Mensikapi Perbedaan Pendapat

senyum dalam perbedaan

Pada suatu hari, selagi jalan-jalan, sampailah saya di tempat penjualan buku-buku loak. Kebiasaan lama yang “kambuh” lagi, maklum, kelasnya nyari yang second hand, termasuk buku.

Tanpa disangka-sangka, ga dinyana-nyana, saya bertemu dengan sebuah buku kecil, ya, buku kecil, 40 halaman saja, dan dalam ukuran yang kecil pula, kira-kita ukuran A4 dibagi dua. Ya betul, A4, bukan A1, he he..

Udah begitu, sepertinya, buku kecil ini pun hanya merupakan buku foto copy-an saja.

Fakta ini saja sudah menarik, betapa tidak, udah kecil, lembarannya dikit, foto copy-an pula, lha kok yo dijual, di loakan pula.

Setelah saya buka, ternyata isinya menjelaskan tentang pandangan Ikhwanul Muslimin terhadap dua hal:

  1. Terhadap perempuan dan peranannya di dalam masyarakat, dan
  2. Syura dan multipartai.

Menarik nih, kata hati saya, maka saya pun mengebet dan membukanya sekenanya saja, siapa tahu bisa mendapatkan bahan tulisan, soalnya IM memang lagi banyak dibicarain orang nih, boleh juga dong ikut-ikutan membicarakannya, mumpung ketemu nih dengan pandangannya.

Karena saya membukanya secara acak dan sepintas-sepintas saja, ketemulah dengan halaman yang “kebetulan” saya kebet-kebet itu, sebab lom sempat membaca seluruhnya, maklum, lagi jalan-jalan.

Di halaman yang saya kebet dan saya baca itu, rupanya sedang berbicara tentang pandangan Ikhwan terhadap perbedaan pendapat, dan bagaimana seharusnya mensikapi perbedaan pendapat seperti ini.

Diantara point-point yang saya catat adalah sebagai berikut:

  1. Perbedaan pendapat, dan keberagaman (multi dimensi pandangan) merupakan tabiat manusia, dan fakta kehidupan yang tidak boleh diinkari.
  2. Mengorganisir dan menata kehidupan, khususnya mengelola segala hal yang mubah (boleh), pastilah akan menimbulkan keragaman metodologi, cara dan praktek dalam menentukan mana yang terbaik dan mana yang paling efektif dalam pengelolaan, pengaturan, penataan dan pengorganisasiannya, oleh karena itu, tidak boleh ada pengekangan dan pengingkaran terhadap adanya perbedaan pendapat dalam hal ini, toh semua pandangan dan pendapat berkisar pada urusan-urusan yang mubah (boleh), bukan wajib, bukan haram, bahkan bukan sunat dan bukan makruh, mubah saja.
  3. Bahkan, fakta sejarah dan empiris kaum muslimin, mulai dari generasi sahabat sampai sekarang ini, faktanya menunjukkan bahwa pada urusan-urusan yang sudah ada dalil syar’inya saja, selama dalam koridor ijtihadi (menuntut adanya upaya pemahaman manusia), faktanya juga terdapat perbedaan pandangan dan pendapat di antara para ulama’. Oleh karena itu, dalam urusan yang ada dalil, tapi masuk dalam koridor ijtihadi ini pun, tidak boleh ada pengingkaran dan pengekangan terhadap perbedaan pendapat.
  4. Fakta terhadap adanya perbedaan pendapat ini, hendaklah dipandang sebagai sumber takamul (saling mengisi dan saling melengkapi) dan tanawwu’ (keragaman) cara pandang yang sangat diperlukan demi mendapatkan kejelasan yang lebih baik dalam menemukan kebenaran, dan upaya untuk mencapai yang lebih maslahat, dan yang lebih bermanfaat.
  5. Karena memang perbedaan pendapat dan pandangan dalam kawasan sebagaimana disebut di atas justru membawa banyak maslahat, maka sudah seharusnyalah perbedaan pandangan dalam hal itu disikapi dengan tasamuh (toleransi), keluasan cakrawala dan dada, menjauhkan sikap fanatic dan sempit wawasan serta sempit dada.
  6. Juga, para “penguasa”, atau pimpinan, janganlah mempergunakan hak kuasa dan otoritasnya untuk membatasi, mengekang, apalagi membelenggu munculnya perbedaan pandangan dan pendapat ini.

Setelah saya menggaris bawahi point-point di atas, hati kecil saya pun berkata: kerrennn juga nih pandangan, mantabb…

Semoga saya bisa mengamalkan dan mempraktekkannya, amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *