Nasihat dan Fadhihah

Nasihat dan Fadhihah (Membuka Aib) اَلنَّصِيْحَةُ وَالْفَضِيْحَةُ
Muhammad bin Ali Al-Su’wi مُحَمَّد بْنُ عَلِيٍّ اَلسَّعْوِيُّ
Khutbah Pertama اَلْخُطْبَةُ اَلأُوْلَى
Amma Ba’du: أَمَّا بَعْدُ:
Wahai kaum muslimin, bertakwalah kami kepada Allah swt. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun (Q.S. Al-Baqarah: 235). فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى: {وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِيْ أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوْهُ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ} [سورة البقرة: 235].
Wahai seluruh kaum muslimin, sesungguhnya memberikan nasihat kepada kamu muslimin, baik berupa bimbingan kepada kebenaran yang nyata atau pun peringatan dari kebatilan dan para pelakunya, terhitung bagian dari agama. Rasulullah saw. bersabda: “Agama adalah nasihat”, kami (para sahabat) bertanya: “Untuk siapa?”. Rasulullah saw. bersabda: “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum”. مَعْشَرَ الْمُسْلِمِيْنَ: إِنَّ بَذْلَ النَّصِيْحَةِ لِلْمُسْلِمِيْنَ مِنْ إِرْشَادِهِمْ إِلَى الْحَقِّ اَلْمُبِيْنِ، وَتَحْذِيْرِهِمْ مِنَ الْبَاطِلِ وَالْمُبْطِلِيْنَ، يُعْتَبَرُ مِنَ الدِّيْنِ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((اَلدِّيْنُ اَلنَّصِيْحَةُ، قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ ))([1]). قَالَ اَلْخَطَّابِيُّ – رَحِمَهُ اللهُ -: اَلنَّصِيْحَةُ كَلِمَةٌ جَامِعَةٌ مَعْنَاهَا: ((حِيَازَةُ الْحَظِّ لِلْمَنْصُوْحِ لَهُ))([2]).
Al-Khaththabi berkata: “Nasihat adalah sebuah kosa kata yang bersifat merangkum dan menghimpun banyak arti, maknanya adalah: mendatangkan kebaikan kepada pihak yang dinasihati”.
Wahai kaum muslimin! Tidak diragukan lagi bahwa manusia berpotensi salah dan cenderung menyimpang dari al-haq dan kebenaran. Tersebut dalam hadits: “Semua anak keturunan manusia bersifat salah, dan sebaik-baik mereka yang salah adalah yang paling banyak bertaubat”. أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ: لاَ شَكَّ أَنَّ اْلإِنْسَانَ مُعَرَّضٌ لِلْخَطَأِ وَالْمَيْلِ عَنِ الْحَقِّ وَالصَّوَابِ، فَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيْثِ: ((كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ اَلتَّوَّابُوْنَ))([3])، وَمِنْ حَقِّ الْمُسْلِمِ عَلَى أَخِيْهِ اَلْمُسْلِمِ أَنْ يُبَصِّرَهُ بِعُيُوْبِهِ وَأَخْطَائِهِ، وَأَنْ يَنْصَحَ لَهُ فِيْ أَمْرِهِ وَشَأْنِهِ، لَكِنْ يَنْبَغِيْ أَنْ يَكُوْنَ اَلنُّصْحُ بِرِفْقٍ وَحِكْمَةٍ، وَلْيَحْذَرْ اَلْمُسْلِمُ مِنْ اِحْتِقَارِ أَخِيْهِ وَاتِّهَامِهِ بِمُجَرَّدِ الظَّنِّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ، وَكَفَى بِهِ شَرًّا، قَالَ اَلنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((بِحَسْبِ اِمْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ اَلْمُسْلِمَ))([4]).
Dan termasuk hak seorang muslim atas muslim lainnya adalah hendaklah ia menunjukkan kepada saudaranya tentang aib dan kesalahannya, dan hendaklah ia menasihatinya dalam perkara dan urusannya.
Tetapi, nasihat itu hendaklah dilakukan dengan lembut dan hikmah. Hendaklah seorang muslim berhati-hati, jangan sampai menghina saudaranya dan menuduhnya hanya berdasar kepada sekedar persangkaan saja, sebab, persangkaan itu adalah seburuk-buruk pembicaraan, dan cukuplah hal ini sebagai kejahatan. Rasulullah saw. bersabda: Cukuplah seseorang itu menjadi jahat saat ia menghina saudaranya yang muslim
Jika engkau mendengar – wahai seorang muslim – tentang saudara muslim mu sesuatu yang kamu tidak suka, jangan segera membenarkan perkataan tentang saudaramu itu. Justru kewajibanmu adalah untuk melakukan tatsabbut sehingga kamu mendapatkan keyakinan tentangnya, sebab, kebanyakan manusia telah terbiasa menyebar luaskan keburukan secara bathil, dan banyak pula manusia yang buruk sangkanya lebih cepat daripada husnuzhan-nya, oleh karena itu, jangan membenarkan setiap perkataan, walaupun engkau mendengarnya berulang kali sehingga engkau mendengarnya dari yang menyaksikan secara langsung, dan jangan membenarkan orang yang menyaksikannya secara langsung sehingga engkau memastikan kebenaran atas apa yang disaksikannya, dan jangan membenarkan orang yang telah membuktikan kesaksiannya sehingga engkau memastikan kebersihannya dari tendensi khusus dan hawa nafsu. Untuk inilah Allah swt. memerintahkan kepada kita untuk menjauhi banyak persangkaan, dan memandang sebagian persangkaan itu sebagai dosa, sebab zhan itu bertolak belakang dengan ilmu dan ia tidak memberi arti apa-apa terhadap kebenaran. Allah swt. berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. (Q.S. Al-Hujurat: 12). فَإِذَا سَمِعْتَ – أَيُّهَا الْمُسْلِمُ – عَنْ أَخِيْكَ اَلْمُسْلِمِ شَيْئًا تَكْرَهُ، فَلاَ تُبَادِرْ إِلَى تَصْدِيْقِ مَا يُقَالُ لَكَ عَنْهُ؛ بَلْ يَجِبُ عَلَيْكَ أَنْ تَتَثَبَّتَ حَتَّى تَسْتَيْقِنَهُ، فَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ اِعْتَادَ إِشَاعَةَ السُّوْءِ بِالْبَاطِلِ، وَكَثِيْرًا مِنْهُمْ مَنْ إِسَاءَةُ الظَّنِّ عِنْدَهُ أَسْرَعُ مِنْ حُسْنِ الظَّنِّ، فَلاَ تُصَدِّقْ كُلَّ مَا يُقَالُ، وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِرَارًا حَتَّى تَسْمَعَهُ مِمَّنْ شَاهَدَهُ بِعَيْنِهِ، وَلاَ تُصَدِّقْ مَنْ شَاهَدَ اْلأَمْرَ بِعَيْنِهِ حَتَّى تَتَأَكَّدَ مِنْ تَثَبُّتِهِ فِيْمَا شَاهَدَ، وَلاَ تُصَدِّقْ مَنْ تَثَبَّتَ فِيْمَا شَاهَدَ حَتَّى تَتَأَكَّدَ مِنْ بَرَاءَتِهِ مِنَ الْغَرَضِ وَالْهَوَى، وَلِذَلِكَ أَمَرَنَا اللهُ تَعَالَى بِاجْتِنَابِ كَثِيْرٍ مِنَ الظَّنِّ، وَاعْتَبَرَ بَعْضَهُ إِثْمًا، فَالظَّنُّ يُنَافِيْ اَلْعِلْمَ وَلاَ يُغْنِيْ مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا، قَالَ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُوْا} [سورة الحجرات:12]. وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: {وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِنْ يَتَّبِعُوْنَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لاَ يُغْنِيْ مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا} [سورة النجم:28].
Firman Allah yang lain: dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran (Q.S. An-Najm: 28).
Dan jika engkau melihat – wahai seorang muslim – suatu urusan, atau sampai kepadamu tentang saudaramu suatu perkataan yang memiliki dua kemungkinan arti, maka, bawalah maksud perkataannya itu kepada maksud yang baik, sebab yang demikian ini lebih sesuai dengan akhlaq mulia dan lebih mencerminkan ukhuwwah yang bening. Umar bin Al-Khaththab ra. Berkata: Janganlah kamu menyangka satu kosa kata yang keluar dari saudara mukmin mu kecuali kebaikan, sedangkan engka mendapati kemungkinan maksud yang baik dari perkataannya وَإِذَا رَأَيْتَ – أَيُّهَا الْمُسْلِمُ – أَمْرًا، أَوْ بَلَغَكَ عَنْ أَخِيْكَ اَلْمُؤْمِنِ كَلاَمٌ يَحْتَمِلُ وَجْهَيْنِ فَاحْمِلْهُ مَحْمَلاً حَسَنًا، فَذَلِكَ أَجْدَرُ بِمَكَارِمِ اْلأَخْلاَقِ وَصَفَاءِ اْلأُخُوَّةِ، قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : ((لاَ تَظُنَّنَّ بِكَلِمَةٍ خَرَجَتْ مِنْ أَخِيْكَ الْمُؤْمِنِ إِلاَّ خَيْرًا وَأَنْتَ تَجِدُ لَهَا فِي الْخَيْرِ مَحْمَلاً))([5]).
Puteri dari Abdullah bin Muthi’ berkata kepada suaminya Thalhah bin Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhum. Di zamannya Thalhah adalah orang Quraisy yang paling derma. Istrinya berkata: “Saya tidak melihat satu kaum yang lebih buruk dari saudara-saudaramu!”. Thalhah berkata kepada istrinya: “hush hush! Kenapa demikian?”. Istrinya menjawab: “Saya melihat mereka, kalau kamu sedang ada uang, mereka nempel terus kepadamu, dan jika kamu sedang tidak mempunyai apa-apa, mereka meninggalkanmu”. Maka Thalhah berkata kepada istrinya: “Ini, demi Allah, adalah bukti bahwa mereka berakhlaq mulia, mereka datang kepada kita saat kita mampu memuliakan mereka, dan mereka meninggalkan kita saat kita tidak mampu memenuhi hak-hak mereka”. قَالَتْ بِنْتُ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُطِيْعٍ لِزَوْجِهَا طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، وَكَانَ طَلْحَةُ أَجْوَدَ قُرَيْشٍ فِيْ زَمَانِهِ، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ قَوْمًا أَلْأَمَ مِنْ إِخْوَانِكَ، قَالَ لَهَا: مَهْ مَهْ! وَلِمَ ذَلِكَ؟ قَالَتْ: أَرَاهُمْ إِذَا أَيْسَرْتَ لَزَمُوْكَ، وَإِذَا أَعْسَرْتَ تَرَكُوْكَ، فَقَالَ لَهَا: هَذَا وَاللهِ مِنْ كَرَمِ أَخْلاَقِهِمْ، يَأْتُوْنَنَا فِيْ حَالِ قُدْرَتِنَا عَلَى إِكْرَامِهِمْ، وَيَتْرُكُوْنَنَا فِيْ حَالِ عَجْزِنَا عَنِ الْقِيَامِ بِحَقِّهِمْ، فَانْظُرْ كَيْفَ تَأَوَّلَ طَلْحَةُ صَنِيْعَ إِخْوَانِهِ مَعَهُ، وَهُوَ ظَاهِرُ الْقُبْحِ وَالْغَدْرِ بِأَنْ اِعْتَبَرَهُ وَفَاءً وَكَرَمًا.
Coba kamu lihat, bagimana Thalhah men-ta’wil-kan perbuatan saudara-saudaranya terhadapnya, padahal perbuatan itu jelas buruk dan tidak kenal budi, namun demikian, ia memandangnya sebagai bentuk kesetiaan dan kemuliaan.
Wahai seorang muslim! Jika engkau melihat saudara muslim mu melakukan kesalahan yang tidak dapat diterima alasannya atau tidak bisa ditafsirkan lain, maka menjadi kewajibanmu untuk datang kepadanya guna memberi nasihat secara rahasia, antara kamu dan dia sahaja, bukan di depan khalayak, sebab manusia tidak ingin aibnya diketahui oleh siapa pun, jika engkau menasihatinya secara rahasia, maka hal ini lebih berpeluang untuk diterima, lebih menunjukkan ikhlas dan jauh dari syubhat. Adapun jika engkau menasihatinya secara terbuka, di depan banyak orang, maka pada yang demikian ini terdapat syubhat dendam dan popularisasi keburukan, menonjolkan sisi kelebihan diri dan ilmu yang dimiliki. Dan hal ini merupakan penghalang yang mencegah pihak yang dinasihari untuk mendengarkan nasihat serta mengambil pelajaran darinya. أَيُّهَا الْمُسْلِمُ: وَإِذَا رَأَيْتَ أَخَاكَ اَلْمُسْلِمَ قَدْ اِرْتَكَبَ خَطَأً لاَ مَجَالَ فِيْهِ لِعُذْرٍ أَوْ شُبْهَةٍ، وَجَبَ عَلَيْكَ أَنْ تَتَقَدَّمَ إِلَيْهِ بِالنَّصِيْحَةِ سِرًّا، بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ، لاَ أَمَامَ النَّاسِ، فَإِنَّ اْلإِنْسَانَ لاَ يَقْبَلُ أَنْ يَطَّلِعَ أَحَدٌ عَلَى عَيْبِهِ، فَإِذَا نَصَحْتَهُ سِرًّا، كَانَ ذَلِكَ أَرْجَى لِلْقَبُوْلِ، وَأَدَلَّ عَلَى اْلإِخْلاَصِ، وَأَبْعَدَ عَنِ الشُّبْهَةِ، وَأَمَّا إِذَا نَصَحْتَهُ عَلَنًا أَمَامَ النَّاسِ فَإِنَّ فِيْ ذَلِكَ شُبْهَةَ الْحِقْدِ وَالتَّشْهِيْرِ، وَإِظْهَارِ الْفَضْلِ وَالْعِلْمِ، وَهَذِهِ حُجُبٌ تَمْنَعُ مِنِ اسْتِمَاعِ النَّصِيْحَةِ وَالاِسْتِفَادَةِ مِنْهَا.
Di antara akhlaq Nabi saw. dan adabnya dalam mengingkari kemunkaran dan memperjelas kebenaran adalah bahwa jika sampai kepada beliau tentang satu atau sekelompok orang yang melakukan kemunkaran, maka beliau tidak menyebutkan nama mereka secara terbuka, beliau hanya bersabda: “Kenapa ada orang yang berbuat begini dan begini”, lalu orang yang dimaksud memahami bahwa dia lah yang dimaksud oleh nasihat itu. وَلَقَدْ كَانَ مِنْ خُلُقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَدَبِهِ فِيْ إِنْكَارِ الْمُنْكَرِ وَتَبْيِيْنِ الْحَقِّ، أَنَّهُ إِذَا بَلَغَهُ عَنْ أَحَدٍ أَوْ جَمَاعَةٍ شَيْءٌ مِمَّا يُنْكَرُ فِعْلُهُ، لَمْ يَذْكُرْ أَسْمَاءَهُمْ عَلَنًا، وَإِنَّمَا كَانَ يَقُوْلُ: ((مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَفْعَلُوْنَ كَذَا وَكَذَا))، فَيَفْهَمُ مَنْ يَعْنِيْهِ اْلأَمْرُ أَنَّهُ هُوَ اَلْمُرَادُ بِالنَّصِيْحَةِ.
Dan hal ini termasuk cara memberi nasihat dan cara mentarbiyah yang paling tinggi وَهَذَا يُعْتَبَرُ مِنْ أَرْفَعِ أَسَالِيْبِ النُّصْحِ وَالتَّرْبِيَةِ.
Imam Syafi’i berkata: “Siapa yang memberi mauizhah kepada saudara secara rahasia, maka ia telah menasihati dan memperbaikinya, dan siapa yang memberi mauizhah secara terbuka, berarti ia telah membuka aibnya dan memperburukkannya” قَالَ اَلشَّافِعِيُّ – رَحِمَهُ اللهُ -: مَنْ وَعَظَ أَخَاهُ سِرًّا فَقَدْ نَصَحَهُ وَزَانَهُ، وَمَنْ وَعَظَهُ عَلاَنِيَّةً فَقَدْ فَضَحَهُ وَشَانَهُ. فَالْمُؤْمِنُ اَلنَّاصِحُ لَيْسَ لَهُ غَرَضٌ فِيْ إِشَاعَةِ عُيُوْبِ مَنْ يَنْصَحُ لَهُ، وَإِنَّمَا غَرَضُهُ إِزَالَةُ الْمَعْصِيَةِ اَلَّتِيْ وَقَعَ فِيْهَا، فَهُوَ يُحِبُّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.
Jadi, seorang mukmin yang memberi nasihat, ia tidak memiliki tujuan untuk mempublikasikan aib orang yang dinasihatinya. Tujuannya tidak lain adalah menghilangkan kemaksiatan yang ia terjatuh kepadanya, sebab ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. أَمَّا اْلإِشَاعَةُ وَإِظْهَارُ الْعُيُوْبِ فَهُوَ مِمَّا حَرَّمَهُ اللهُ تَعَالَى وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ تَعَالَى: {إِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ أَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِيْنَ آمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ} [سورة النور:19].
Adapun mempublikasikan dan menampakkan aib, maka hal ini termasuk yang diharamkan Allah swt. dan Rasul-Nya saw. Allah swt berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Q.S. An-Nur: 19). فَفَرْقٌ بَيْنَ مَنْ قَصْدُهُ اَلنَّصِيْحَةُ وَبَيْنَ مَنْ قَصْدُهُ اَلْفَضِيْحَةُ، وَلاَ تَلْتَبِسُ إِحْدَاهُمَا بِاْلأُخْرَى إِلاَّ عَلَى مَنْ لَيْسَ مِنْ ذَوِي الْعُقُوْلِ اَلصَّحِيْحَةِ، وَعُقُوْبَةُ مَنْ أَشَاعَ السُّوْءَ عَلَى أَخِيْهِ اَلْمُؤْمِنِ وَتَتَبُّعِ عُيُوْبِهِ وَكَشْفِ عَوْرَتِهِ أَنْ يَتَّبِعَ اللهُ عَوْرَتَهُ فَيَفْضَحُهُ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنٍ إِلاَّ أَنْ يَتُوْبَ.
Jadi, ada perbedaan antara orang yang bertujuan menasihati dan orang yang bertujuan membuka aib. Yang mencampur adukkan di atara keduanya hanyalah orang yang berakal tidak sehat. Hukuman bagi orang yang menyebar luaskan keburukan atas terhadap saudaranya yang beriman dan terus menerus mencari aib-aibnya serta membuka auratnya adalah Allah swt. akan mencari-cari auratnya, lalu membukanya di depan publik walaupun setelah beberapa tempo lamanya, kecuali jika ia bertaubat.
Wahai kaum muslimin! Di antara pertanda ta’yir (mencacat) dan tasyhir (mempopulerkan aib) adalah: menampakkan dan mempublikasikan keburukan dalam kemasan nasihat, ia mengklaim bahwa yang mendorongnya adalah tahdzir (memberi peringatan) atas ucapan dan perbuatannya, dan Allah mengetahui bahwa maksudnya adalah tahqir (merendahkan) dan adza (menyakiti). Contoh hal ini adalah engkau mencela seseorang dan menunjukkan kekurangannya serta menampakkan aibnya supaya manusia berlari darinya, namun maksudmu adalah keinginanmu untuk menyakitinya karena permusuhanmu terhadapnya atau karena sebab-sebab tercela lainnya, engkau tidak mampu mencapai tujuan ini kecuali dengan menampakkan celaan padanya, baik karena adanya sebab dini (agama) atau pun duniawi. Maka, siapa yang melakukan perbuatan demikian, ini merupakan pertanda adanya penyakit dalam hatinya, meskipun hal ini terjadi dari orang yang bersumpah bahwa tidak ada tujuan kecuali kebaikan, sedangkan Allah swt, menjadi saksi bahwa mereja adalah orang-orang yang bohong. أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ: مِنْ مَظَاهِرِ التَّعْيِيْرِ وَالتَّشْهِيْرِ: إِظْهَارُ وَإِشَاعَتُهُ فِي قَالَبِ النُّصْحِ، زَاعِمًا أَنَّ مَا يَحْمِلُهُ عَلَى ذَلِكَ هُوَ اَلتَّحْذِيْرُ مِنْ أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ، وَاللهُ يَعْلَمُ أَنَّ قَصْدَهُ اَلتَّحْقِيْرُ وَاْلأَذَى. مِثَالُ ذَلِكَ: أَنْ تَذُمَّ رَجُلاً وَتَنْتَقِصَهُ وَتُظْهِرَ عَيْبَهُ لِتُنَفِّرَ النَّاسَ عَنْهُ رَغْبَةً مِنْكَ فِيْ إِيْذَائِهِ، لِعَدَاوَتِكَ إِيَّاهُ أَوْ مَخَافَتِكَ مِنْ مُزَاحَمَتِهِ إِيَّاكَ عَلَى مَالٍ أَوْ رِئَاسَةٍ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ مِنَ اْلأَسْبَابِ اَلْمَذْمُوْمَةِ، فَلاَ تَتَوَصَّلُ بِذَلِكَ إِلاَّ بِإِظْهَارِ الطَّعْنِ فِيْهِ بِسَبَبٍ مِنَ اْلأَسْبَابِ اَلدِّيْنِيَّةِ أَوْ اَلدُّنْيَوِيَّةِ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ يَدُلُّ عَلَى مَرَضٍ فِيْ قَلْبِهِ، وَإِنْ كَانَ مِنَ الَّذِيْنَ يَحْلِفُوْنَ أَنَّهُمْ لَمْ يُرِيْدُوْا إِلاَّ الْحُسْنَى، وَاللهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُوْنَ.
Wahai kaum muslimin! Siapa saja yang terkena bencana makar ini, yaitu saat ia dihina, dicacat, ditampakkan sisi kekurangannya, maka hendaklah ia bertakwa dan bersabar, sebab kesudahannya pasti milik yang bertakwa, dan makar buruk itu tidak menghancurkan kecuali pelakunya (Q.S. Fathir: 43) أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ: وَمَنْ بُلِيَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْمَكْرِ بِأَنِ احْتُقِرَ وَعِيْبَ وَتُنَقَّصَ مِنْهُ فَلْيَتَّقِ اللهَ وَلْيَصْبِرْ فَإِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلتَّقْوَى: {وَلاَ يَحِيْقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلاَّ بِأَهْلِهِ} [سورة فاطر:43].
Aku memohon kepada Allah swt. agar Dia mensucikan hati kita dari ghill, dendam dan iri, dan semoga Dia memberikan kepada kita hati yang selamat, mulut yang jujur, ilmu yan bermanfaat dan amal yang shalih. أَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوْبَنَا مِنَ الْغِلِّ وَالْحِقْدِ وَالْحَسَدِ، وَأَنْ يَرْزُقَنَا قُلُوْبًا سَلِيْمَةً، وَأَلْسِنَةً صَادِقَةً، وَعِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلاً صَالِحًا.
Aku ucapkan perkataan ini dan aku memohon pengampunan kepada Allah swt. yang Maha agung, untuk diriku dan untuk kalian seluruhnya dan juga untuk seluruh kaum muslimin, dari segala dosa, oleh karena itu, memintalah pengampunan kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. أَقُوْلُ هَذَا الْقَوْلَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ اَلْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua اَلْخُطْبَةُ اَلثَّانِيَةُ
Segala puji milik Allah, Rabb seluruh alam. Dan kesudahan segala sesuatu adalah bagi mereka yang bertakwa, serta tidak ada permusuhan kecuali atas orang-orang zhalim. اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ.
Dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, satu-satunya yang tiada sekutu bagi-Nya, Maharaja, Maha benar yang nyata. Dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad saw. adalah hamba dan rasul-Nya, pemimpin orang-orang terdahulu dan kemudian. Semoga Allah swt. melimpahkan shalawat dan salam kepadanya, juga seluruh keluarga, sahabat, tabiin dan semua orang yang mengikuti mereka dengan ihsan sampai hari pembalasan. Dan semoga Allah swt. melimpahkan kesalamatan kepada mereka dengan keselamatan yang banyak. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، اَلْمَلِكُ اَلْحَقُّ اَلْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلآخِرِيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
Amma ba’du: أَمَّا بَعْدُ:
Wahai kaum muslimin! Bertakwalah kalian kepada Allah swt. dan ketahuilah bahwa sebagian pemberi nasihat dan pengkritik dalam berbagai majlis, juga sebagian penulis di koran dan semacamnya, terperosok dalam sebagian kesalahan dan kekeliruan yang menyebabkan merenggengnya hubungan, di mana nashihah berubah menjadi fadhihah, tadzkir (pengingatan) berubah menjadi tasyhir (publikasi keburukan). Dan hal ini bukanlah sesuatu yang diridhai Islam. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ بَعْضَ النَّاصِحِيْنَ وَالنَّاقِدِيْنَ فِي الْمَجَالِسِ، وَبَعْضَ الْكُتَّابِ فِي الصُّحُفِ وَغَيْرِهَا يَقَعُوْنَ فِيْ بَعْضِ اْلأَخْطَاءِ وَالْهَفَوَاتِ اَلَّتِيْ تُسَبِّبُ اَلنُّفْرَةَ، بِحَيْثُ تُصْبِحُ النَّصِيْحَةُ فَضيْحَةً، وَالتَّذْكِيْرُ تَشْهِيْرًا، وَهَذَا مَا لاَ يَرْضَاهُ اَلإِسْلاَمُ.
Ibnu Rajab berkata: ketahuilah bahwa menyebut manusia dengan sesuatu yang tidak disukainya adalah haram, jika maksudnya sekedar mencela, mencacat dan menampakkan kekuarangan. Adapun jika dalam hal ini terdapat kemaslahatan umum bagi kaum muslimin atau kemaslahatan khusus bagi sebagian mereka, dan maksudnya adalah menghasilkan kemaslahatan ini, maka hal ini tidaklah diharamkan, bahkan disunnatkan. Hal ini telah ditetapkan oleh para ulama hadits dalam kitab mereka dalam pembahasan al-jarh wat-ta’dil. Mereka menyebutkan perbedaan antara melakukan tajrih terhadap para perawi dan dengan ghibah. Mereka membantah orang-orang yang menyamakan di antaranya keduanya, baik yang menyamaratakan itu dari kalangan ahli ibadah maupun dari kalangan lainnya dari orang-orang yang belum luas ilmunya, dan tidak ada perbedaan antara orang yang diterima riwayatnya dari mereka yang yang tidak diterima قَالَ اِبْنُ رَجَب – رَحِمَهُ اللهُ -: اِعْلَمْ أَنَّ ذِكْرَ اْلإِنْسَانِ بِمَا يَكْرَهُ مُحَرَّمٌ إِذَا كَانَ الْمَقْصُوْدُ مُجَرَّدَ الذَّمِّ وَالْعَيْبِ وَالنَّقْصِ، أَمَّا إِنْ كَانَ فِيْهِ مَصْلَحَةٌ لِعَامَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ أَوْ خَاصَّةٌ لِبَعْضِهِمْ، وَكَانَ الْمَقْصُوْدُ مِنْهُ تَحْصِيْلُ تِلْكَ الْمَصْلَحَةِ، فَلَيْسَ بِمُحَرَّمٍ بَلْ مَنْدُوْبٌ إِلَيْهِ، وَقَدْ قَرَّرَ عُلَمَاءُ الْحَدِيْثِ هَذَا فِيْ كُتُبِهِمْ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيْلِ، وَذَكَرُوْا اَلْفَرْقَ بَيْنَ جَرْحِ الرُّوَاةِ وَبَيْنَ الْغِيْبَةِ، وَرَدُّوْا عَلَى مَنْ سَوَّى بَيْنَهُمَا مِنَ الْمُتَعَبِّدِيْنَ وَغَيْرِهِمْ مِمَّنْ لاَ يَتَّسِعُ عِلْمُهُ، وَلاَ فَرْقَ بَيْنَ مَنْ تُقْبَلُ رِوَايَتُهُ مِنْهُمْ وَمَنْ لاَ تُقْبَلُ.
Wahai kaum muslimin! Jika tujuannya adalah memperjelas kebenaran, maka hal ini masuk dalam pengertian nasihat. Dan jika tujuannya adalah menunjukkan kekurangan yang berkata, menampakkan kebodohan dan kelemahannya dalam ilmu, maka hal ini adalah perbuatan haram, baik bantahan itu dilakukan dihadapan orang yang dibantah atau pun dilakukan tidak dihadapannya, baik dilakukan semasa hidupnya maupun dilakukan sepeninggalnya, dan hal ini tercakup dalam hadits nabi saw.: Wahai orang-orang yang beriman dengan mulutnya, sementara keimanan belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian melakukan ghibah terhadap kaum muslimin, dan jangan pula mencari-cari auratnya, sebab, siapa saja yang mencari-cari auratnya, maka Allah swt. akan mencari-cari auratnya, dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah swt. niscaya Dia akan membuka kartunya walaupun ia berada di dalam rumahnya (HR. Abu Daud dan lainnya. Lihat Aun al-Ma’bud 13/224). أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ: فَإِذَا كَانَ الْمَقْصُوْدُ هُوَ تَبْيِيْنَ الْحَقِّ فَهَذَا دَاخِلٌ فِي النَّصِيْحَةِ، وَإِذَا كَانَ الْمَقْصُوْدُ هُوَ تَنَقُّصَ الْقَائِلِ وَتَبْيِيْنِ جَهْلِهِ وَقُصُوْرِهِ فِي الْعِلْمِ فَهَذَا مُحَرَّمٌ، سَوَاءٌ أَكَانَ رَدُّهُ لِذَلِكَ فِيْ وَجْهِ مَنْ يَرُدُّ عَلَيْهِ أَمْ فِيْ غَيْبَتِهِ، وَسَوَاءٌ أَكَانَ فِيْ حَيَاتِهِ أَمْ بَعْدَ مَوْتِهِ، وَهُوَ دَاخِلٌ فِيْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتَابُوْا اَلْمُسْلِمِيْنَ وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ اِتَّبَعَ عَوْرَاتِهِ يَتَّبِعُ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحُهُ وَلَوْ فِيْ جَوْفِ بَيْتِهِ)) [رواه أبو داود وغيره (عون المعبود:13/224)]([6]).
Wahai kaum muslimin! Sangat bagus kalau seorang muslim menjadi benteng yang kokoh yang membela dan melindungi harga diri saudara muslim nya dan menjaga citranya, terlebih lagi jika dihadapannya disebutkan keburukan saudaranya sesuatu yang tidak disukainya. Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang membela harga diri saudaranya yang muslim, niscaya Allah swt. menjaga wajahnya dari neraka pada hari kiamat (HR. At-Tirmidzi, shahih) أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ: يَجْمُلُ بِالْمُسْلِمِ أَنْ يَقِفَ سَدًّا مَنِيْعًا يَذُبُّ وَيُدَافِعُ عَنْ عِرْضِ أَخِيْهِ وَسُمْعَتِهِ، وَلاَ سِيَّمَا إِذَا ذُكِرَ أَمَامَهُ بِمَا يَكْرَهُ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ رَدَّ عِرْضَ أَخِيْهِ اَلْمُسْلِمِ رَدَّ اللهُ عَنْ وَجْهِهِ اَلنَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ)) [رواه الترمذي]([7]).
Wahai seorang Muslim! Hendaklah engkau tsiqah terhadap saudaramu dan berhati tenteram kepadanya, janganlah engkau men-ta’wil-kan omongannya kecuali dengan baik, selama omongan itu masih memungkinkan ditafisirkan baik, supaya engkau berbahagia dalam urusan agama dan duniamu, dan supaya engkau selamat pada hari kiamat, yaitu hari dimana harta dan anak lakui-laki tidak memberi manfaat, kecuali yang datang kepada Allah swt dengan hati selamat (Q.S. Asy-Syu’ara: 88 – 89). أَيُّهَا الْمُسْلِمُ: وَلْتَكُنْ وَاثِقًا مِنْ أَخِيْكَ مُطْمَئِنًّا إِلَيْهِ، فَلاَ تُؤَوِّلْ كَلاَمَهُ إِلاَّ بِخَيْرٍ مَا دُمْتَ تَجِدُ فِي الْكَلاَمِ مَحْمَلاً حَسَنًا حَتَّى تَكُوْنَ سَعِيْدًا فِيْ دِيْنِكَ وَدُنْيَاكَ، وَحَتَّى تَنْجُوَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: {يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُوْنَ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ}. [الشعراء : 88 – 89].
Wahai hamba Allah! Sesunguhnya Allah swt. dan para malaikat-Nya membacakan shalawat kepada nabi saw… عِبَادَ اللهِ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ..}.
Sumber: اَلْمَصْدَرُ:
http://alminbar.net/alkhutab/khutbaa.asp?mediaURL=1327

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *