Petuah #5 – DURAR AL-SULÛK FÎ SIYÂSAT AL-MULÛK

KAJIAN KITAB DURAR AL-SULÛK FÎ SIYÂSAT AL-MULÛK

(PETUAH-PETUAH TAUJIH SIYASI UNTUK PARA RAJA DAN PEMIMPIN)

Karya Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Habib al-Mawardi (364 – 450 H / 974 – 1058 M)

Petuah #5

وَرُبمَا حَسُنَ ظَنُّ الْإِنْسَانِ بِنَفْسِهِ فَأَغْفَلَ مُرَاعَاةَ أَخْلاَقِهِ فَدَعَاهُ حُسْنُ الظَّنِّ بِهَا إِلَى الرِّضَا عَنْهَا دَاعِيًا إِلَى الاِنْقِيَادِلَهَا فَفَسَدَ مِنْهُ مَا كَانَ صَالِحًا وَلمْ يُصْلِحْ مِنْهَا مَا كَانَ فَاسِدًا لِأَن الْهَوَى أَغْلَبُ مِنَ الآرَاءِ، وَالنَّفْسُ أَجْوَرُ مِنَالْأَعْدَاءِ، لِأَنَّهَا بِالسُّوْءِ أَمَّارَةٌ، وَإِلَى الشَّهَوَاتِ مَائِلَةٌ، وَكَذَلِكَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “اَلشَّدِيْدُ مَنْ مَلَكَنَفْسَهُ”[1]1

قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: مَنْ رَضِيَ عَنْ نَفْسِهِ أَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسُ

Seringkali manusia ber-husnuzh-zhan terhadap nafsu sendiri, akibatnya ia melalaikan perhatian terhadap akhlaqnya.
Akibat selanjutnya dari husnuzh-zhan terhadap nafsu sendiri ini adalah ia cukup puas dengan apa yang sudah ada padanya, dan tunduk menyerah kepadanya.
Akibatnya, apa yang sudah baik pada dirinya menjadi rusak, sementara yang sudah rusak tidak akan diperbaiki olehnya.
Yang demikian ini karena hawa nafsu lebih dominan daripada pandangan pemikiran, sementara nafsu lebih jahat daripada para musuh, sebab nafsu sangat pandai dalam memberi perintah kepada kebusukan dan lebih tertarik kepada berbagai kesenangan. Demikianlah sabda Rasulullah SAW: “Orang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan nafsunya”.
Sebagian ahli hikmah berkata: “Siapa yang puas dengan keberadaan dirinya, maka ia membuat benci orang lain”.
Ada beberapa hal yang bisa digaris bawahi dari PETUAH Imam Mawardi ini, diantaranya adalah:
1.      Dalam rangka men-siyasat-i diri agar seorang raja, atau pemimpin, atau politisi memiliki akhlaq yang mulia, ia tidak dibenarkan ber-husnuzh-zhan kepada nafsunya, sebab husnuzh-zhan kepada nafsu sendiri memiliki rentetan sebab akibat yang panjang, yaitu:
a.      Mengabaikan upayanya untuk memperbaiki akhlaqnya. Akibat lanjutannya adalah
b.      Cukup puas dan ridha kepada nafsunya. Akibat lanjutannya adalah
c.       Seorang raja, atau pemimpin, atau politisi, akan tunduk menyerah kepada kemauan nafsu. Akibat selanjutnya adalah
d.      Akhlaq-akhlaq baik yang telah ada pada diri seorang raja, atau pemimpin, atau politisi akan menjadi rusak, sementara akhlaq-akhlaqnya yang rusak belum ia perbaiki. Akibat selanjutnya adalah
e.      Semua orang akan membenci dan tidak menyukai sang raja, atau pemimpin atau politisi.
2.      Kenapa demikian? Sebab
a.      Hawa nafsu akan mengalahkan daya nalar dan daya piker seseorang.
b.      Nafsu lebih jahat daripada para musuh, karena perintah-perintah nafsu selalu diarahkan kepada kejahatan dan kebusukan.
c.       Nafsu selalu cenderung kepada berbagai syahwat dan kesenangan.
3.      Inilah salah satu rahasia dari petunjuk Rasulullah SAW agar seorang raja, atau pemimpin atau politisi memiliki kemampuan untuk mengendalikan nafsunya, khususnya di saat ia sedang emosi atau marah. Dan kalau seorang raja, atau pemimpin, atau politisi mampu mengendalikan nafsunya, berarti ia telah menjadi seorang yang kuat dan hebat.

[1] Kutipan dari hadits:

 (لَيسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرْعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ اَلَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ (متفق عليه

(orang kuat itu bukanlah yang kuat dalam bergulat, orang kuat tidak lain adalah yang mampu mengendalikan nafsunya saat marah) [muttafaqun ‘alaih; Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2608.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *