Menaklukkan dan Menjinakkan Suami

Alkisah…

Pada suatu hari, datanglah seorang perempuan ke sebuah kampung. Tujuannya, untuk menemui seorang dukun, yang menurut kabar burung, dukun itu mempunyai jampi yang dapat membuat seorang lelaki (termasuk suaminya) akan bertekuk lutut, sujud bersimbah, menuruti segala keinginannya, karena lelaki (suaminya) itu telah termakan oleh jampi si dukun, sehingga mencintai istrinya dengan cinta sepenuhnya, cinta yang membuatnya tidak menoleh dan melirak lirik perempuan mana pun selain dirinya, sebab jampi itu bukanlah jampi biasa, ia adalah jampi luar biasa, campuran (mix) antara jampi, sihir dan pelet, campuran yang membuat suaminya mabuk asmara, lupa daratan, dan bahkan seakan melupakan segala hal selain meraih cinta dan ridha istrinya.

Sesampainya perempuan itu di rumah sang dukun, ia pun menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya, maka sang dukun pun berkata kepadanya:

Dukun: permintaan mu ini bukanlah permintaan yang ringan dan mudah. Permintaanmu ini adalah permintaan yang sangat besar dan luar biasa, yang untuk mendapatkan jampi khusus yang engkau inginkan itu, ada suatu persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dahulu, ada suatu amalan pendahuluan yang harus kamu lakoni, adakah kamu siap memenuhi persyaratannya? apakah kamu siap melakoni amalan yang harus kamu laksanakan sebelumnya?

Sebenarnya, ada rasa berat di hati perempuan itu untuk menjawab “ya”, namun, demi cintanya kepada suaminya, dan demi membuat suaminya bertekuk lutut dan menurut kepadanya, ia pun menjawab: “ya, saya siap memenuhi persyaratan yang diminta, dan saya pun bersedia berkurban untuk melakoni amalan yang dituntut oleh tuan”.

Dukun: “Jampi yang kamu minta itu, tidak akan manjur dan sempurna kinerjanya, kecuali jika engkau mampu membawa satu biji rambut yang kamu ambil dari leher seekor singa”.

Bagai disambar petir, dan bumi ini seakan terbalik dirasakan oleh perempuan itu demi mendengar syarat yang diminta oleh sang dukun.

Perempuan: “seujung rambut singa? Dan terambil dari lehernya??!!!”

Dukun: “ya, syarat ini tidak bisa ditawar”.

Perempuan: “Bagaimana mungkin saya bisa mendapatkan seujung rambut itu???!!!, bukankah singa adalah seekor binatang buas yang dapat memangsa seorang manusia??!!! Tidak adakah cara yang lebih mudah dan ringan daripada cara ini???!!!

Dukun: “Tidak ada, dan carilah cara, entah bagaimana, engkau bisa mendapatkan satu biji rambut singa dari bagian lehernya itu!!!”.

Perempuan ini pun mencari informasi ke sana kemari. Ia ingin mengetahui di mana singa itu berada. Ia pun mengkolek info sebanyak-banyak tentang tatacara “menundukkan” singa dan membuatnya tidak akan dimangsa oleh singa itu jika mendekatinya. Bukan hanya bertanya kepada sahabat dan teman, ia pun  mencari informasi dari internet tentang seluk beluk kehidupan singa dan bagaimana cara mendekatinya agar ia mampu mencabut satu biji rambut dari lehernya. Semua ini ia lakukan, demi membuat suaminya bertekuk lutut dan duduk bersimbah di hadapannya, mencintainya sepenuh hatinya, dan tidak menolah noleh dan melirak lirik perempuan manapun selain dirinya.

Setelah mendapatkan informasi lengkap tentang singa itu dan cara mendekatinya, mulai lah ia mencari singa itu. Ia bawakan untuk singa itu daging segar yang cukup berat saat membawanya, dan begitu singa itu muncul, ia lemparkan daging yang telah dibawanya kepada singa, dan dengan lahap singa pun menghabiskan daging yang ia berikan itu.

Setiap hari ia lakukan pekerjaan memberi makan singa itu, terus menerus ia pun melakukan berbagai pendekatan kepada singa, sampai akhirnya singa pun menjadi jika kepadanya.

Setelah singa itu jinak kepadanya, ia pun sering “bercengkerama” dengan singa itu, duduk bersamanya, mengelus-elus tubuh dan rambut (bulu) nya, mulai dari bagian yang jauh dari kepala, sampai akhirnya perempuan itu pun dapat mengelus leher singa itu dan bahkan kepalanya.

Singa itu telah benar-benar jinak terhaadap perempuan ini dan sama sekali tidak akan menduga bahwa dengan penuh kehati-hatian, namun pasti, perempuan itu pun berhasil mencabut satu biji rambut dari leher singa itu, tanpa singa tersebut membuat reaksi negative apa pun kepadanya.

Maka, dengan perasaan puas, bangga dan lega, perempuan itu pulang membawa satu biji rambut singa yang ia ambil dari lehernya, dan ia pun hendak menyerahkan rambut itu kepada sang dukun, untuk dibuat ramuan jampi sedemikian rupa, guna menaklukkan suaminya.

Sesampai perempuan itu kepada si dukun, dukun pun bertanya tentang bagaimana cara perempuan itu mendapatkan satu biji rambut dari leher singa. Dan dengan bangga, perempuan itupun menceritakan secara detail, bagaimana upayanya untuk mendapatkan satu biji rambut itu.

Dukun: “Bagus, kamu telah berhasil mendapatkan satu biji rambut singa ini, dan sekarang, anggaplah suamimu itu itu “singa” kedua yang hendak engkau tundukkan, lakukan berbagai upaya yang sama untuk menundukkannya, sebagaimana kamu menundukkan singa pertama, sebab, “kekejaman” dan “kebuasan” suami, tidak lah kalah jika dibandingkan dengan kekejaman dan kebuasan singa. Sebaliknya, menjinakkan suami pun tidak kalah menantang dan menariknya jika dibandingkan dengan menjinakkan seekor singa, lakukan upaya yang sama, kalau perlu berlebih, kerahkan daya upaya yang kamu miliki untuk menjinakkannya, niscaya, engkau akan sampai kepada satu titik, dimana saat engkau “menyakiti” suamimu, sebagaimana engkau mencabut satu rambut singa, rasa sakit itu tidak akan lagi dihiraukannya, dan dia akan tetap jinak dan menurut kepadamua”.

Semoga cerita karangan ini bermanfaat, amin

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *