Menilai itu Sulit

maka anda adalah

Menilai itu Sulit

Menilai orang, atau menilai perbuatannya, dari sisi salah atau benar, tidaklah selalu mudah. Karenanya, perlu kehati-hatian, ketelitian, ketekunan, dan tentunya adalah bashirah.

Tersebut dalam Al-Qur’an al-Karim penggalan peristiwa berikut:

{وَاسْتَبَقَا الْبَابَ} [يوسف: 25]

Nabiyullah Yusuf dan istri petinggi Mesir itu berlomba untuk sampai ke pintu terlebih dahulu (Q.S. Yusuf: 25).

Peggalan ayat ini mengisahkan tentang dua orang manusia:

  1. Nabi Yusuf (AS), dan
  2. Istri petinggi Mesir (Zulaika, menurut satu pendapat).

Dua orang manusia ini melakukan perbuatan yang sama:

  • Sama-sama lari, bahkan
  • Sama-sama lari menuju ke satu pintu, dan
  • Keduanya sama-sama ingin mencapai pintu terlebih dahulu.

Nabi Yusuf (AS) di depan, dan dikejar oleh istri petinggi Mesir.

Lalu, adakah atas dasar perbuatan yang sama ini (sama-sama ini), kita mesti menilai perbuatan kedua manusia ini dengan penilaian yang sama?

Tidak. Sama sekali tidak. Sebab, nabi Yusuf (AS) berlari menuju pintu dengan maksud, niat dan tujuan hendak lari dari maksiat, sedangkan istri petinggi Mesir itu berlari ke pintu dengan maksud, niat dan tujuan mengejar maksiat.

Kesimpulannya:

قَدْ نَشْتَرِكُ بِالْأَفْعَالِ، وَيَتَفَاوَتُ الْحُكْمُ وَالْجَزَاءُ بِسَبَبِ الْقَصْدِ وَالنِّيَّةِ!

Bisa jadi kita sama dalam melakukan perbuatan, namun, hukum, nilai dan balasannya berbeda karena faktor maksud, tujuan dan niat!

Oleh karena itu, jangan mudah menilai, menjudge dan “memvonis” orang lain hanya semata-mata karena orang itu melakukan suatu perbuatan yang dianggap sama dengan perbuatan orang lain yang sudah pernah mendapatkan penilaian, judge dan vonis sebelumnya.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَحَبِّبْنَا فِيْهِ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ وَكَرِّهْنَا فِيْهِ، وَلَا تَجْعَلْهُ مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا فَنَضِلَّ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Allah, tampakkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan limpahkanlah kepada kemampuan untuk mengikuti kebenaran itu, serta jadikan kami pencinta kebenaran itu, dan tampakkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan, dan limpahkanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya, serta jadikan kami pembenci kebatilan itu, dan jangan Engkau jadikan kebenaran dan kebatilan itu tercampur aduk bagi kami, sebab jika demikian halnya, maka kami bisa tersesat, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

Amiiiin…

2 Comments

  1. masya Allah….Jazakallah khair ustadz taujih nya

  2. ternyata tdk mudah menilai orang lain hanya semata-mata karena orang itu melakukan suatu perbuatan yang dianggap sama dengan perbuatan orang lain yang sudah pernah mendapatkan judge dan vonis…semoga kita selalu husnuzhon dan salamatun sadr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *