Pengertian Iman (Sayyid Qutb)

Pengertian Iman Menurut Sayyid Qutb

مَفْهُوْمُ الْإِيْمَانِ عِنْدَ سَيِّد قُطْب

Saat menafsirkan ayat berikut, Sayyid Qutb – rahimahullah – berkata:

يَقُوْلُ شَهِيْدُ الْإِسْلَامِ اَلْأُسْتَاذُ “سَيِّد قُطْب” رَحِمَهُ اللهُ فِيْ تَفْسِيْرِ قَوْلِهِ تَعَالَى:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. (Q.S. al-Hujurat: 15).

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (الحجرات: 15)

Jadi, iman itu adalah tashdiq (pembenaran) hati terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya

“فَالْإِيْمَانُ تَصْدِيْقُ الْقَلْبِ بِاللهِ وَبِرَسُوْلِهِ،

Tashdiq yang tidak disertai karaguan dan kebimbangan

اَلتَّصْدِيْقُ الَّذِيْ لَا يَرِدُ عَلَيْهِ شَكٌّ وَلَا ارْتِيَابٌ،

Tashdiq yang tenteram, konstan, sepenuh keyakinan, yang tidak goncang, tidak labil, tidak disusupi bisikan-bisikan kebimbangan, hati dan perasaan tidak maju mundur, yang darinya akan menyemburat jihad dengan harta dan nyawa, fi sabilillah

اَلتَّصْدِيْقُ الْمُطْمَئِنُّ الثَّابِتُ اَلْمُسْتَيْقِنُ الَّذِيْ لَا يَتَزَعْزَعُ وَلَا يَضْطَرِبُ، وَلَا تَهْجِسُ فِيْهِ الْهَوَاجِسُ، وَلَا يَتَلَجْلَجُ فِيْهِ الْقَلْبُ وَالشُّعُوْرُ، وَالَّذِيْ يَنْبَثِقُ مِنْهُ الْجِهَادُ بِالْمَالِ وَالنَّفْسِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ،

Sebab, bila hati telah merasakan manisnya keimanan ini, tenteram kepadanya dan teguh di atasnya, tidak bisa tidak pasti terdorong dengan sendirinya untuk merealisasikan hakikatnya di luar hati, pada realitas kehidupan, pada dunia nyata manusia

فَالْقَلْبُ مَتَى تَذَوَّقَ حَلَاوَةَ هَذَا الْإِيْمَانِ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ وَثَبَتَ عَلَيْهِ، لَا بُدَّ مُنْدَفِعٌ لِتَحْقِيْقِ حَقِيْقَتِهِ فِيْ خَارِجِ الْقَلْبِ، فِيْ وَاقِعِ الْحَيَاةِ، فِيْ دُنْيَا النَّاسِ،

Ia ingin menyatukan antara apa yang dirasakannya di dalam batin yang berupa hakikat keimanan dan apa yang mengelilinginya di luaran yang berupa arus berbagai hal dan realitas kehidupan

يُرِيْدُ أَنْ يُوَحِّدَ بَيْنَ مَا يَسْتَشْعِرُهُ فِيْ بَاطِنِهِ مِنْ حَقِيْقَةِ الْإِيْمَانِ، وَمَا يُحِيْطُ بِهِ فِيْ ظَاهِرِهِ مِنْ مُجْرَيَاتِ الْأُمُوْرِ وَوَاقِعِ الْحَيَاةِ،

Ia tidak lagi mampu bersabar atas terjadinya split antara bentuk keimanan yang dirasakannya dengan bentuk realitas di sekelilingnya

وَلَا يُطِيْقُ الصَّبْرَ عَلَى الْمُفَارَقَةِ بَيْنَ الصُّوْرَةِ الْإِيْمَانِيَّةِ الَّتِيْ فِيْ حِسِّهِ، وَالصُّوْرَةِ الْوَاقِعِيَّةِ مِنْ حَوْلِهِ،

Sebab split ini menyakitinya dan berbenturan dengannya kapan saja

لِأَنَّ هَذِهِ الْمُفَارَقَةَ تُؤْذِيْهِ وَتَصْدِمُهُ فِيْ كُلِّ لَحْظَةٍ،

Dari sinilah meluncurnya semangat berjihad di jalan Allah SWT dengan harta dan nyawa

وَمِنْ هُنَا هَذَا الاِنْطِلَاقُ إِلَى الْجِهَادِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ بِالْمَالِ وَالنَّفْسِ؛

Ia merupakan inthilaq (luncuran) internal dari dalam jiwa seorang mukmin, dengan inthilaq ini ia hendak merealisasikan bentuk yang bercahaya di dalam hatinya, untuk dilihatnya terpersonifikasi dalam realitas kehiduan dan dalam realitas kemanusiaan.

فَهُوَ اِنْطِلَاقٌ ذَاتِيٌّ مِنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ، يُرِيْدُ بِهِ أَنْ يُحَقِّقَ الصُّوْرَةَ الْمُضِيْئَةَ الَّتِيْ فِيْ قَلْبِهِ، لِيَرَاهَا مُمَثَّلَةً فِيْ وَاقِعِ الْحَيَاةِ وَالنَّاسِ،

Perseteruan antara seorang mukmin dengan kehidupan jahiliyah di sekelilingnya adalah perseteruan bawaan yang muncul dari ketidak mampuan seorang mukmin untuk hidup mendua antara persepsi keimanannya dengan realitas praktisnya

وَالْخُصُوْمَةُ بَيْنَ الْمُؤْمِنِ وَبَيْنَ الْحَيَاةِ الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ حَوْلِهِ خُصُوْمَةٌ ذَاتِيَّةٌ نَاشِئَةٌ مِنْ عَدَمِ اسْتِطَاعَتِهِ حَيَاةً مُزْدَوَجَةً بَيْنَ تَصَوُّرِهِ الْإِيْمَانِيِّ وَوَاقِعِهِ الْعَمَلِيِّ،

Juga ketidak mampuan seorang mukmin untuk turun tensi dari persepsi keimanannya yang sempurna, yang indah, yang lurus di tengah jalan realitas praktisnya yang kurang, buruk dan menyimpang.

وَكَذَلِكَ عَدَمِ اسْتِطَاعَتِهِ التَّنَازُلَ عَنْ تَصَوُّرِهِ الْإِيْمَانِيِّ الْكَامِلِ الْجَمِيْلِ الْمُسْتَقِيْمِ فِيْ سَبِيْلِ وَاقِعِهِ الْعَمَلِيِّ النَّاقِصِ الشَّائِنِ الْمُنْحَرِفِ

Oleh karena itu, tidak bisa tidak pasti terjadilah pertarungan antara seorang mukmin dengan jahiliyyah di sekelilingnya, sehingga berakhirlah jahiliyyah ini beralih kepada persepsi keimanan dan kehidupan keimanan.

فَلَا بُدَّ مِنْ حَرْبٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ حَوْلِهِ حَتَّى تَنْتَهِيَ هَذِهِ الْجَاهِلِيَّةُ إِلَى التَّصَوُّرِ الْإِيْمَانِيِّ وَالْحَيَاةِ الْإِيْمَانِيَّةِ”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *