PEMIMPIN DENGAN LOGIKA AMNY

Al-kisah..

Ada seorang perwira polisi yang kepincut dengan dakwah Hasan al-Banna. Namanya Shalah Syadi (1340 – 1409 H = 1921 – 1989 M), maka bergabunglah ia dalam barisan pengikut Hasan al-Banna, meskipun tetap bertugas sebagai seorang perwira polisi dengan pangkat terakhir mayor jendral polisi.

Di awal ia kepincut dengan Hasan al-Banna, dan setelah mendapatkan taujih tentang tugas seorang perwira polisi dalam berdakwah, ia semacam “kebakaran” taujih, terlalu semangat ingin segera menjadi seorang polisi yang da’i.

Maka ia pun mempersiapkan diri untuk mencegah terjadinya suatu kemungkaran, dengan berbagai cara, termasuk kalaupun harus mengawasi dan mengontrol secara ketat seluruh ucapan, tindakan, sikap dan perbuatan manusia. Mungkin, seandainya niatan itu terjadi di zaman sekarang, dia akan pergunakan segala macam perangkat tehnologi yang sangat dan super canggih untuk melakukan tindakan sadap menyadap di sana sini. Ia akan pasang perangkat dan alat sadap suara. Kalu belum cukup, mungkin ia akan pasang perangkap dan alat sadap video. Mungkin ia akan pasang berbagai kamera sisitivi di mana-mana, baik kelihatan dan tampak atau pun yang rahasia. Pokoknya, berbagai ide dan gagasan untuk “mencegah” terjadinya kemunkaran ada di kepala beliau.

Selagi semangat-semangat untuk “mencegah” kemungkaran, dalam suatu majlis pengajian (tarbiyah) dengan Hasan al-Banna, ia mendengar satu hadits nabi yang berbunyi:

وَعَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا – قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «إِنَّكَ إِنْ اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ النَّاسِ فَقَدْ أَفْسَدْتَهُمْ، أَوْ كِدْتَ أَنْ تُفْسِدَهُمْ»

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan – radhiyallahu ‘anhuma – ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: «Sesungguhnya, jika kamu membuntuti aurat-aurat (rahasia-rahasia, atau aib-aib) orang, maka sungguh engkau telah membinasakan mereka, atau hampir-hampir saja membinasakan mereka».

Sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam As-Sunan [4888], Al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad [248], Ibnu Hibban dan Ash-Shahih [5760]. (bisa juga dirujuk dan dilihat dalam Shahihul Jami’ [2295] dan Shahih at-Targhib wat-Tarhib [2342].

Mendengar dibacakannya hadits shahih tersebut, maka lenyaplah seluruh ide, gagasan, dan niatan Shalah Syadi untuk “mengontrol” masyarakat guna mencegah terjadinya kemungkaran dari mereka. Sebagai gantinya, ia pun mempergunakan cara-cara penyuluhan, pembinaan, keteladanan yang baik, dan bukti nyata dalam kerja-kerja kebaikan. Dan hasilnya, sebagaimana diceritakannya dalam buku حَصَادُ الْعُمْرِ ternyata sangat luar biasa positif, meskipun dia tidak mempergunakan “alat-alat control” (atau istilah sekarang: sadap) segala.

Hadits shahih yang didengar oleh Shalah Syadi ini mengajarkan bahwa kalau seorang pemimpin, atau atasan, atau pejabat, mulai berusaha mengorek-ngorek, mencari-cari, dan membuntuti setiap ucapan, tindakan, perbuatan dan gerak-gerik “bawahan”, atau rakyatnya, maka sang pemimpin, atau atasan, atau pejabat itu malahan tidak memperbaiki mereka, justru malam membinasakan dan menghancurkan mereka, disamping menghancurkan dirinya sendiri. Dan lebih berbahaya lagi adalah menghancurkan lembaganya sendiri, atau organisasinya sendiri, atau bahkan negaranya.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan – radhiyallahu ‘anhuma – yang pernah mendapatkan wejangan ini dari Rasulullah SAW, di saat ia menjadi seorang pemimpin, mulai saat sebagai gubernur Syam, sampai menjadi amirul mukminin dan khalifah, ia betul-betul sangat berkomitmen untuk menerapkan hadits nabi ini.

Terkait hal ini, Abud-Darda’ – radhiyallahu ‘anhu – berkata:

كَلِمَةٌ سَمِعَهَا مُعَاوِيةُ مِنْ رَسُوْلِ الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَفَعَهُ الله بِهَا

Satu kalimat yang pernah didengar oleh Mu’awiyah (RA) dari Rasulullah SAW yang Allah SWT memberi manfaat kepadanya.

Memangnya seperti apa gambaran dari maksud “membinasakan” ini?

Dalam menjelaskan maksud dari kalimat “membinasakan” ini, ada beberapa pendapat para ulama’. Diantaranya:

  1. Bahwa, dengan mengorek-ngorek, mencari-cari, memata-matai dan membuntuti bawahan, atau anggota atau rakyat, niscaya upaya pembuntutan ini akan berbuntut kepada keluarnya tuduhan yang bisa berakibat kepada binasa nya pihak yang dibuntuti, atau paling tidak berakibat kepada tertimpanya pihak yang dibuntuti oleh suatu mudharat, mulai dari mudharat yang masih ringat, sampai mudharat yang paling berat, misalnya:
    1. Karena “ketahuan”, maka bawahan atau anggota atau rakyat itu perlu “dibatasi” ruang geraknya, atau
    2. Perlu dipinggirkan (di-tahmisy): dikurangi haknya untuk mendapatkan pekerjaan, atau jabatan, atau menangkap suatu peluang, baik peluang pendidikan, atau ekonomi, atau pun politik dan semacamnya, atau
    3. Kalau rakyat, atau bawahan atau anggota itu sebelumnya pernah menjabat suatu jabatan, baik jabatan social atau politik, atau jabatan public, di bidang apa pun, maka rakyat atau bawahan, atau anggota itu perlu dihalangi kenaikan pangkat atau jabatannya, atau perlu dikurangi dan diturunkan gajinya, atau malah diskors, atau bahkan diberhentikan, dipecat dan dikeluarkan dari jabatan atau posisinya, atau
    4. Bahkan, bisa jadi, bisa sampai ke tingkat pemenjaraan yang tersangkut, atau
    5. Bahkan, bisa sampai ke tingkat pembunuhan dan penghilangan nyawa, baik melalui proses hukum atau pun tidak melalui proses hukum

Semua ini, atau yang semakna dengan ini adalah bentuk “membinasakan” yang disebut atau yang dimaksud dalam hadits shahih di atas.

  1. Bahkan, kata “membinasakan” juga bisa bermakna dan berdampak ke spectrum yang lebih luas dan lebih mendalam, bukan hanya kepada seseorang yang menjadi korban “pembuntutan” sahaja. Misalnya:
    1. Karena ada seseorang telah menjadi korban “pembuntutan”, maka pastilah keluarga “korban” juga akan ikut “terbinasakan”, mulai dari yang ringan, dan bisa jadi sampai juga ke “pembinasaan” yang sangat berat, atau
    2. Bisa jadi, sebenarnya seseorang yang menjadi korban “pembuntutan” itu adalah seseorang yang sangat pakar di bidang pekerjaannya, hanya saja, karena dia terpeleset, atau tergelincir, atau “keseleo” atau bahkan “terkilir”, yang karenanya, ia harus menerima akibat dari “pembuntutan” itu, yang karenanya pula ia lalu “dibinasakan”, padahal, ada kemungkinan, pos atau jabatan yang diisi olehnya, mungkin saja yang ahli dan pakar hanyalah dia, tetapi, karena ia harus “dibinasakan”, maka pastilah urusan pekerjaan di “pos” dan jabatan itu akan terbengkalai, atau tidak terurus, atau minimal kurang terurus dengan baik. Dan bila hal ini terjadi, maka, “terbinasakannya” seseorang itu pastilah akan berdampak kepada “keterbinasaan” yang lebih luas, bahkan bisa sampai ke tangkat “terbinasakannya” suatu lembaga, atau organisasi, atau bahkan negara.
    3. Itu kalau yang terjadi adalah “terbinasakannya” satu orang. Padahal, upaya-upaya memata-matai, atau membuntuti, atau menyadap dan semacamnya, korbanya bisa ratusan, atau malah ribuan, atau malah jutaan. Dan kalau hal ini terjadi secara massif, lalu terjadi “pembinasaan” secara massif pula, niscaya, lembaga, atau organisasi atau negara itu bisa sampai kepada tingkat “pembinasaan massal”. Dan hal ini pernah terjadi dalam sejarah, yang mengakibatnya “binasa”-nya rumah tangga dan keluarga, sampai kepada tumbang dan hancurnya negara. Dan kisah Uni Sovyet, salah satunya karena hal ini.
  2. Dan pasti, kebenaran sabda Rasulullah SAW dalam hadits di atas, tidaklah hanya berhenti pada apa yang saya tulis, sebab, beliau SAW bersabda dengan Bahasa umum, pasti lah “kebinasaan” itu bisa merembet ke mana-mana, bisa menerjang siapa saja… dan … apa saja.

Barangkali, karena membayangkan hal-hal yang mengerikan seperti ini lah, maka Shalah Syadi mengurungkan dan membatalkan niatnya. Semoga Allah SWT merahmatimu wahai Shalah Syadi, amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *