Petuah #13 – DURAR AL-SULÛK FÎ SIYÂSAT AL-MULÛK

Oleh karena itu, hendaklah seorang raja berhati-hati dari kebohongan, baik serius maupun bercanda, dan janganlah mempermudah bagi dirinya untuk berbohong, untuk membela kebenaran ataupun kebatilan

فَيَحْذَرُ الْكَذِبَ جَادًّا وَهَازِلًا وَلَا يُرَخِّصُ لِنَفسِهِ مُحِقًّا وَلَا مُبْطِلًا

Kecuali dengan cara tauriyah (terselubung) dalam tipuan peperangan, demi memaksimalkan peluang dan demi memperdaya lawan إِلَّا عَلَى وَجْهِ التَّوْرِيَةِ فِيْ خِدَاعِ الْحُرُوْبِ، اِنْتِهَازًا لِلْفُرْصَةِ فِيْهَا، وَاخْتِدَاعًا لِمَكِيْدَتِهَا
sebab tidak ada penundaan dalam peperangan, dan kemenangan itu tidak memiliki alasan, karenanya, untuk mendapatkannya diperbolehkan penggunaan rukhshoh perkataan dan rukhshoh perbuatan فَمَا لِلْحَرْبِ مُهْلَةٌ، وَلَا لِلظَّفْرِ عِلَّةٌ، فَأُبِيْحَ فِي التَّوَصُّلِ إِلَيْهَا رُخَصُ الْكَلَامِ، كَمَا اُسْتُعْمِلَ فِيْهَا رُخَصُ الْأَفْعَالِ
Tersebut dalam sunnah Rasul SAW bahwa berbohong dibenarkan dalam peperangan, namun dengan cara tauriyah (terselubung) dan bukan tashrih (terang – terangan, atau terbuka). وَلذَلِكَ جَاءَتِ السُّنَّةُ بِإِرْخَاصِ الْكَذِبِ فِيهَا عَلَى وَجْهِ التَّوْرِيَةِ دُوْنَ التَّصْرِيْحِ
Rasulullah SAW bersabda: “Peperangan itu khud’ah (memperdaya)”[1]. قَالَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (الْحَرْبُ خُدْعَةٌ)
Dan jika memungkinkan agar hal itu dilakukan dengan “memperalat” orang lain, maka hal itu lebih baik daripada harus melakukannya sendiri secara langsung. وَإِذَا أَمْكَنَ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ بِمُوَاضَعَةِ غَيْرِهِ كَانَ أَوْلَى مِنْ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ بِمُبَاشَرَتِهِ بِنَفْسِهِ.
Jika tidak ada pilihan kecuali dengan melakukannya sendiri secara langsung, maka lakukannya dengan cara tauriyah dan tidak to the point, agar omongannya masih mempunyai peluang untuk dita’wilkan dan keterus terangan atas namanya bisa menjadi alasan, sehingga, jika hal itu muncul, bisa dimaklumi, dan jika sudah terlanjur populer, orang masih tidak mempersepsi kebohongannya. فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مِنَ الْمُبَاشَرَةِ بُدًّا، وَرَّى وَعَرَّضَ، لِيَكُوْنَ التَّأْوِيْلُ لِكَلَامِهِ مُحْتَمَلًا، وَالتَّصْرِيْحُ بِالْكَذِبِ عَنْهُ  مَشْفِيًّا، فَيُعْذَرُ إِذَا ظَهَرَ، وَلَا يُتَصَوَّرُ بِالْكَذِبِ إِذَا اشْتَهَرَ.
Dan hendaklah ia tidak memperbanyak pola-pola tadi, kecuali saat terjepit, sebab kalau sering-sering, jurusnya menjadi terbongkar, maka tauriyah-nya bisa menjadi terus terang, dan apa pun yang datang darinya menjadi tertolak, benar ataupun salah. وَلْيُقَلِّلْ مِنْهُ، إِلَّا عِنْدَ ضِيْقِ الْخِنَاقِ، فَإِنْ أَكْثَرَ مِنْهُ اُفْتُضِحَتْ مَعَارِيْضُهُ، فَصَارَ صَرِيْحًا، وَرُدَّ عَلَيْهِ فَاسِدًا وَصَحِيْحًا
Dan jika ia mempermudah dalam hal-hal di atas, yaitu berterus terang dengan kebohongan bukan dalam kondisi perang dan tidak dalam bentuk tauriyah yang berpotensi multi tafsir, maka ia akan disifati sebagai pembohong, dan bahkan kebohongan bisa dinisbatkan kepadanya. وَإِنْ رَخَّصَ لِنَفْسِهِ فِي التَّصْرِيْحِ بِالْكَذِبِ عَلَى غَيْرِ مَا قُلْنَاهُ فِي الْحَرْبِ مِنَ التَّعْرِيْضِ الْمُحْتَمَلِ صَارَ بِهِ مَوْسُوْمًا أَوْ إِلَيْهِ مَنْسُوْبًا
Sebab manusia dikenal berdasarkan apa yang pertama kali dipersepsi tentang dirinya, dan juga karena sifat-sifat yang nampak darinya. لِأَنَّ الْإِنْسَانَ بِمَا يُسْبَقُ إِلَيْهِ يُعْرَفُ، وَبِمَا يَظْهَرُ مِنْ شِيَمِهِ يُوْصَفُ
Sebab inilah telah menjadi kebiasaan manusia untuk mensifati adil seseorang didasarkan pada yang umum dari perbuatannya, padahal bisa saja ia berbuat buruk, dan manusia mensifati fasik seseorang juga karena yang dominan dari perbuatannya, padahal bisa jadi ia berbuat baik. Dan sedikit sekali orang yang murni memiliki salah satunya satunya, dan jika ada maka hal itu sangat langka. وَبِذَلِكَ جَرَتْ عَادَةُ الْخَلْقِ أَنَّهُمْ يُعَدِّلُوْنَ الْعَادِلَ بِالْغَالِبِ مِنْ أَفْعَالِهِ وَرُبَّمَا أَسَاءَ، وَيُفَسِّقُوْنَ الْفَاسِقَ بِالْغَالِبِ مِنْ أَفْعَالِهِ وَرُبَّمَا أَحْسَنَ، وَقَلَّ مَا يُمَحَضُ أَحَدُهُمَا فِي الْإِنْسَانِ، وَإِنْ تَمَحَّضَ نَدَرَ.
Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab RA berkata: Aku menjadi terkena kesulitan karena kejujuran lebih aku sukai, meskipun jarang sekali terjadi, daripada aku mendapatkan manfaat dari kebohongan, meskipun jarang sekali terjadi. قَالَ أَمِيْرُ الْمُؤمنِينَ عُمَرُ رَضِيَ الله عَنْهُ : لَأَنْ يَضُرُّنِيْ اَلصِّدْقُ وَقَلَّ مَا يَفْعَلُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَن يَنْفَعَنِيْ اَلْكَذِبُ وَقَلَّ مَا يَفْعَلُ
Karena inilah Rasulullah SAW bersabda: “Kesalahan manusia terbesar adalah lisan yang banyak berbuat bohong”[2]. وَلِذَلِكَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
(أَعْظَمُ الْخَطَايَا اللِّسَانُ اَلْكَذُوْبُ)
Sebagian ahli hikmah berkata: قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ :
“Kebohongan seorang raja dan pengkhianatannya bukti terjadinya sesuatu di kerajaannya, sebab ia menyerupai pencampuran orang sakit dalam suatu penyakit, tentunya semakin menambah sakit, dan badannya semakin rusak”. كَذِبُ الْمَلِكِ وَغَدْرُهُ مِنْ دَلَائِلِ حَادِثٍ يَحْدُثُ فِيْ مُلْكِهِ لِأَنَّهُ يُشْبِهُ تَخْلِيطَ الْعَلِيْلِ فِي الْعلَّة يَزِيْدُهُ مَرَضًا وَفِيْ بَدَنِهَ زَهْكًا

CATATAN:

Kutipan kali ini tidak saya ambilkan dari kitab Durar al-Suluk, namun saya ambilkan dari kitab Imam Mawardi yang lain, yaitu kitab Tashil al-Nazhar wa Ta’jil al-Zhafar fi Akhlaq al-Malik (تسهيل النظر وتعجيل الظفر في أخلاق الملك). Dan sebenarnya, pada PETUAH #12 pun, kalimat yang saya kutip adalah kalimat dari kitab Tashil dan bukan dari kitab Durar al-Suluk.

Ada beberapa hal yang dapat digaris bawahi dan perlu sedikit mendapat ulasan dari PETUAH #13 ini, diantaranya:

  1. PETUAH #3 ini sebenarnya masih terkait dengan pembahasan tentang Al-WAQAR yang mesti dimiliki oleh seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi.
  2. Agar seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi memiliki WAQAR (tenang penuh wibawa), maka hendaklah ia:
  3. Menjadikan ash-shidq (kejujuran dan kebenaran) sebagai pegangan utama akhlaqnya.
  4. Menghindari dan menjauhi al-kadzib (kedustaan dan kebohongan).
  5. Selanjutnya, Imam Mawardi – rahimahullah – memberi nasihat kepada seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi hal-hal yang berkenaan dengan kedustaan atau kebohongan ini sebagai berikut:
  6. Janganlah seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi berbuat atau berkata bohong, baik dalam keadaan serius, maupun dalam keadaan bercanda, sebab:
  7. Kalau sampai kebohongan itu menjadi kesan pertama dirinya, maka selamanya dia akan dikenal sebagai pembohong. Akibat lebih lanjut dari hal ini adalah:
  8. Seluruh perkataan dan pernyataannya akan dinilai sebagai kebohongan, meskipun dia berkata benar.
  9. Lebih repot lagi, kalau sewaktu-waktu ia mempergunakan jurus tauriyah (terselubung) dan tidak berterus terang, tetap akan dimaknai dan dipahami sebagai keterus terangan dalam kebohongan, dan ini sangat tidak baik bagi seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi.
  10. Terlebih repot lagi, kejujuran dan kebenaran perkataan dan pernyataannya tidak lagi akan diperhitungkan oleh orang lain, sebab seakan tenggelam, atau dianggap tenggelam dalam kebohongan dan kedustaannya. Na’udzu billah min dzalik.
  11. Dan terlebih repot lagi, kebohongan seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi bisa dimaknai:
  12. Pada wilayah kekuasaannya terdapat masalah yang serius yang “memaksanya” berbohong, dan atau
  13. Pada dirinya terdapat masalah yang “memaksanya” berbohong.
  14. Kalaupun ada situasi atau kondisi yang “memaksanya” untuk berkata bohong, hendaknya ia melakukannya dengan urutan cara sebagai berikut:
  15. Mempergunakan atau “memperalat” orang lain untuk mengatakannya dan tidak melakukannya sendiri secara langsung.
  16. Mempergunakan pola dan cara-cara tauriyah (terselubung) atau memilih kalimat yang multitafsir, atau mempergunakan cara-cara ta’ridh (tidak to the point). Intinya adalah mempergunakan cara-cara, kalimat-kalimat dan pernyataan-pernyataan yang masih memungkinkan untuk ditafsirkan sebagai bukan kebohongan.
  17. Hal ini pun jangan pula dilakukan sering-sering, agar tidak menjadi kebiasaan, sebab, sesuatu yang kecil namun sering dilakukan, akan berakibat menjadi sifat yang melekat dan dominan pada dirinya, yang pada gilirannya, atas dasar sifat yang dominan inilah dirinya akan dikenal.
  18.      Seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi baru mendapatkan rukhshah (kemurahan hukum) untuk berbohong saat suasana perang saja, berdasarkan hadits Rasulullah SAW: “Peperangan itu khud’ah (memperdaya)”[3]. Bahkan, urutan pilihannya pun tetap seperti dalam penjelasan sebelumnya.

Maroji’:

[1] Hadits muttafaqun ‘alaih, lihat shahih Bukhari hadits no. 3029, 3030, dan lihat pula shahih Muslim hadits no. 1739, 1740

[2] Hadits dha’if, diriwayatkan oleh Ibn Laal, lihat Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu, hadits no. 955.

[3] Hadits muttafaqun ‘alaih, lihat shahih Bukhari hadits no. 3029, 3030, dan lihat pula shahih Muslim hadits no. 1739, 1740

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *