MENGENAL KITAB “SALALIMUL FUDHALA”

kipayatul AtqiyaKAJIAN KITAB “SALALIMUL FUDHALA”

Bagian-1

MENGENAL KITAB “SALALIMUL FUDHALA”

Kitab “Salalimul Fudhala”, atau nama lengkapnya: سَلَالِمُ الْفُضَلَاءِ عَلَى هِدَايَةِ الْأَذِكِيَاءِ إِلَى طَرِيْقِ الْأَوْلِيَاءِ adalah sebuah kitab syarah, atau kitab yang mengulas “kitab” lain. Dalam hal ini, kitab yang diulas bernama: هِدَايَةُ الْأَذْكِيَاءِ إِلَى طَرِيْقِ الْأَوْلِيَاءِ

Kitab Hidayatu Adzkiya ila Thariqil Auliya, dari sisi gaya penulisan merupakan sebuah kitab yang berisi kumpulan nazham, yaitu tulisan atau karangan yang digubah dalam format yang mirip dengan pola penggubahan syi’ir.

Sedangkan dari sisi isi atau konten, kitab ini berisi tentang adab-adab yang harus dimiliki oleh seseorang saat seseorang itu menempuh jalur tasawwuf untuk menjadi waliyullah.

Nazham Hidayatu Adzkiya ila Thariqil Auliya digubah oleh Syekh Zainudin bin Ali bin Ahmad asy-Syafi’i al-Malibari, yang lahir pada hari Kamis 12 Sya’ban tahun 872 atau 871 H dan meninggal dunia pada malam Jum’at tanggal 16 Sya’ban tahun 928 H.

Bagi para santri di pondok pesantren, tokoh penggubah nazham Hidayatu Adzkiya ila Thariqil Auliya ini bukanlah sosok yang asing bagi mereka, sebab, penggubah nazham ini tidak lain adalah kakek dari Syekh Zainudin al-Malibari penulis kitab Fat-hul Mu’in Syarh Qurratul ‘Ain.

Syekh Zainudin penggubah nazham ini juga mempunyai banyak karangan, diantaranya:

  1. تُحْفَةُ الْإِحْيَاءِ (Tuhfatul Ihya’).
  2. إِرْشَادُ الْقَاصِدِيْنَ فِي اخْتِصَارِ مِنْهَاجِ الْعَابِدِيْنَ (Irsyadul Qashidin fi Ikhtishar Minhajil Abidin).
  3. Dan lain-lain.

Latar belakang penggubahan nazham ini, menurut penuturan Syekh Nawawi al-Bantani, dan sebagaimana diceritakan oleh sang penggubah sendiri, adalah bahwa saat dia hendak mempelajari ilmu agama, ia dibingungkan oleh pilhan: belajar fiqih terlebih dahulu, ataukah belajar tashawwuf terlebih dahulu?

Dalam keadaan bingung seperti itu, tiba-tiba, pada malam Rabu 24 Sya’ban 914 H, selagi beliau sedang tidur, dalam tidurnya itu beliau bermimpi bertemu dengan seseorang yang berkata kepadanya: “tashawwuf itu lebih berhak untuk didahulukan, sebab, seseorang yang sedang berenang di air yang mengalir, jika ia hendak menyeberangi sungai itu dengan cara berenang, mestilah terlebih dahulu ia berjalan menjauh ke arah yang berlawanan dengan aliran sungai itu terlebih dahulu, dan memperkirakan tingkat kehanyutannya dalam aliran sungai itu, agar sekiranya saat ia menyeberang nanti, ia bisa sampai di titik yang ingin ia seberangi secara tepat. Dan janganlah ia langsung menyeberang di lokasi awal mula ia berada itu, sebab, kalau ini menjadi pilihannya, maka niscaya ia tidak bisa tiba di titik seberang yang ia maksud secara tepat”.

Dari mimpi ini, beliau menyimpulkan, berarti, ia mesti belajar tasawwuf terlebih dahulu, agar bisa sampai ke tujuan secara tepat, sebab, kalau ia belajar fiqih terlebih dahulu, bisa-bisa ia tidak akan sampai ke titik tujuan secara tepat.

Setelah mimpi ini lah beliau mulai menyibukkan diri untuk menyusun nazham ini, yang kesemuanya terdiri dari 188 baris, yang merupakan gubahan nazham yang sangat indah.

Berdasar ilmu Arudh, sebuah disiplin ilmu yang mempelajari tentang pola-poa syi’ir dan hal-hal yang berkenaan dengan syi’ir lainnya, gubahan nazham Hidayatu Adzkiya ila Thariqil Auliya mempergunakan Bahr Kamil, yaitu sebuah pola tembang syi’ir yang didasarkan pada nada: مُتَفَاعِلُنْ yang diulang sebanyak 6 kali untuk setiap barisnya. Jadi polanya adalah:

مُتَفَاعِلُنْ مُتَفَاعِلُنْ مُتَفَاعِلُنْ ÷ مُتَفَاعِلُنْ مُتَفَاعِلُنْ مُتَفَاعِلُنْ

Contohnya (contoh pola nada-nya):

اَلْحَمْدُ للهِ الْمُوَفِّقِ لِلْعُلَا ÷ حَمْدًا يُوَافِيْ بِرَّهُ الْمُتَكَامِلَا

Kalimat nazham di atas, kalo dibaca mengkuti pola nadanya, adalah sebagai berikut:

مُتَفَاعِلُنْ مُتَفَاعِلُنْ مُتَفَاعِلُنْ   مُتَفَاعِلُنْ مُتَفَاعِلُنْ مُتَفَاعِلُنْ
اَلْحَمْدُ لِلْ لَهِلْ مُوَفْ فِقِ لِلْعُلَا   حَمْدُا يُوَا فِيْ بِرَّهُلْ مُتَكَامِلَا

 

Nazham Hidayatu Adzkiya ila Thariqil Auliya ini lah yang kemudian di-syarah oleh Syekh Nawawi al-Bantani, dan syarahnya diberi nama: Salalimul Fudhala yang berarti, tangga-tangga yang mesti dinaiki “gigi”-nya satu persatu oleh orang-orang yang mulia.

Sebenarnya, kitab Salalimul Fudhala bukanlah satu-satunya syarah terhadap nazham ini. Paling tidak, ada dua syarah lainnya yang dapat saya ketahui, yaitu:

  1. كِفَايَةُ الْأَتْقِيَاءِ وَمَنْهَجُ الْأَصْفِيَاءِ شَرْحُ عَلَى هِدَايَةِ الْأَذْكِيَاءِ إِلَى طَرِيْقِ الْأَوْلِيَاءِ yang disusun oleh Syekh Abu Bakar bin As-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi al-Bakri (1226 – 1310 H = 1810 – 1893 M)
  2. مَسْلَكُ الْأَتْقِيَاءِ وَمَنْهَجُ الْأَصْفِيَاءِ فِيْ شَرْحِ هِدَايَةِ الْأَذْكِيَاءِ إِلَى طَرِيْقِ الْأَوْلِيَاءِ yang disusun oleh Abdul Aziz bin Hafid Zainuddin bin Ali al-Malibari

Dan rupanya, nazham Hidayatul Adzkiya’ ila Thariqil Auliya ini juga telah menarik minat mahasiswa untuk melakukan kajian skripsi terhadapnya. Diantaranya:

  1. Seorang mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang menulis skripsi dengan judul: اَلرَّسَائِلُ فِيْ مَنْظُوْمَةِ هِدَايَةِ الْأَذْكِيَاءِ إِلَى طَرِيْقِ الْأَوْلِيَاءِ لِلشَّيْخِ زَيْنِ الدِّيْنِ بْنِ عَلِيِّ اَلْمَلِيْبَارِيْ (دِرَاسَةٌ تَحْلِيْلِيَّةٌ مَضْمُوْنِيَّةٌ) yang ditulis oleh Muhammad Shahibusy-Syafa’ah, untuk tahun ajaran 2009 – 2010 M.
  2. Seorang mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang menulis skripsi dengan judul: صُوَرٌ بَلَاغِيَّةٌ فِيْ كِتَابِ هِدَايَةِ الْأَذْكِيَاءِ إِلَى طَرِيْقِ الْأَوْلِيَاءِ لِزَيْنِ الدِّيْنِ اَلْمَلِيْبَارِيْ (دِرَاسَةٌ بَلَاغِيَّةٌ) yang ditulis oleh Ahmad Firmansyah pada tahun ajaran 1432 H / 2011 M.

Bersambung…

One Comment

  1. sambungannya doong terusin …..????

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *