Pelajaran Indah dari Fragmen Kisah Nabi Yusuf

ISTINBATH JAMIIL

(PEMAHAMAN YANG SANGAT INDAH)

Kisah-kisah Al-Qur’an, seluruhnya, tanpa kecuali, mengandung banyak sekali pelajaran-pelajaran penting nan indah..

Diantaranya, adalah istinbath atau pemahaman dari fragmen kisah berikut

Saat imro-atul aziz (istri petinggi Mesir) “menjebak” nabi Yusuf (AS), Al-Qur’an menceritakannya sebagai berikut:

{وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ} [يوسف: 23]

Dan imro-atul aziz itu pun mengunci semua pintu (Q.S. Yusuf: 23).

Jadi..

Semua pintu telah terkunci..

Atas dasar itu lah, imro-atul aziz lalu berkata:

{هَيْتَ لَكَ}

Marilah ke sini..

Imro-atul aziz itu berkata demikian, karena dia telah yakin se yakin-yakin nya bahwa semua pintu telah terkunci dengan baik, di samping “pengaman-pengaman” lainnya juga sudah dipastikan semuanya okey..

Dan nabi Yusuf (AS) pun mengetahui persis bahwa semua pintu telah dikunci dan “diamankan” oleh imro-atul aziz.

Namun, saat kita lanjutkan bacaan kita terhadap cerita lanjutannya, kita dapati dua hal:

1. Nabi Yusuf (AS) melarikan diri menuju pintu. Bukankah beliau (AS) telah mengetahui bahwa semua pintu telah terkunci??!!

2. Dan imro-atul aziz pun ikut mengejar nabi Yusuf (AS) menuju pintu. Bukankah imro-atul aziz telah memastikan bahwa semua pintu telah terkunci dan karenanya dia mengatakan: هَيْتَ لَكَ. Kenapa dia tidak ungkang-ungkang kaki saja? Dengan keyakinan bahwa semua pintu telah terkunci? Kenapa ikut mengejar menuju pintu?!

Terkait dengan dua hal ini, Allah SWT berfirman:

{وَاسْتَبَقَا الْبَابَ} [يوسف: 25]

Dan keduanya (nabi Yusus dan imro-atul aziz) berkejaran berlomba mencapai pintu terlebih dahulu!! (Q.S. Yusuf: 25).

Hal ini, paling tidak memberi dua pelajaran penting, yaitu:

1. Dari sisi nabi Yusuf (AS). Meskipun beliau telah mengetahui, bahwa semua pintu telah dikunci, namun, sebagai manusia, beliau tetap lah terkena kewajiban untuk al-akhdzu bil asbab. Singkatnya, tetap terkena kewajiban untuk berusaha, betapa pun seperti nya, secara “manusiawi” usaha itu sepertinya tampak akan sia-sia.

2. Dari sisi imro-atul aziz. kenapa dia tetap mengejar nabi Yusuf (AS) menuju pintu? Padahal, bukankah dia telah memastikan bahwa semua pintu telah terkunci??

Hal ini menunjukkan bahwa kebatilan, dan pelaku kebatilan, betapapun ia telah “memastikan” tipu dayanya akan jitu dan tok cerrr, ia tidaklah pernah merasa tenang dan nyaman atas tipu daya nyaitu. Ia akan selalu diselimuti oleh rasa cemas, dan ketidak percayaan atas tipu daya yang telah dibuatnya, betapapun, secara “manusiawi” sudah sangat sangat maksimal, jitu dan tok cerrr…

Ia akan selalu mengalami keterkejutan-keterkejutan, bahkan kepanikan atas setiap usaha yang dilakukan oleh pendukung kebenaran, semisal usaha nabi Yusuf (AS) itu, meskipun sebenarnya, secara “manusiawi” usaha nabi Yusuf (AS) itu akan “sia-sia”.

Demikian lah keadaan kebatilan dan pendukung kebatilan itu…

Ia membawa tabiat laten: rapuh…lemah … dan tidak percaya diri.. dan mudah mengalami kepanikan ..

Karenanya, meskipun ia telah mengunci semua pintu, tetap saja, saat nabi Yusuf (AS) berlari menuju pintu, perempuan itu pun ikut mengejar, sebab ia rapuh, lemah dan tidak percaya diri dan panik. Dalam dirinya dirundung oleh perasaan: “jangan-jangan nabi Yusuf (AS) dapat membuka pintu!!!”.

Oleh karena itu, wahai para pendukung kebenaran…

Janganlah pernah gentar dalam menghadapi kebatilan dan pendukung kebatilan…

Sebab, sedikit saja usaha kalian, niscaya kebatilan dan pendukung kebatilan akan panic dan kalangkabut…

Apa lagi jika usaha dan upaya kalian lebih besar, lebih kuat dan lebih maksimal…!!!

————-

Tulisan diolah dari:

https://ar-ar.facebook.com/ammaronline/posts/10200879752949984

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *