MEMBERI NAMA AYAT

Asmaul-Qur'an

Prolog

Dalam kajian-kajian Ulumul Qur’an, ada satu “cabang ilmu Al-Qur’an” yang khusus berbicara tentang nama-nama Al-Qur’an dan penjelasan tentang sifat-sifatnya.

Karenanya, dalam kitab Al-Burhan fi Ulumil Qur’an karya Imam Az-Zarkasyi (745 – 794 H = 1344 – 1392 M), terdapat “cabang” yang ke-15 yang berbicara tentang “Pengenalan terhadap Nama-Nama Al-Qur’an dan Asal Muasal Penamaannya” (1/273 – 283).

Lalu, datanglah Imam As-Suyuthi (849 – 911 H = 1445 – 1505 M) yang mengembangkan “cabang” Ulumul Qur’an ini dan memperluas pembahasannya menjadi: “Pengenalan terhadap Nama-Nama Al-Qur’an dan Nama-Nama Surat-Suratnya”. Hal ini dapat dilihat pada “cabang” yang ke-17 (1/178 – 202).

Kalau diperhatikan dengan seksama dapat terlihat bahwa Imam As-Suyuthi telah “mengembangkan” “cabang” Ulumul Qur’an ini dari yang tadinya “hanya” membicarakan tentang nama-nama Al-Qur’an saja, mengembang menjadi nama-nama Al-Qur’an dan nama-nama surat-suratnya.

Pertanyaannya, bolehkah seseorang mengembangkan “cabang” Ulumul Qur’an ini menjadi lebih luas dari yang pernah dilakukan oleh Az-Zarkasyi dan As-Suyuthi? Misalnya dengan menambahkannya untuk menjadi: “Nama-Nama Al-Qur’an, Surat-Suratnya dan Ayat-Ayatnya”? Adakah pemberian nama terhadap suatu atau beberapa ayat itu merupakan sesuatu yang dibenarkan dan diperbolehkan secara syar’i? Dan adakah hal ini mempunyai manfaat dan kegunaan?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini insyaAllah akan didapatkan dalam pembahasan berikut.

Pembahasan

Pertama: Ada Contoh dari Nabi terkait Penamaan Beberapa Ayat

Ada beberapa hadits nabi yang menunjukkan bahwa nabi Muhammad SAW memberi nama beberapa ayat Al-Qur’an dengan nama-nama tertentu. Diantaranya:

  1. Ayat Kursi (آية الكرسي)

Artinya, ayat yang mengandung kosa kata “kursi” yang menunjukkan tentang “Kursi Allah SWT”. Yaitu Q.S. Al-Baqarah: 255.

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ _ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: … إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ، لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ، فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – : «صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ» (رواه البخاري [2311، 3275، 5010]).

Dari Abu Hurairah (RA) ia berkata: “ … Jika engkau hendak tidur, bacalah ayat kursi, niscaya engkau selalu mendapatkan penjaga dari Allah SWT dan engkau tidak akan didekati syetan sampai pagi hari”. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Dia berkata benar kepadamu, meskipun sebenarnya ia pendusta besar, dia itu adalah syetan”. (HR Bukhari [2311, 3275, 5010]).

Betul memang yang mengistilahkan ayat Kursi dalam cerita hadits ini adalah Iblis, namun, untuk kali ini, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kali ini Iblis berkata benar.

Dengan demikian, Rasulullah SAW membenarkan adanya istilah ayat kursi, yaitu Q.S. Al-Baqarah: 255. Dan populer lah ayat ini kemudian dengan nama “Ayat Kursi”.

Dan ada beberapa hadits shahih yang menjelaskan tentang fadhilah atau keutamaan ayat kursi yang sekaligus menguatkan bahwa nabi Muhammad SAW memberi nama Q.S. Al-Baqarah: 255 dengan nama “Ayat Kursi”.

  1. Ayat Shoif (آية الصيف)

Artinya, ayat yang turun di musim panas. Dan yang dimaksud adalah “Ayat Kalalah”, yaitu Q.S. An-Nisa’: 176.

Rasulullah SAW bersabda:

«يَا عُمَرُ، أَلَا تَكْفِيكَ آيَةُ الصَّيْفِ الَّتِي فِي آخِرِ سُورَةِ النِّسَاءِ …» (رواه مسلم [567، 1617]).

“Wahai Umar, tidak cukup kah bagimu ayatush-shaif yang berada di akhir surat An-Nisa’?!”. (HR Muslim [567, 1617]).

  1. Ayatul Izzi (آية العز).

Artinya, ayat yang menjelaskan tentang Allah SWT Dzat Yang Maha Aziz.

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ مُعَاذٍ بْنِ أَنَسٍ اَلْجُهَنِيّ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ قَالَ: ” آيَةُ الْعِزِّ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا} [الإسراء: 111] (2) الْآيَةَ كُلَّهَا” (رواه أحمد [15634]، وانظر أيضا: 15625).

Dari Mu’adz bin Anas al-Juhani, dari nabi SAW bahwasanya beliau bersabda: “Ayatul Izzi adalah Q.S. Al-Isra’: 111. (HR Ahmad [15634], lihat pula no. 15625).

Hadits ini oleh para ahli dinilai sebagai hadits dhaif, namun, terkait dengan penamaan ayat ini dengan nama “Ayatul Izzi” tetap dipakai oleh para ulama’ (lihat Tafsir Ibnu Katsir [5/131]).

Kedua: Ada Praktek dari Para Sahabat Nabi – Radhiyallahu ‘anhum –

Diantaranya:

  1. Umar bin Al-Khaththab (RA) membuat istilah Ayatul Hijab (آية الحجاب)

Artinya ayat yang menjelaskan tentang perlunya hijab, semacam dinding yang memisahkan antara para sahabat nabi dengan ummahatul mukminin: para istri nabi Muhammad SAW.

Ayat yang dimaksud adalah Q.S. Al-Ahzab: 53.

Tersbut dalam Shahih Bukhari:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – “وَافَقْتُ رَبِّي فِي ثَلاَثٍ: … وَآيَةُ الحِجَابِ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوْ أَمَرْتَ نِسَاءَكَ أَنْ يَحْتَجِبْنَ، فَإِنَّهُ يُكَلِّمُهُنَّ البَرُّ وَالفَاجِرُ، فَنَزَلَتْ آيَةُ الحِجَابِ …” (رواه البخاري [402، 4483، 4790]).

Dari Anas bin Malik (RA)ia berkata: Umar bin Al-Khaththab (RA) berkata: Saya menepati Tuhanku dalam tiga hal: … dan Ayatul Hijab, saya berkata kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah, kalau saja engkau memerintahkan kepada para istri engkau untuk berhijab, sebab yang berbicara kepada mereka adalah orang yang baik dan orang yang buruk, maka turunlah ayatul hijab … (HR Bukhari [402, 4483, 4790]).

  1. Ibnu Abbas (RA) membuat istilah: Ayatur-Riba (آية الربا)

Artinya ayat yang berbicara tentang pengharaman riba, yaitu Q.S. Al-Baqarah: 275 – 280.

Tersebut dalam Shahih Bukhari:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ «آخِرُ آيَةٍ نَزَلَتْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آيَةُ الرِّبَا» (رواه البخاري [4544]).

Dari Ibnu Abbas (RA) ia berkata: “Ayat terakhir yang turun kepada nabi SAW adalah ayatur-riba”. (HR Bukhari [4544]).

  1. Ummul Mukminin Aisyah RA membuat istilah Ayatut-Takhyir (آية التخيير)

Artinya ayat yang berisi tentang kebebasan para istri nabi SAW untuk menentukan pilihan antara memilih nabi Muhammad SAW sebagai suami mereka dengan seluruh konsekwensinya dan pilihan mendapatkan dunia, akan tetapi berkonsekwensi diceraikan secara baik-baik oleh Rasulullah SAW.

Ayat yang dimaksud oleh Ummul Mukminin Aisyah (RA) adalah Q.S. Al-Ahzab: 28 – 29.

Penamaan Ummul Mukminin ini diantaranya dapat dilihat pada Shahih Bukhari hadits no. 2468 dan pada Shahih Muslim hadits no. 1479.

Ketiga: Para Ulama Memperpolehkan Pemberian Nama kepada Ayat-Ayat Tertentu Secara Ijtihadi

Berdasarkan kepada contoh yang pernah diberikan oleh Rasulullah SAW dan juga didasarkan kepada praktek para sahabatnya, para ulama’ memperbolehkan pemberian nama-nama tertentu kepada ayat-ayat Al-Qur’an tertentu secara ijtihadi, tentunya ijtihad yang didasarkan kepada hujjah-hujjah yang dapat diterima oleh agama. Wallahu a’lam.

Oleh karena itu, ada banyak ayat Al-Qur’an yang diberi nama dengan nama-nama tertentu yang dilakukan oleh para ulama’.

Diantaranya:

  1. Al-Qurthubi (wafat 671 H = 1273 M) membuat istilah Ayatut-Tauhid (آية التوحيد)

Artinya, ayat yang menjelaskan dan menyatakan peng-esa-an kepada Allah SWT.

Ayat yang beliau maksud adalah Q.S. Al-Baqarah: 163.

Hal ini beberapa kali disebutkan oleh Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya.

  1. Ibnu Taimiyyah (661 – 728 H = 1263 – 1328 M) membuat istilah Ayatul Umara (آية الأمراء).

Artinya ayat yang menjelaskan tentang kewajiban dan hak para pemimpin.

Ayat yang dimaksud oleh Ibnu Taimiyyah adalah Q.S. An-Nisa’: 58 – 59.

Bahkan Ibnu Taimiyyah menulis satu kitab yang didasarkan pada Ayatul Umara ini, yaitu kitab As-Siyasah Asy-Syar’iyyah fi Ishlahir-Ra’i war-Ra’iyyah.

  1. Ibnul Qayyim (691 – 751 H = 1292 – 1350 M) membuat istilah Ayatul Mahabbah (آية المحبة).

Artinya, ayat yang menjelaskan tentang cinta dan pembuktiannya, cinta kepada Allah SWT.

Ayat yang dimaksud adalah Q.S. Ali Imran: 31.

Keempat: Kitab Khusus tentang Ayat-Ayat yang Bernama

Didasarkan kepada kenyataan bahwa nabi Muhammad SAW memberi nama terhadap beberapa ayat Al-Qur’an, dan juga ada praktek para sahabat nabi SAW, yang kemudian berlanjut kepada penerapan para ulama’, maka, menjadi sebuah kewajaran kalau ada pakar atau peneliti yang tertarik untuk mengkaji masalah ini dan menuangkannya dalam bentuk karya ilmiah, baik dalam bentuk makalah, bahkan sebuah kitab atau buku.

Diantaranya:

  1. Makalah dengan tema: “Asma-ul Ayat” (أسماء الآيات), ditulis oleh DR. Khalil Ismail Ilyas. Beliau adalah dekan Islamic Studies di Universitas Sain dan Tehnologi Hadramaut, Yaman. Makalah ini sudah terpublikasi dalam format PDF di internet dalam 111 halaman.

Makalah ini disusun dalam 5 pembahasan, mulai dari definisi ayat dan berakhir kepada ayat-ayat tertentu di dalam Al-Qur’an yang oleh para ulama’ telah diberi nama dengan nama-nama tertentu.

  1. Kitab mini ensiklopedi yang khusus membahas dan membicarakan tentang ayat-ayat tertentu di dalam Al-Qur’an yang mempunyai nama-nama khusus.

Kitab ini telah dicetak dengan nama: Asma-ul Qur’an al-Karim wa Asma’ Suwarihi wa Ayatihi; Mu’jam Mausu’i Muyassar (أسماء القرآن الكريم وأسماء سوره وآياته؛ معجم موسوعي ميسر).

Kitab ini disusun oleh DR. Adam Bamba, salah seorang dosen di Fakultas Islamic Studies di Universitas Songkla – Patani – Thailand.

Kitab yang terdiri dari 430 halaman ini, sesuai dengan namanya, merupakan sebuah mini ensiklopedi yang menghimpun tiga hal:

  1. Indek nama-nama Al-Qur’an.
  2. Indek nama-nama surat-surat Al-Qur’an, dan
  3. Indek nama-nama ayat-ayat Al-Qur’an.

Terkait dengan indek nama-nama ayat Al-Qur’an, DR Adam Bamba telah menghimpun dan mengoleksi 223 ayat atau gabungan ayat yang telah diberi nama dengan nama-nama tertentu dan mengurutkan nama-nama ini sesuai dengan urutan abjad, mulai dari nama atau istilah Ayatu Adam (آية آدم) sampai kepada nama atau istilah Ayatul Yatama (آية اليتامى).

Kelima: Manfaat dan Kegunaan Nama-Nama Ayat

Pemberian nama terhadap suatu ayat atau beberapa ayat, di samping diperbolehkan dan dibenarkan oleh para ulama’, jika didasarkan kepada ijtihad yang bertanggung jawab, juga memiliki manfaat dan kegunaan, diantaranya:

  1. Memudahkan berinteraksi dengan Al-Qur’an. Sebab, terkadang, kalau tidak sering malah, sebuah ayat itu dipandang “terlalu” panjang untuk disebutkan secara ringkas dan cepat. Maka, untuk memudahkan penyebutannya, cukuplah disebutkan nama ayat itu. Misalnya dalam pernyataan berikut: “Wanita-wanita yang haram dinikahi, telah Allah sebutkan dalam Ayatul Muharramat”.

Pernyataan ini tentu jauh lebih mudah dan lebih singkat jika dibandingkan dengan seandainya harus membacakan secara lengkap dan utuh Q.S. An-Nisa’: 23, meskipun jelas bahwa kalau ayat ini dibaca, insyaAllah satu huruf mendapatkan minimal sepuluh kebaikan.

Namun, terkadang, kalau tidak sering malahan, situasi dan kondisi menuntut seseorang untuk menyebut secara singkat namun tetap tepat.

  1. Membantu mengenali tema pokok suatu atau beberapa ayat, sebab, pemberian nama tertentu itu pastilah mempertimbangkan beberapa hal, utamanya adalah mempertimbangkan tema yang terkandung dalam satu atau beberapa ayat yang diberi nama itu. Misalnya. Q.S. Al-Isra’: 22 – 39. Saat para ulama memberi nama sekumpulan ayat ini dengan nama Ayatul Hikam (آية الحكم), pastilah mereka telah mendalami tema yang terkandung dalam ayat-ayat ini, lalu mereka memberi nama Ayatul Hikam, karena sekumpulan ayat-ayat ini berisi tentang hikmah-hikmah.
  2. Membantu para ahli di berbagai bidang pengetahuan yang hendak mencari korelasinya dengan Al-Qur’an. Misalnya, seorang pakar janin. Jika ia hendak mengaitkan kepakarannya dengan Al-Qur’an, maka menjadi mudah baginya dan ia merasa terbantu dengan adanya nama: Ayatul Janin, misalnya, di mana istilah atau nama ini menunjuk kepada ayat tertentu yang berbicara tentang janin dan pertumbuhannya.
  3. Membantu dan memudahkan untuk mengingat situasi dan kondisi serta sejarah yang melingkupi suasana turunnya ayat. Misalnya, saat disebut Ayatul Khamr (آية الخمر), maka seseorang akan langsung terbawa kepada fakta sejarah tentang proses pengharaman khamr yang terjadi secara bertahap.

Penutup

Setelah berselanjar secara singkat dalam ppembahasan-pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa:

  1. Ulumul Qur’an mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Diantaranya, dari yang tadinya hanya sebuah “cabang” yang “hanya” membahas tentang nama-nama Al-Qur’an, berkembang menjadi sebuah cabang yang mencakup: nama-nama Al-Qur’an, nama-nama surat dan nama-nama ayat.
  2. Bahwa, para ulama’ memperbolehkan pemberian nama terhadap ayat-ayat tententu dengan nama-nama tertentu berdasarkan ijtihad yang dapat dipertanggung jawabkan.
  3. Bahwa pemberian nama terhadap suatu ayat atau beberapa ayat mempunyai banyak sisi positif dan manfaat yang sangat membantu dalam kajian-kajian Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya.

Wallahu a’lam, semoga bermanfaat, amin.

One Comment

  1. Pingback: AYATUL UMARA (Bagian-1) – Musyafa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *