Petuah #4 – DURAR AL-SULÛK FÎ SIYÂSAT AL-MULÛK

KAJIAN KITAB DURAR AL-SULÛK FÎ SIYÂSAT AL-MULÛK

(PETUAH-PETUAH TAUJIH SIYASI UNTUK PARA RAJA DAN PEMIMPIN)

Karya Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Habib al-Mawardi (364 – 450 H / 974 – 1058 M)

Petuah #4

فَإِذَا بَدَأَ الْإِنْسَانُ بِسِيَاسَةِ نَفْسِهِ كَانَ عَلَى سِيَاسَةِ غَيْرِهِ أَقْدَرُ، وَإِذَا أَهْمَلَ مُرَاعَاةَ نَفْسِهِ كَانَ بِإهْمَالِ غَيْرِهِ أَجْدَرُ
وَقَدْ قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاء الْمُتَقَدِّمِيْنَ: مَنْ بَدَأَ بِسِيَاسَةِ نَفْسِهِ أَدْرَكَ سِيَاسَةَ النَّاسِ
وَقَدْ قِيْلَ فِيْ مَنْثُوْرِ الْحِكَمِ: لَا يَنْبَغِيْ لِلْعَاقِلِ أَنْ يَطْلُبَ طَاعَةَ غَيْرِهِ وَطَاعَةُ نَفْسِهِ مُمْتَنِعَةٌ عَلَيْهِ
قَالَ الشَّاعِر
(أَتَطْمَعُ أَنْ يُطِيْعَكَ قَلْبُ سَعْدَى … تَزْعُمُ أَنَّ قَلْبَكَ قَدْ عَصَاكَا)

Maka, jika seseorang mulai menerapkan siyasat pada dirinya, maka untuk menerapkan siyasat pada orang lain akan lebih mampu.
Sebaliknya, jika ia mengabaikan dirinya, maka akan lebih mengabaikan orang lainnya.
Sebagian ahli hikmah dari masa lalu berkata: “siapa yang memulai mensiasati dirinya maka ia akan lebih mengerti bagaimana mensiasati manusia (orang lain)”.
Terhitung dalam untaian hikmah: “tidak seyogyanya seorang yang berakal menuntut orang lain untuk taat kepadanya, sementara nafsunya (dirinya sendiri) tidak mau taat kepadanya.
Seorang penyair berkata:
Adakah engkau berharap hati Sa’daa taat dan tunduk kepadamu
Sementara kamu mengatakan bahwa hatimu tidak tunduk kepadamu
Yang ingin saya garis bawahi dari kutipan petuah ini adalah:
1.      Imam Mawardi, membagi bukunya: “Durar As-Suluk fi Siyasat al-Muluk” menjadi dua bab; bab 1 terkait dengan akhlaq-akhlaq yang harus dimiliki oleh seorang raja, atau pemimpin atau politisi, dan bab 2 berisi akhlaq seorang raja, atau pemimpin, atau politisi kepada orang lain.
Jika seorang raja, atau pemimpin, atau politisi mampu menghiasi dirinya dengan akhlaq-akhlaq yang akan disebutkan nanti, maka ia akan sukses – biidznillah – dalam memimpin rakyatnya.
2.      Namun, perlu diketahui dan diingat bahwa untuk menghiasi diri dengan akhlaq-akhlaq yang akan dijelaskan pada bab 1 ini, diperlukan upaya serius dan sungguh-sungguh, yaitu: riyadhah, ta’dib, tadrij, takhalluq, takallufdan tathabbu’, sebagaimana telah dijelaskan pada PETUAH_3.
3.      Semua upaya serius dan sungguh-sungguh dalam riyadhah, ta’dib, tadrij, takhalluq, takalluf dan tathabbu’inilah yang dalam PETUAH_4 ini disebut oleh Imam Mawardi dengan istilah siyasat nafsihi (mensiasati diri sendiri).
4.      Dan – menurut beliau – jika seseorang telah berhasil mensiasati diri sendiri, maka:
a.      InsyaAllah akan berhasil dalam mensiasati orang lain.
b.      InsyaAllah akan mengerti dan memahami bagaimana mensiasati orang lain.
Sebaliknya, jika ia gagal dalam mensiasati diri sendiri, terlebih lagi kalau sampai ia mengabaikan diri sendiri, maka, akan lebih gagal lagi dalam mensiasati orang lain.
Jadi, seorang raja, atau pemimpin, atau politisi, hendaklah memulai dengan perbaikan diri sendiri terlebih dahulu sebelum meminta orang lain untuk memperbaiki diri mereka.

One Comment

  1. Pingback: Petuah #10 – DURAR AL-SULÛK FÎ SIYÂSAT AL-MULÛK | Musyafa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *