“Maniak” Mengharamkan

إحياء

قَالَ الْإِمَامُ الْغَزَالِيُّ فِيْ رُبْعِ الْعَادَاتِ مِنْ إِحْيَاءِ عُلُوْمِ الدِّيْنِ، فِيْ كِتَابِ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ:

” … وَالْوَرَعُ حَسَنٌ، وَالْمُبَالَغَةُ فِيْهِ أَحْسَنُ، وَلَكِنْ إِلَى حَدٍّ مَعْلُوْمٍ، فَقَدْ قَالَ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : «هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُوْنَ» [الحديث]، فَلْيَحْذَرْ مِنْ أَمْثَالِ هَذِهِ الْمُبَالَغَاتِ، فَإِنَّهَا – وَإِنْ كَانَتْ لَا تَضُرُّ صَاحِبَهَا – رُبَّمَا أَوْهَمَ عِنْدَ الْغَيْرِ أَنَّ مِثْلَ ذَلِكَ مُهِمٌّ، ثُمَّ يَعْجِزُ عَمَّا هُوَ أَيْسَرُ مِنْهُ، فَيَتْرُكُ أَصْلَ الْوَرَعِ، وَهُوَ مُسْتَنَدُ أَكْثَرِ النَّاسِ فِيْ زَمَانِنَا هَذَا، إِذْ ضُيِّقَ عَلَيْهِمُ الطَّرِيْقُ، فَأَيِسُوْا عَنِ الْقِيَامِ بِهِ، فَاطَّرَحُوْهُ، فَكَمَا أَنَّ الْمُوَسْوِسَ فِي الطَّهَارَةِ قَدْ يَعْجِزُ عَنِ الطَّهَارَةِ فَيَتْرُكُهَا، فَكَذَا بَعْضُ الْمُوَسْوِسِيْنَ فِي الْحَلَالِ سَبَقَ إِلَى أَوْهَامِهِمْ أَنَّ مَالَ الدُّنْيَا كُلُّهُ حَرَامٌ، فَتَوَسَّعُوْا، فَتَرَكُوْا التَّمْيِيْزَ، وَهُوَ عَيْنُ الضَّلَالِ”.

Pada bagin “al-‘Adat”(berbagai kebiasaan) dari Ihya’ Ulumiddin, pada kitab Al-Halal wal Haram, Imam Ghazali berkata:

“ … dan wara’ itu sesuatu yang baik. Memperdalam wara’, sangat baik. Namun, sampai batas tertentu yang jelas. Sebab Rasulullah SAW bersabda: «Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan» [hadits].

Oleh karena itu, hendaklah seseorang berhati-hati dari hal-hal yang semisal dengan berlebih-lebihan ini.

Sebab, meskipun sikap berlebih-lebihan itu tidak merugikan diri pelakunya, namun, perlu diketahui, hal itu memberi kesan kepada orang lain bahwa sikap yang seperti berlebih-lebihan itu adalah sesuatu yang penting.

Sayangnya, orang itu lalu tidak mampu melakukannya pada urusan yang lebih ringan dari yang dilebih-lebihkan itu.

Dampaknya, malahan ia kemudian meninggalkan prinsip wara’ itu.

Dan inilah yang menjadi “dasar” kebanyakan orang di zaman kami ini, yaitu, saat suatu jalan dipersempit atas mereka, lalu mereka berputus asa untuk dapat melaksanakannya. Repotnya, akibat selanjutnya, mereka membuang “dasar” itu.

Jadi, sebagaimana orang yang terkena penyakit was-was dalam urusan bersuci yang sampai ke tingkat tidak mampu melakukan perbuatan bersuci, lalu ia malah tidak bersuci sama sekali, begitu juga dengan kelakuan orang-orang yang terkena penyakit was-was dalam urusan kehalanan suatu harta. Orang seperti ini, akan kemasukan ilusi bahwa seluruh harta di dunia ini adalah haram, lalu, karena tidak mampu menghindari harta haram yang berdasarkan ilusinya itu, mereka malah berluas-luasan dalam berharta. Akibat selanjutnya, mereka meninggalkan upaya untuk memilah antara halal dan haram.

Dan jika hal ini terjadi, maka, hal ini merupakan sebuah kesesatan sejati”.

La haula wala quwwata illa billah…

Jadi,,,

Jangan sampai kita terkena penyakit maniak menghalalkan, dan ataupun juga terkena penyakit maniak mengharamkan.

Allahummahdina shirathakal mustaqim, amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *