Petuah #11 – DURAR AL-SULÛK FÎ SIYÂSAT AL-MULÛK

KAJIAN KITAB DURAR AL-SULÛK FÎ SIYÂSAT AL-MULÛK

(PETUAH-PETUAH TAUJIH SIYASI UNTUK PARA RAJA DAN PEMIMPIN)

Karya Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Habib al-Mawardi (364 – 450 H / 974 – 1058 M)

Petuah #11

وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ: اِلْزَمِ الصَّمْتَ، فَإِنَّهُ يَكْسِبُكَ صَفْوَ الْمَحَبَّةِ، وَيُؤَمِّنُكَ سُوْءَ الْمَغَبَّةِ، وَيُلْبِسُكَ ثَوْبَ الْوَقَارِ، وَيَكْفِيْكَ مُؤْنَةَ الِاعْتِذَارِ Sebagian pakar balaghah berkata: “Tetaplah diam, sebab ia akan memberimu kecintaan yang bening, mengamankanmu dari kesudahan (akhir kehidupan) yang buruk, memberimu pakaian waqar dan membebaskanmu dari “ongkos” atau “biaya” mengemukakan alasan atau meminta permakluman
وَتَكَلَّمَ أَرْبَعَةٌ مِنْ حُكَمَاءِ الْمُلُوْكِ بِأَرْبَعَةِ كَلِمَاتٍ كَأَنَّهَا رُمِيَتْ عَنْ قَوْسٍ Ada empat raja yang bijak yang mengucapkan empat kalimat (yang substansinya sama), seakan meluncur dari dari satu busur;
فَقَالَ مَلِكُ الرُّوْمِ: أَفْضَلُ عِلْمِ الْعُلَمَاءِ اَلسُّكُوْتُ
وَقَالَ مَلِكُ الْفُرْسِ: إِذَا تَكَلَّمْتُ بِالْكَلِمَةِ مَلَكَتْنِيْ، وَلَمْ أَمْلِكْهَا
وَقَالَ مَلِكُ الْهِنْدِ: أَنَا عَلَى رَدِّ مَا لَمْ أَقُلْ أَقْدَرُ مِنِّيْ عَلَى رَدِّ مَا قُلْتُ
وَقَالَ مَلِكُ الصِّيْنِ: نَدِمْتُ عَلَى الْكَلَامِ وَلمْ أَنْدَمْ عَلَى السُّكُوْتِ Raja Romawi berkata: “Sebaik-baik ilmu ulama’ adalah diam”.
Raja Persia berkata: “Jika aku mengucapkan satu kata, satu kata itu mengendalikan diriku dan aku tidak mampu mengendalikannya”.
Raja India berkata: “Aku lebih mampu membantah sesuatu yang belum aku ucapkan daripada membantah yang sudah aku ucapkan”.
Raja Cina berkata: “Saya menyesali perkataan yang terucap dan tidak menyesali diam”.
وَلْيَعْلَمْ أَنَّ الْحَاجَةَ إِلَى الصَّمْتِ أََكْثَرُ مِنَ الْحَاجَةِ إِلَى الْكَلَامِ، لِأَنَّ الْحَاجَةَ إِلَى الصَّمْتِ عَامَّةٌ، وَالْحَاجَةُ إِلَى الْكَلَامِ عَارِضَةٌ، فَلِذَلِكَ مَا وَجَبَ أَنْ يَكُوْنَ صَمْتُ الْعَاقِل فِي الْأَحْوَالِ أَكْثَرَ مِنْ كَلَامِهِ فِيْ كُلِّ حَالٍ Dan hendaklah seseorang mengetahui bahwa kebutuhan kepada diam lebih banyak daripada kebutuhan kepada bicara, sebab kebutuhan kepada diam bersifat umum (sepanjang waktu), sedangkan kebutuhan kepada bicara bersifat temporer, oleh karena itu menjadi sebuah kewajiban agar seorang yang berakal lebih banyak diam dalam keadaan bagaimanapun dari pada berbicara yang sesuai dengan situasi dan kondisi
حُكِيَ أَنَّ بَعْضَ الْحُكَمَاءِ رَأَى رَجُلاً يُكْثِرُ الْكَلَامَ وَيُقِلُّ السُّكُوْتَ، فَقَالَ لَهُ: إِِنَّ اللهَ تَعَالَى إِنَّمَا جَعَلَ لَكَ أُذُنَيْنِ وَلِسَانًا وَاحِدًا لِيَكُوْنَ مَا تَسْمَعُهُ ضِعْفَ مَا تَتَكَلَّمَ بِهِ، فَإِذَا دَعَتْهُ الْحَاجَةُ إِلَى الْكَلَاَمِ سَبَرَهُ Diceritakan bahwa seorang bijak melihat seorang lelaki yang banyak berbicara dan sedikit diam, maka ia berkata kepadanya: “Sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan untukmu dua telinga dan satu lidah, agar apa yang engkau dengar dua kali lipat dari apa yang engkau ucapkan, jika ada keperluan untuk berbicara, maka ia memilih-milihnya terlebih dahulu
وَقِيْلَ: اللِّسَان وَزِِيْرُ الْإِنْسَانِ، فَإِذَا تَكَلَّمَ حَذِرَ مِنَ الْإِكْثَارِ، فَقَلَّ مَنْ كَثُرَ كَلَامُهُ إِلَّا وَكَثُرَ نَدَمُهُ Dikatakan: Lidah adalah menterinya manusia, oleh karena itu, jika ia berbicara hendaklah hati-hati jangan sampai kebanyakan, sebab, sedikit sekali orang yang banyak berbicara kecuali akan banyak pula penyesalannya
وَقَدْ قِيْلَ: مَنْ كَثُرَ كَلَامُهُ كَثُرَتْ آثَامُهُ Dikatakan pula: Siapa yang banyak berbicara, banyak pula dosanya
وَلَا يَنْبَغِيْ أَنْ يَعْجَبَ بِجِيْدٍ كَلَامِهِ وَلَا بِصَوَابِ مَنْطِقِهِ، فَإِنَّ الْإِعْجَابَ بِهِ سَبَبُ الْإِكْثَارِ مِنْهُ Dan janganlah seseorang takjub kepada pembicaraannya yang baik dan logikanya yang benar, sebab rasa takjub ini menyebabkan ia banyak berbicara
وَقَدْ قِيْلَ: مَنْ أُعْجِبَ بِقَوْلِهِ أُصِيْبَ بِعَقْلِهِ Dikatakan pula: Siapa yang takjub dengan ucapannya, niscaya akalnya akan tertimpa sesuatu

Ada beberapa hal yang dapat digaris bawahi dan perlu sedikit mendapat ulasan dari PETUAH_11 ini, diantaranya:
PETUAH_11 ini sebenarnya masih kelanjutan dari PETUAH_10, namun karena panjang, maka pengirimannya saya buat dalam dua PETUAH. Oleh karena itu, PETUAH_11 ini masih berbicara tentang pentingnya seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi untuk lebih banyak diam dari pada berbicara. Oleh karena itu, dalam PETUAH_11 ini, Imam Mawardi masih menjelaskan tentang keuntungan-keuntungan diam bagi seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi.
Diantara keuntungan-keuntungan lain dari diam (selain yang telah disebutkan dalam PETUAH_10), termasuk di dalamnya adalah keuntungan-keuntungan diam secara siyasi adalah sebagai berikut:
Dengan diam, maka rasa cinta diantara dua orang, atau dua pihak, akan tetap terjaga kejernihan dan kebeningannya.
Engan diam, maka seseorang, khususnya seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, akan aman dari akibat buruk.
Dengan diam, maka seseorang, khususnya seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi akan mendapatkan waqar (wibawa).
Dengan diam, maka seseorang, khususnya seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, tidak perlu keluar ongkos atau biaya klarifikasi, atau meminta maaf, atau membuat bayanat untuk memperjelas dan meluruskan pernyataannya, dan untuk keperluan-keperluan semacam ini yang lainnya.
Ada hal menarik yang disebutkan Imam Mawardi dalam kitab-nya ini, yaitu tentang adanya kesamaan substansi dari pernyataan empat orang raja yang bijaksana, dari negeri yang berbeda-beda dan saling berjauhan. Hal ini menandakan bahwa “kesepakatan” mereka merupakan kesamaan pengalaman yang sangat perlu diperhatikan oleh semua raja, atau pemimpin, atau pejabat atau politisi. (silahkan dibaca dan direnungkan kembali ucapan empat raja yang bijaksana tersebut).
Kaidah umumnya adalah sebagai berikut:
Kebutuhan kepada diam bersifat asas, umum dan berlaku sepanjang waktu, sedangkan kebutuhan untuk berbicara bersifat temporer, yaitu manakala keadaan benar-benar menuntut seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi untuk berbicara.
Jika seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, hendaklah ia melakukan proses as-sabr, yaitu menyiapkan berbagai opsi konten berbicara, lalu menyeleksinya satu persatu, dan baru setelah melakukan penyeleksian seksama, ia berbicara dengan yang terbaik.
Dan jika seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi sudah melakukan proses as-sabr tersebut, dan mengharuskannya berbicara, maka, hendaklah ia berhati-hati, jangan sampai berbicara kebanyakan.
Dan kalau seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi sudah berbicara, dan ternyata, pembicaraannya tepat dan benar, serta logikanya bagus, jangan sampai hal ini menjadikannya takjub, sebab, begitu dia takjub, maka ia akan terperosok untuk banyak berbicara, yang berarti ia akan terjerumus kepada situasi yang berpotensi besar mebahayakannya secara siyasi.
Kenapa seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi harus senantiasa komitmen dengan kaidah-kaidah umum ini? Sebab:
Mulut manusia hanya satu sedangkan telinganya dua, hal ini mengajarkan agar manusia, khususnya seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, lebih banyak diam dari pada bicara.
Siapa yang banyak berbicara, niscaya akan banyak menyesal.
Siapa yang banyak berbicara, niscaya akan banyak dosanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *