat digaris bawahi dari PETUAH_08 ini, diantaranya:
Seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, hendaklah mampu men-siyasat-i dirinya dengan siyasat (politik) yang baik, tegas dan disiplin, kalau perlu dengan ta’dib yang “galak” manakala:
Ia telah memiliki atau merasa memiliki banyak jasa, telah banyak memberi sumbangan, berpartisipasi dalam berbagai kebaikan.
Setiap perintah atau titahnya dilaksanakan oleh orang lain, pembantu, staff, bawahan dan semacamnya.
Sebab dua hal ini dapat mendorong dirinya untuk menjadi takabbur dan tumbuh dalam hatinya rasa al-kibr – na’udzubillah min dzalik –
Jika ada kekhawatiran tentang akan tumbuhnya sifat takabbur dan bersemayamnya bibit al-kibr tersebut, hendaklah ia banyak bergaul dan banyak membaca tentang prestasi-prestasi besar para raja, atau pemimpin, atau politisi lain, lalu membandingkannya dengan dirinya, agar dirinya mengetahui bahwa apa yang dimilikinya belumlah seberapa.
Juga, seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi harus bersikap penuh kewaspadaan dari pujian dan sanjungan, baik pujian atau sanjungan publik, maupun pujian dan sanjungan “orang-orang” dekat, sebab, sanjungan dan pujian itu bisa jadi keluar dari:
Para pencari muka (al-mutamalliqun).
Orang-orang yang menyimpan makar dan menyembunyikan tipuan (al-khida’).
Orang-orang yang ingin mendapatkan materi, harta, dan kedudukan dari pujian dan sanjungannya.
Yang untuk tujuan-tujuan ini, mereka sanggup berbuat nifaq (kemunafikan), berani berkata dusta dan semacamnya.
Agar seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi tidak terjebak kepada keinginan para pencari muka dan penjilat ini, maka, hendaknya pujian mereka menjadikan dirinya introspeksi dan mawas diri dengan mengatakan:
“Saya lebih tahu tentang diri saya daripada kalian wahai para pencari muka dan penjilat”.
“Sebenarnya saya lebih berhak dicela daripada dipuji”.
Dibenarkan juga, jika keadaan dan situasinya menuntut, seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, membalas pujian mereka itu dengan meremehkan mereka, bahkan sampai ke tingkat menebarkan debu ke muka para penjilat tersebut jika kemaslahatan menuntut demikian, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW.
Semua ini mesti dilakukan oleh seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, agar ia tidak terjebak dan terjerumus kepada ‘ujub
Kemestian seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi untuk waspada terhadap kemungkinan al-kibr dan ‘ujub ini adalah karena keduanya mempunyai dampak-dampak negatif, baik menurut sudut pandang agama, maupun menurut sudut pandang siyasah atau politik (baca kembali PETUAH_06)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *