min lathaifil ayat (akhlaq pemimpin)

Dakwah
لَطَائِفُ الْآيَةِ:
Yang mendalam dari sebuah ayat
مِمَّ سَجَّلَهُ فَضِيْلَةُ الدُّكْتُوْر صَلَاح عَبْدُ الْفَتَّاحِ اَلْخَالِدِيُّ – حَفِظَهُ اللهُ وَنَفَعَنَا بِعُلُوْمِهِ – مِنَ قَوْلِهِ تَعَالَى: {فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ} [آل عمران: 159] مِنْ لَطَائِفَ مَا يَلِيْ:
Diantara yang terekam oleh yang mulia DR. Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, semoga Allah SWT menjaga beliau dan memberi manfaat kepada kita dengan ilmu-ilmunya – terhadap Q.S. Ali Imran: 159, adalah pemahaman yang sangat mendalam sebagai berikut:
وَالْخِطَابُ فِي اْلآيَةِ يَشْمَلُ كُلَّ إِمَامٍ وَخَلِيْفَةٍ وَحَاكِمٍ لِلْمُسْلِمِيْنَ مِنْ بَعْدِهِ – صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، وَالْأَوَامِرُ وَالتَّوْجِيْهَاتُ فِي اْلآيَةِ مُوَجَّهَةٌ لِكُلِّ مَنْ وَليَ شَيْئًا مِنْ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ، سَوَاءً كَانَ وِلَايَةً عَامَّةً، أَوْ وِلَايَةً خَاصَّةً جُزْئِيَّةً.
Yang dituju sebagai mukhathab (arah pembicaraan) ayat ini mencakup semua pemimpin, khalifah dan penguasa muslim pasca Rasulullah SAW, dan semua perintah serta arahan yang ada dalam ayat ini ditujukan kepada siapa saja yang memegang jabatan apa pun dari urusan kaum muslimin, baik yang memiliki kekuasaan umum, ataupun yang hanya memiliki kekuasaan khusus yang juz’iy.
وَذَلِكَ طِبْقًا لِلْقَاعِدَةِ الْمُطَّرِدَةِ فِيْ أُصُوْلِ التَّفْسِيْرِ: ((خِطَابُ الرَّسُوْلِ – صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي الْقُرْآنِ خِطَابٌ لِأُمَّتِهِ، مَا لَمْ يَقُمْ دَلِيْلٌ عَلَى تَخْصِيْصِ الْخِطَابِ بِهِ وَحْدَهُ – صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -)).
Yang demikian ini sesuai dengan kaidah baku dalam prinsip-prinsip penafsiran Al-Qur’an: “Bahwa khithab kepada Rasulullah SW dalam Al-Qur’an adalah khitab kepada umatnya, selama tidak ada dalil yang mengkhususkan khithab itu hanya untuk beliau SAW”.
وَهَذِهِ الْآيَةُ تُرْشِدُ لِهَؤُلَاءِ الْوُلَاةِ إِلَى مَجْمُوْعَةٍ مِنَ الْأَخْلَاقِ الْأَسَاسِيَّةِ، وَتُوْجِبُ عَلَيْهِمْ اَلاِتِّصَافَ بِهَا، لِيُحْسِنُوْا قِيَادَةَ الرَّعِيَّةِ، فَإِنْ تَخَلَّوْا عَنْهَا كَانَتْ قِيَادَتُهُمْ شَقَاءً وَخَسَارَةً.
Ayat ini memberikan bimbingan kepada para pejabat itu kepada sekumpulan akhlaq mendasar dan mengharuskan mereka untuk menjadikan akhlaq-akhlaq mendasar ini sebagai sifat mereka. Yang demikian ini agar mereka menjadi orang-orang yang ihsan (melakukan yang terbaik) dalam memimpin rakyat. Lalu, jika mereka berlepas diri dari akhlaq-akhlaq mendasar ini, maka kepemimpinan mereka akan menjadi petaka dan kerugian bagi mereka dan bagi rakyat sekaligus.
قَالَ – حَفِظَهُ اللهُ – : ذَكَرَتْ هَذِهِ الآيَةُ ثَمَانِيَّةً مِنْ هَذِهِ الْأَخْلَاقِ، وَهِيَ:
DR. Shalah Abdul Fattah – semoga Allah SWT menjaga beliau – berkata: ayat ini menyebutkan delapan akhlaq mendasar tersebut, yaitu:
1 – اَللِّيْنُ مَعَ الرَّعِيَّةِ، (Bersikap lembut kepada rakyat)
2 – وَتَرْكُ الْفَظَاظَةِ وَغِلَظِ الْقَلْبِ، (Tidak kasar dan keras hati)
3 – وَالاِقْتِرَابُ مِنَ الرَّعِيَّةِ، (Dekat dengan rakyat)
4 – وَالْعَفْوُ عَنْهُمْ، (Memaafkan rakyat)
5 – وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمْ، (Memohonkan pengampuan kepada Allah untuk rakyat)
6 – وَمُشَاوَرَتُهُمْ فِيْ أُمُوْرِهِمْ، (Melibatkan mereka untuk bermusyawarah dalam urusan rakyat)
7 – وَالْعَزْمُ بَعْدَ مُشَاوَرَتِهِمْ، (Membangun tekad untuk mengeksekusi keputusan setelah bermusyawarah)
8 – وَالتَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ.(Bertawakkal kepada Allah SWT)
DR Shalah Abdul Fattah – semoga Allah SWT menjaga beliau – juga menjelaskan bahwa atas rahmat dan kasih sayang Allah SWT lah beliau SAW bersikap lembut kepada kaum muslimin.
Seandainya, sekali lagi: hanya seandainya, seandainya Allah SWT mencabut rahmat-Nya (hanya seandainya), niscaya sikap lembut beliau itu (lagi-lagi seandainya) akan hilang, masyaAllah.
Oleh karena itu, saat para pemimpin telah kehilangan sifat lembutnya kepada yang dipimpin, ketahuilah bahwa itu pertanda Allah SWT telah mencabut rahmat-Nya darinya, na’udzu billah min hadza.

Musyafa, [03.04.16 16:41]
Sehingga, akibatnya, kepemimpinannya akan menjadi petaka dan sumber kesengsaraan bagi dirinya dan bagi rakyat yang dipimpinnya.
Ya Allah…
Jangan engkau cabut rahmat-Mu dari kami, amin.
=============================
http://telegram.me/musyaffa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *