Petuah #12 – DURAR AL-SULÛK FÎ SIYÂSAT AL-MULÛK

Termasuk akhlaq yang menjadi kemestian bagi seorang raja dan lebih layak: Selalu menjadikan kejujuran dan kebenaran sebagai pegangannya serta menjauhi kedustaan dan kebohongan, sebab kebohongan itu gagasan yang mudah, namun sangat buruk akibatnya, sebab ia merubah banyak urusan kepada kebalikannya, mengganti realita dengan selainnya, menempatkan kebatilan pada posisi kebenaran dan tampak dalam  khayalan bahwa kebohongan itu mirip kejujuran وَمِمَّا هُوَ أَلْزَمُ فِيْ أَخْلَاقِ الْمَلِكِ وَأَلْيَقُ : اِعْتِمَادُ الصِّدْقِ وَاجْتِنَابُ الْكَذِبِ، فَإِنَّهُ سَهْلُ الْبَادِرَةِ، خَبِيْثُ الْعَاقِبَةِ، لِأَنَّهُ يَعْكِسُ الْأُمُوْرَ إِلَى أَضْدَادِهَا، وَيَسْتَبْدِلُ الْحَقَائِقَ بِأغْيَارِهَا، فَيَضَعُ الْبَاطِلَ مَوْضِعَ الْحَقِّ، وَيَتَخَيَّلُ أَنَّ الْكَذِبَ يَتَشَبَّهَ بِالصِّدْقِ
Jangan demikian, sebab waktu akan mengungkap segala hal yang berada di balik tabir dan membongkar segala hal yang selama ini tersamar. كَلاَّ فَإِنَّ الزَّمَانَ يَكْشِفُ عَنْ خَبَايَاهُ، وَيَنُمُّ عَلَى خَفَايَاهُ.
Dan demikianlah Rasulullah SAW bersabda: “Semoga Allah SWT merahmati seseorang yang memperbaiki lisannya, mengekang kendalinya dan memastikan ucapannya selalu berada di jalan kebenaran, serta tidak membiasakannya untuk salah ucap”. وَكَذَلِكَ قَالَ النَّبِي – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
(رَحِمَ اللهُ اِمْرَءًا أَصْلَحَ مِنْ لِسَانِهِ، وَأَقْصَرَ مِنْ عَنَانِهِ، وَأَلْزَمَ طَرِيْقَ الْحَقِّ مَقُوْلَهُ، وَلَمْ يُعَوِّدِ الْخَطَلَ مِفْصَلَهُ)

Ada beberapa hal yang dapat digaris bawahi dan perlu sedikit mendapat ulasan dari PETUAH #12 ini, diantaranya:

  1. PETUAH #12 ini sebenarnya masih terkait dengan pembahasan tentang Al-WAQAR yang mesti dimiliki oleh seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi.
  2. Agar Seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi memiliki WAQAR (tenang penuh wibawa), maka hendaklah ia:
    1. Menjadikan ash-shidq (kejujuran dan kebenaran) sebagai pegangan utama akhlaqnya.
    2. Menghindari dan menjauhi al-kadzib (kedustaan dan kebohongan).
  3. Selanjutnya, Imam Mawardi – rahimahullah – menjelaskan sisi negatif dari al-kadzib menurut sudung pandang akhlaq politik (akhlaq siyasiyah), maka beliau menjelaskan:
    1. Al-kadzib itu sesuatu yang mudah terlintas dalam benak dan pikiran seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi. Maksudnya, mudah sekali gagasan untuk mengambil pilihan al-kadzib bagi mereka. Nas-aluLlaha al-‘afwa wal ‘afiyah (Semoga Allah SWT menghindarkan kita dari pilihan dusta dan bohong ini serta memaafkan kita).
    2. Namun demikian, akibat dan kesudahan dari al-kadzib ini sangatlah buruk, dan bahkan busuk.
    3. Al-kadzib mempunyai dampak-dampak negatif, termasuk menurut sudut pandang politik, yang sangat luar biasa, yaitu:
      1. Merubah hakekat (kenyataan dan realita) menjadi sebaliknya.
      2. Tertukarnya posisi al-haq dan al-bathil. Maksudnya, yang semestinya dinyatakan sebagai al-haq, malah dinyatakan sebagai batil, dan semestinya dinyatakan sebagai batil malah dinyatakan sebagai al-haq.
      3. Segala hal yang dusta dan bohong, tampak dan terbayang sebagai kebenaran. Na’udzu billah min dzalik.
  1. Yang harus diketahui dan diyakini oleh seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi adalah bahwa berjalannya waktu, segala hal yang tersembunyi dan tersamar, pada akhirnya akan terbuka dan terbongkar. Fakta ini hendaklah semakin mendorong mereka untuk selalu menjadikan ash-shidq sebagai pegangannya dan menghindari dan menjauhi al-kadzib.
  2. Sebagai penutup terhadap PETUAH_12 ini, Imam Mawardi menutupnya dengan mengutip riwayat (dho’ifah) yang berisi ajaran sebagai berikut:
    1. Hendaklah seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi selalu memperbaiki lisannya. Hal ini mencakup:
      1. Perbaikan aspek kefasihan bicaranya.
      2. Perbaikan penyampaikannya (khithab)-nya.
      3. Perbaikan konten dan muatannya, dan terutama
      4. Jangan mengandung sisi kebohongan dan kedustaan.
    2. Hendaklah seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi dapat mengendalikan lisannya, jangan mudah berkomentar, apalagi “kelepasan” berkomentar. Namun, komentar yang keluar darinya sudah diperhitungkan matang-matang.
    3. Hendaklah seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi selalu memastikan kebenaran dalam ucapannya.
    4. Hendaklah seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi melatih lidahnya yang tidak bertulang itu agar tidak mudah “keseliu” atau “terkilir” apalagi “keceklik”.

 

One Comment

  1. Pingback: Petuah #13 – DURAR AL-SULÛK FÎ SIYÂSAT AL-MULÛK | Musyafa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *