Petuah #10 – DURAR AL-SULÛK FÎ SIYÂSAT AL-MULÛK

KAJIAN KITAB DURAR AL-SULÛK FÎ SIYÂSAT AL-MULÛK

(PETUAH-PETUAH TAUJIH SIYASI UNTUK PARA RAJA DAN PEMIMPIN)

Karya Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Habib al-Mawardi (364 – 450 H / 974 – 1058 M)

Petuah #10

دَلَائِلُ الْوَقار

Tanda-Tanda waqar (tenang berwibawa)

وَإِذَا كَانَ الْوَقَارُ مَحْمُودًا، وَكَانَ الْإِنْسَانُ بِهِ مَأْمُورا، فَوَاجِبٌ أَنْ نَصِفَ مِنْهُ فُصُوْلاً دَالَّةً يَتْبَعُ بَعْضُهَا بَعْضًا

Jiwa waqar sesuatu yang terpuji, dan manusia diperintahkan untuk memilikinya, maka menjadi kewajiban kita untuk mendiskripsikannya dalam beberapa pasal yang susul menyusul (sambung menyambung) yang semakin memberi penjelasan tentangnya.

فَمِنْ ذَلِكَ:
قِلَّةُ التَّسَرُّعِ إِلَى الشَّهَوَاتِ وَالتَّثَبُّتِ عِنْدَ الشُّبُهَاتِ.
وَاجْتِنَابُ سُرْعَةِ الْحَرَكَاتِ وَخِفَةُ اْلإِشَارَاتِ
ثُمَّ إِطْرَاقُ الطَّرَفِ
وَلُزُوْمُ الصَّمْتِ، فَإِنَّهُ أَبْلَغُ فِي الْوَقَارِ وَأَسْلَمُ مِنْ هَذْرِ الْكَلَامِ، مَعَ أَنَّ الْمَلِكَ مَلْحُوْظُ اْلأَنْفَاسِ مَنْقُوْلُ اللَّفْظِ

Diantaranya:
Tidak terburu-buru memenuhi tuntutan syahwat dan tatsabbut saat terjadi syubhat.
Menjauhi kecepatan gerak dan menghindari kegampangan memberi isyarat
Cenderung “tutup mata”
Tetap diam, sebab diam lebih berkesan mendalam dalam bab waqar ini dan lebih selamat daripada banyak berbicara, padahal seorang raja itu nafasnya diperhatikan dan kosa katanya dinukil di sana sini.

وَقَدْ قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاء: اَلْحَصْرُ خَيْرٌ مِنَ الْهَذْرِ، لِأَنَّ الْحَصْرَ يُضْعِفُ الْحُجَّةَ، وَالْهَذْرُ يُتْلِفُ الْمُهْجَةَ

Sebagian ahli hikmah berkata: “Kosa kata yang dapat dihitung lebih baik daripada banyak berbicara, sebab, kosa kata yang terbatas dan bisa dihitung akan memperlemah argumentasi lawan, sedangkan banyak berbicara dapat membinasakan

Ada beberapa hal yang dapat digaris bawahi dan perlu sedikit mendapat ulasan dari PETUAH_10 ini, diantaranya:
Pada PETUAH_07, Imam Mawardi telah mulai menyinggung tentang, akhlaq politik mana yang mestinya ada pada seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, tepatnya adalah pada pernyataan beliau:

لَكِنَّ السَّكِيْنَةَ وَالْوَقَارَ أَحْمَدُ وَأَوْلَى بِهِ مِنَ الْكِبْرِ وَاْلإعْجَابِ.

Akan tetapi ketenangan dan kewibawaan lebih terpuji dan lebih utama bagi seorang raja dari pada al-kibr dan ‘ujub.
Dan beliau juga menyinggung bahwa sebagian orang, termasuk raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, tidak mampu membedakan – secara praktis dan operasional – mana yang waqar dan mana pula yang al-kibr atau ‘ujub, tepatnya pada pernyataan beliau (PETUAH_07):

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ لَا يُفَرِّقُ بَيْنَ الْكِبْرِ وَالْوَقَارِ

Sebagian orang ada yang tidak dapat membedakan antara al-kibr dan al-waqar (tenang penuh Wibawa).
Oleh karena itu, pada PETUAH_10 ini, Imam Mawardi akan memulai menjelaskan tentang دَلاَئِل الْوَقَار (tanda-tanda waqar) ini, dan beliau berjanji akan menjelaskannya dalam فُصُوْلا (banyak pasal), di mana sebagian pasal akan disusul dan diiringi oleh pasal berikutnya, dan penjelasan ini menurut beliau adalah sebuah kewajiban yang mesti beliau tunaikan.
Dalail Waqar yang beliau maksud diantaranya adalah:

قِلَّةُ التَّسَرُّعِ إِلَى الشَّهَوَاتِ

(tidak terburu-buru memenuhi tuntutan syahwat). Perlu diketahui bahwa seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, adalah manusia-manusia yang lebih banyak bertemu dengan berbagai syahwat dibandingkan dengan manusia lainnya yang bukan raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi. Akhlaq siyasi ini sangat penting dan sangat terkait langsung dengan bagaimana seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi men-siyasat dirinya. Jika ia berhasil dalam men-siyasat dirinya dalam hal ini, insyaAllah, ia akan lebih berhasil dalam men-siyasat orang lain. (baca lagi PETUAH_04).
اَلتَّثَبُّتُ عِنْدَ الشُّبُهَاتِ (tatsabbut saat syubhat). Syubhat adalah keadaan yang belum jelas, masih simpang siur, begini dan begitu, katanya dan katanya, saya dengar dan saya dengar, dan keadaan yang semacam ini.
Saat seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, berada dalam situasi seperti ini, tugasnya adalah tatsabbut, yaitu mencari titik kebenaran dari keadaan tersebut. Ia perlu mengerahkan “mata”, “telinga” dan “hati”-nya, dan dari berbagai sumber, dan bukan sekedar satu sumber, atau second opini saja. Setelah “mata”-nya banyak melihat, “telinga”-nya banyak mendengar, maka hendaklah ia pergunakan “hati” atau “fuad”-nya untuk menilai kebenaran dari keadaan yang sempat membuatnya bingung.
Ada 4 akhlaq siyasi yang harus dilakukan oleh seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, saat dia berada dalam keadaan syahwat dan syubhat ini, yaitu:
اِجْتِنَابُ سُرْعَةِ الْحَرَكَاتِ yaitu menjauhi atau menghindari gerakan atau tindakan yang cepat, segera dan terburu-buru dalam merespon keadaan.
خِفَةُ اْلإِشَارَاتِ yaitu satu sikap akhlaq yang mudah dan gampang sekali mengeluarkan isyarat, yang gara-gara isyarat ini, orang-orang yang ada di sekeliling seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi akan segera merespon dan lalu meng-eksekusinya.
إِطْرَاقُ الطَّرَفِ yaitu satu sikap akhlaq yang tetap bertahan dalam keadaan berfikir, merenung, menimbang dan mencari solusi terbaik dari keadaan yang sedang dihadapinya. Seakan-akan ia “tutup mata”, atau “menuli” (jawa: “mbudeg”) terhadap keadaan yang ada.
لُزُوْمُ الصَّمْتِ yaitu satu sikap akhlaq yang tetap bertahan untuk diam dan tidak memberi komentar, atau tanggapan, baik secara lisan maupun tulisan, dan bahkan tidak mengekspresikannya dalam bahasa tubuh apa pun.
Semua ini hendaklah menjadi akhlaq seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, agar dia memiliki waqar yaitu pembawaan yang tenang dan penuh wibawa, tetapi, jangan sampai juga, dengan alasan ingin waqar malah terjerumus ke dalam akhlaq al-kibr atau ‘ujub, sebab, perbedaan diantara keduanya memang tipis (beti), khususnya dalam tataran praktek dan operasional.
Kenapa hal ini mesti dilakukan dan menjadi akhlaq seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi?
Alasannya adalah:

لأَنَّ الْمَلِكَ مَلْحُوْظُ اْلأَنْفَاسِ مَنْقُوْلُ اللَّفْظِ

Sebab seorang raja itu nafasnya diperhatikan dan kosa katanya dinukil di sana sini
Termasuk dalam pengertian “raja” di sini adalah seorang pemimpin, atau pejabat, atau politisi.
Dan keuntungannya secara siyasi adalah

الْحَصْرُ يُضْعِفُ الْحُجَّةَ، وَالْهَذْرُ يُتْلِفُ الْمُهْجَةَ

kosa kata yang terbatas dan bisa dihitung akan memperlemah argumentasi lawan, sedangkan banyak berbicara dapat membinasakan diri
termasuk membinasakan diri dan organisasi secara siyasi.

One Comment

  1. Lanjutkan sangat bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *