Pertanyaan Tentang Kualitas Hadits

Pertanyaan:

Pada suatu kali, dalam sebuah group sosmed, ada yang mengemukakan pertanyaan seperti ini:

« Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bahwa malaikat maut memperhatikan wajah manusia di muka bumi ini 70 kali dalam sehari. Ketika Izrail datang merenungi wajah seseorang, didapati orang itu sedang bergelak-ketawa. Maka berkata Izrail: ‘Alangkah herannya aku melihat orang ini, padahal aku diutus oleh Allah untuk mencabut nyawanya kapan saja, tetapi dia masih terlihat bodoh dan bergelak ketawa’.” Seorang sahabat pernah bertanya: “Wahai Rasululloh, Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?” Rasululloh SAW menjawab: “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling: baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.”

[HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy]»

Jawaban dan Penjelasan:

Setelah membaca di sana sini, dan cukup merepotkan, akhirnya jawaban atas pertanyaan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut (sebatas yang bisa saya lakukan):

Pertama: Gabungan Dua “Hadits” Plus

Pertanyaan di atas merupakan gabungan dari dua “hadits” plus beberapa catatan. Yaitu:

  1. Dari kalimat penanya: (Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas ra bahwa … tetapi dia masih terlihat bodoh dan bergelak-ketawa), perlu dicari dan dijelaskan secara tersendiri.
  2. Dari kalimat: (“Seorang sahabat pernah bertanya: … itulah orang yang paling cerdas”), juga perlu dicari dan dijelaskan secara terpisah.
  3. Menariknya, ternyata bukan hanya ada “dua potongan” yang digabungkan, sebab pertanyaan di atas juga mengandung “nilai plus” atau “nilai tambahan”, yang meupakan catatan menarik untuk sedikit dibahas, yang insyaAllah akan dijelaskan pada bagian ke-empat dari pembahasan ini.

Oleh karena itu, jawaban dan penjelasan yang akan dikemukakan juga dikelola atas dasar tiga hal ini, di samping penambahan penjelasan-penjelasan lainnya, insyaAllah.

Kedua: Penjelasan tentang Penggalan Pertama Pertanyaan

Bagian atau penggalan pertama dari pertanyaan di atas menyatakan: “Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bahwa malaikat maut memperhatikan wajah manusia di muka bumi ini 70 kali dalam sehari. Ketika Izrail datang merenungi wajah seseorang, didapati orang itu sedang bergelak-ketawa. Maka berkata Izrail: ‘Alangkah herannya aku melihat orang ini, padahal aku diutus oleh Allah untuk mencabut nyawanya kapan saja, tetapi dia masih terlihat bodoh dan bergelak ketawa’.”

“Hadits” dengan redaksi seperti di atas tidak dapat diketemukan versi persisnya dalam berbagai referensi kitab hadits yang saya miliki.

Redaksi yang mendekati redaksi yang ditanyakan dapat diketemukan dalam kitab at-Tadzkirah Biahwalil Mauta wa Umuril Akhirah karya Imam al-Qurthubi (wafat 671 H = 1273 M) sebagai berikut:

وَرَوَى أَبُوْ هُدْبَةَ إِبْرَاهِيْمُ بْنُ هُدْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَنَسٌ بْنُ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : «إِنَّ مَلَكَ الْمَوْتِ لَيَنْظُرُ فِيْ وُجُوْهِ الْعِبَادِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعِيْنَ نَظْرَةً. قَالَ: إِذَا ضَحِكَ الْعَبْدُ الَّذِيْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ: يَقُوْلُ: عَجَبًا، بُعِثْتُ إِلَيْهِ لِأَقْبِضَ رُوْحَهُ وَهُوَ يَضْحَكُ» وَاللهُ أَعْلَمُ.

Abu Hudbah Ibrahim bin Hudbah ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya malaikat maut selalu melihat ke wajah para hamba dalam sehari 70 kali melihat. Ia berkata: Jika seorang hamba yang malaikat maut itu diutus kepadanya tertawa, malaikat maut berkata: sungguh mengherankan, aku diutus kepadanya untuk mencabut nyawanya, sementara ia tertawa”.

Imam Qurthubi menutup penyebutan periwayatan “hadits” ini dengan menulis: Dan Allah SWT Lebih Mengetahui. Lihat: At-Tadzkirah Biahwalil Mauta wa Umuril Akhirah, halaman 264.

Yang menarik, “hadits” ini termasuk salah satu hadits yang ada dalam kitab Tanzihusy-Syari’ah al-Marfu’ah ‘Anil Akhbar asy-Syani’ah al-Maudhu’ah (membersihkan syari’ah yang sangat dijunjung tinggi dari berita-berita buruk yang perlu direndahkan), sebuah kitab kumpulan hadits maudhu’ yang ditulis oleh Nuruddin Ali bin Muhammad bin Ali bin Abdirrahman bin ‘Arraq al-Kannani (907 – 963 H = 1502 – 1556 M).

Artinya, “hadits” di atas termasuk hadits maudhu’ yang perlu dibuang dari syari’ah, agar syari’ah Islam tetap luhur nan tinggi serta bersih suci.

(lihat Tanzihusy-Syari’ah juz 2 halaman 375, hadits no. 41).

Bagaimana penjelasan “hadits” ini sebagai hadits maudhu’, insyaAllah akan dibahas tersendiri.

Ketiga: Penjelasan tentang Penggalan Kedua dari Pertanyaan

Bagian atau penggalan kedua dari pertanyaan adalah sebagai berikut:

“Seorang sahabat pernah bertanya: “Wahai Rasululloh, Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?” Rasululloh SAW menjawab: “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling: baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas”.

“Hadits” dengan redaksi seperti ini pun tidak diketemukan secara persis 100 persen. Yang berhasil diketemukan adalah sebagai berikut:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا – أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ: فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ؟ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا، وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ»

Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya ia berkata: Saya pernah bersama Rasulullah SAW, lalu datanglah seorang lelaki dari Anshar, kemudian ia memberi salam kepada nabi SAW, kemudian berkata: Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling afdhal? Beliau SAW menjawab: «Yang terbaik akhlaqnya dari mereka». Lelaki itu berkata: lalu, mukmin manakah yang paling cerdas? Beliau SAW menjawab: «Yang terbanyak mengingat kematian, dan yang terbaik mempersiapkan setelah  kematian, mereka itu orang-orang yang cerdas».

Redaksi hadits ini diambil dari Sunan Ibnu Majah, dan para penelitinya menilai hadits ini sebagai hadits hasan. Lihat Sunan Ibnu Majah hadits no. 4259.

Hadits Ibnu Umar ra. ini juga dapat dilihat pada Al-Mu’jamush-Shaghir karya Ath-Thabarani hadits no. 1008.

Juga pada Al-Mu’jamul Kabir karya Ath-Thabarani juga hadits no. 13536.

Juga pada Makarimul Akhlaq karya Ibnu Abid-Dun-ya hadits no. 3.

Keempat: Ada yang Plus Dalam Pertanyaan

Sebagaimana telah dijelaskan di bagian awal dari penjelasan ini bahwa pada pertanyaan yang dikemukakan oleh si penanya, ada beberapa “plus” atau penambahan, yaitu:

  1. Sebenarnya, pertanyaan yang dikemukakan merupakan dua “hadits”, namun oleh penanya digabungkan menjadi seakan satu “hadits”.
  2. Nama sahabat yang disebut dalam pertanyaan adalah Ibnu Abbas ra. padahal, yang maudhu’, penuturnya adalah Ibrahim bin Hudbah yang mengklaim secara maudhu’ bahwa ia menerima penuturannya dari Anas bin Malik ra. padahal Anas bin Malik ra. bari-un minhu. Dan yang satunya lagi, dan yang dinilai sebagai hadits hasan oleh para peneliti hadits, adalah dari Ibnu Umar ra. dan bukan dari Ibnu Abbas ra.
  3. Ada penyebutan nama malaikat pencabut nyawa sebagai malaikat ‘Izrail. Padahal, keberadaan satu malaikat yang bernama ‘Izrail itu tidak memiliki dalil shahih yang dapat dijadikan sandaran atau pegangan.
  4. Ada istilah: HR Ibnu Majah, … dan Al Haitsamiy. Padahal, dalam ilmu hadits, Al Haitsamiy tidak termasuk ulama’ yang mengeluarkan hadits, beliau “hanyalah” satu dari sekian ulama’ yang menghimpun (bukan mengeluarkan) hadits dari para ulama hadits sebelumnya. Mestinya, kalau mau menyebut nama Al Haitsamiy, kosa kata yang dipakai bukanlah “HR” yang merupakan kepanjangan dari “Hadits Riwayat”, akan tetapi, terkait dengan Al Haitsamiy, yang tepat adalah: “dan disebutkan oleh Al Haitsamiy”.

Sebagai tambahan, bila nama Al Haitsamiy disebut, alangkap indahnya kalau ditambahkan dengan pernyataan: “dan ia berkata …”.

Dan terkait dengan hadits yang ditanyakan ini, Al Haitsamiy berkata:

قُلْتُ: رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ بِاخْتِصَارٍ. رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الصَّغِيرِ، وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ.

Saya (Al Haitsamiy) berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah secara singkat. Juga diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam ash-Shaghir dengan isnad hasan. Lihat Majma’uz-Zawaid (10/309) hadits no. 18214.

Kelima: Kenapa Bagian Pertama dari Pertanyaan Dinilai Sebagai Maudhu’ oleh Para Ulama’?

Para ulama’ menilai bagian pertama dari pertanyaan sebagai maudhu’, karena penuturnya adalah Ibrahim bin Hudbah yang mengklaim bahwa ia mendapatkan apa yang dituturkannya itu dari Anas bin Malik ra.

Siapakah Ibrahim bin Hudbah ini?

Imam an-Nasa-iy (215 – 303 H = 830 – 915 M) berkata:

Ibrahim bin Hudbah adalah seseorang yang matrukul hadits (hadits-nya ditinggalkan). Lihat: Adh-Dhu’afa wal Matrukin, hal. 12 no. 9, sebagai penambahan terhadap kitab adh-Dhu’afa ash-Shaghir karya Imam Bukhari.

Ibnu Abi Hatim (240 – 327 H = 854 – 938 M) berkata:

Saya bertanya kepada ayah saya tentang Ibrahim bin Hudbah, maka ayah menjawab: Ia kadzdzab (seorang pendusta). Lihat: al-Jarh wat-Ta’dil (2/143), hadits no. 471.

Ibnu Hibban (wafat 354 H = 965 M) berkata:

Ibrahim bin Hudbah Abu Hudbah meriwayatkan dari Anas bin Malik. Ia (Ibrahim) itu dajjalun minad-dajajilah (simbul pendusta terbesar dari sekian banyak simbul pendusta yang ada). Dulunya, dia itu seorang penari di Bashrah yang diundang untuk acara-acara pengantinan, lalu ia menari di sana. Setelah ia menua, mulailah ia meriwayatkan dari Anas bin Malik dan membuat riwayat-riwayat dusta atas nama Anas bin Malik …

Selanjutnya Ibnu Hibban berkata:

Padahal, selama ini Abu Hudbah tidak dikenal sebagai orang yang terlibat dalam periwayatan hadits dan juga tidak dikenal sebagai orang yang menulis hadits. Semua ini Abu Hudbah lakukan sebagai bentuk main-main dan ngledek yang dia lakukan di berbagai forum dan acara pengantinan. Dan Abu Hudbah tetap berprofesi sebagai penari di acara pengantinan sehingga menua dan setelah menua dia mengklaim bahwa ia mendengar dari Anas bin Malik, dan mulailah ia berdusta atas nama Anas bin Malik sebagaimana telah saya jelaskan. Oleh karena itu, tidak halal bagi seorang muslim menulis hadits Abu Hudbah dan tidak boleh pula menyebutnya kecuali dalam keadaan keheran-heranan (dalam arti menolak). Lihat: al-Majruhin minal Muhadditsin wadh-Dhu’afa wal Matrukin (1/114) hadits no. 29.

Ibnu ‘Adiy (277 – 365 H = 890 – 976 M) berkata:

Ibrahim bin Hudbah adalah seseorang yang matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan), bayyinul amri fidh-dha’fi jiddan  (jelas sekali urusannya terkait kedha’ifannya). Lihat: al-Kamil fi Dhu’afa-ir-Rijal.

Al-Khathib al-Baghdadi (392 – 463 H = 1002 – 1072 M) menyebutkan bahwa pada suatu kali Ibrahim bin Hudbah datang, maka berkumpullah banyak orang di sekelilingnya, lalu mereka meminta kepadanya agar menjulurkan kedua kakinya. Maka Ibrahim bin Hudbah bertanya kepada Yahya bin Ma’in, seorang ulama’ pakar rijalul hadits, maka Yahya menjawab: Sebab mereka khawatir, jangan-jangan kaki ente kaki keledai yang menandakan bahwa ente itu syetan. Lihat: Tarikh Baghdad (6/198).

Biografi Ibrahim bin Hudbah juga bisa dilihat pada Tarikhul Islam karya Imam Adz-Dzahabi (13/88-90) no. 8. Dan juga dalam kutubur-rijal lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *