MALAS BERDAKWAH

بسم الله الرحمن الرحيم

اَلْكَسَلُ اَلدَّعَوِيُّ

Malas Berdakwah

الشيخ: مراد بن أحمد القدسي

Syekh Murad bin Ahmad al-Qudsi

السلام عليكم ورحمة الله

مِنَ الْمَعْلُوْمِ أَنَّ الدَّعْوَةَ إِلَى اللهِ تَعَالَى مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ،

Telah diketahui bahwa berdakwah dalam arti mengajak manusia kepada Allah SWT termasuk amal ibadah yang sangat agung,

لِمَا ثَبَتَ فِيْ فَضْلِهَا مِنَ الْفَضَائِلِ وَالْأُجُوْرِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنَ النَّفْعِ لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ تَقْلِيْلِ الشُّرُوْرِ وَالْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ بَيَانِ فَسَادِ الْمُفْسِدِيْنَ وَتَبْيِيْنِ حَقَائِقِهِمْ لِلنَّاسِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ تَعْلِيْمِ النَّاسِ أُمُوْرَ الدِّيْنِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ إِقَامَةِ الْحُجَّةِ وَالْأَعْذَارِ إِلَى اللهِ.

Yang demikian ini karena:

  1. Banyak dalil yang menjelaskan tentang keutamaan dan pahala yang besar dalam berdakwah.
  2. Dakwah juga memberi banyak manfaat bagi kaum muslimin.
  3. Dakwah juga berfungsi meminimalisir keburukan dan kerusakan di muka bumi.
  4. Juga berfungsi untuk menjelaskan kerusakan pihak-pihak yang merusak dan menjelaskan berbagai fakta kepada manusia.
  5. Juga berguna untuk memberi pengajaran berbagai urusan agama kepada manusia.
  6. Dan tentunya, berdakwah merupakan satu bentuk penegakan hujjah dan alasan kepada Allah SWT.

وَفِيْ وَاقِعِنَا الْيَوْمَ نُشَاهِدُ ضَعْفًا وَتَوَانِيَ فِي الدَّعْوَةِ، وَعَدَمَ ابْتِكَارٍ فِيْ وَسَائِلِهَا، وَعَدَمَ مُمَارَسَةِ الدَّعْوَةِ بِشَكْلٍ دَائِمٍ وَمُسْتَمِرٍّ وَفَاعِلِيَّةٍ.

Sayangnya, menyaksikan kenyataan sekarang ini, kita menyaksikan adanya kelemahan dan sikap ogah-agahan dalam berdakwah, tiadanya kreatifitas, dan aktifitas dakwah yang terhenti dan atau tidak lagi efektif.

فَكَانَ الْحَدِيْثُ عَنْ هَذَا الْمَوْضُوْعِ “اَلْكَسَلِ اَلدَّعَوِيِّ” وَفِيْهِ مَبَاحِثُ:

1 – مَفْهُوْمُهُ

2- مَظَاهِرُ الْكَسَلِ اَلدَّعَوِيِّ

3 – أَسْبَابُهُ

4 – آثَارُهُ

5- عِلَاجُهُ.

Untuk inilah makalah ini hendak berbicara tentang kemalasan dalam berdakwah yang mencakup:

  1. Pengertian malas dalam berdakwah.
  2. Gejala dan tanda-tanda malas dalam berdakwah.
  3. Sebab-sebab malas dalam berdakwah.
  4. Dampak dan pengaruh malas dalam berdakwah.
  5. Terapi terhadap penyakit malas dalam berdakwah.

(1) مَفْهُوْمُهُ:

هُوَ ضَعْفُ الاِنْدِفَاعِ الذَّاتِيِّ وَالْجَمَاعِيِّ فِيْ مَجَالِ الْأَنْشِطَةِ الدَّعَوِيَّةِ الْمُخْتَلِفَةِ.

Pertama: Pengertian Malas dalam Berdakwah

Melemahnya motivasi baik bersifat personal maupun kolektif di berbagai bidang aktifitas dakwah.

(2) مَظَاهِرُ الْكَسَلِ الدَّعَوِيِّ:

Kedua: Gejala dan Tanda-Tanda Malas Berdakwah

– اَلتَّأَخُّرُ عَنْ أَدَاءِ الْمُهِمَّةِ الْمُنَاطَةِ بِنَا

  1. Terlambat dalam mengerjakan tugas dakwah yang diberikan kepadanya

– عَدَمُ الْحِرْصِ عَلَى الدَّعْوَةِ أَوِ النَّدَمُ عَلَى فَوَاتِهَا

  1. Hilangnya semangat berdakwah, atau tidak adanya penyesalan atas hilangnya peluang dakwah

– عَدَمُ الْجِدِّيَّةِ وْالْفَاعِلِيَّةِ فِي الْمَنَاشِطِ الدَّعَوِيَّةِ

  1. Tidak bersungguh-sungguh dan tidak aktif dalam berbagai aktifitas dakwah

– اِخْتِلَاقُ الْأَعْذَارِ فِيْ حَالِ الْمُحَاسَبَةِ

  1. Membuat-buat alasan saat dievaluasi

– اَلتَّفَاعُلُ مَعَ الْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْأَنْشِطَةِ اَلْمَطْلُوْبَةِ

  1. Berinteraksi dengan batas minimal terhadap aktifitas yang diminta

– إِهْمَالُ الْأَنْشِطَةِ إِلَّا عِنْدَ اللَّوْمِ

  1. Mengabaikan berbagai aktifitas kecuali saat dicela

– فِي الْأَنْشِطَةِ الَّتِيْ لَا يَعْرِفُهَا الدَّاعِيَةُ لَا يَحْرِصُ بِالسُّؤَالِ عَنْهَا

  1. Terkait berbagai kegiatan yang tidak dikenal, tidak ada semangat untuk sekedar menanyakannya

– عَدَمُ الْحِرْصِ فِي التَّغْيِيْرِ إِلَى الْأَفْضَلِ فِي الْأَنْشِطَةِ غَيْرِ الْمُثْمِرَةِ وَالاِكْتِفَاءِ بِالْقَدِيْمِ الْعَتِيْقِ

  1. Tidak ada semangat untuk melakukan perubahan kepada yang lebih baik, padahal aktifitas yang dilakukan terbukti tidak produktif, dan berpuas diri dengan yang lama yang tidak produktif itu

– تَثْبِيْطُ الْآخَرِيْنَ عَنِ التَّفَاعُلِ مَعَ الْأَنْشِطَةِ.

  1. Menggembosi yang lain agar mereka tidak interaktif terhadap berbagai aktifitas dakwah

(3) أَسْبَابُ الْكَسَلِ اَلدَّعَوِيِّ:

Ketiga: Sebab-Sebab Malas dalam Berdakwah

– اَلضَّعْفُ فِيْ مَعْرِفَةِ فَضَائِلِ الدَّعْوَةِ وَاسْتِشْعَارِ أَهَمِّيَّتِهَا

  1. Melemahnya pengetahuan terhadap keutamaan dan urgensi berdakwah

– غِيَابُ الْأَهْدَافِ الدَّعَوِيَّةِ أَوْ عَدَمُ الْوُضُوْحِ فِيْهَا

  1. Sirnanya tujuan-tujuan dakwah atau minimal ketidak jelasan tujuan-tujuan dakwah

– قِلَّةُ التَّكَالِيْفِ الْمُنَاطَةِ بِالدُّعَاةِ، فَيَجْعَلُهُ يَنْشَغِلُ بِالْمُبَاحَاتِ، مِمَّا يَجْعَلُهُ يَأْلَفُ هَذَا الْوَضْعَ، وَيُشْغِلُهُ عَنِ التَّحَرُّكِ فِيْ أُمُوْرِ الدَّعْوَةِ

  1. Minimnya tugas yang dibebankan kepada para aktifis dakwah, sehingga mereka tersibukkan oleh hal-hal mubah, lalu mereka menjadi terbiasa dengan keadaan ini, selanjutnya mereka lupa untuk bergerak dalam berbagai urusan dakwah

– حُدُوْثُ بَعْضِ النَّتَائِجِ السَّلْبِيَّةِ بَعْدَ أَدَاءِ الْأَعْمَالِ الدَّعَوِيَّةِ تُسَبِّبُ لِلْبَعْضِ إِحْبَاطًا أَوْ عُزُوْفًا عَنِ الْعَمَلِ

  1. Terjadinya hasil-hasil negative dari kerja-kerja dakwah, sehingga menyebabkan sebagian aktifis putus asa, atau ogah-ogahan untuk bekerja lagi

– قِلَّةُ الْمُشَارَكَةِ مِنَ الْكَثِيْرِ مِنَ الدُّعَاةِ، مِمَّا يُشْعِرُ النَّاشِطَ مِنْهُمْ بِثِقَلِ التَّكَالِيْفِ الَّتِيْ يَتَحَمَّلُهَا وَحْدَهُ، مِمَّا يَحْدُوْ بِهِ كَرَدِّ فِعْلٍ لِعَدَمِ التَّفَاعُلِ مِثْلَهُ وَمِثْلَ الْآخَرِيْنَ

  1. Sedikitnya partisipasi aktifis dakwah lainnya, sehingga yang masih aktif merasa keberatan beban, dan sebagai reaksinya, iapun mengikuti yang lain.

– تَعَجُّلُ قَطْفِ الثِّمَارِ يَجْعَلُ الْكَثِيْرَ – وَكَرَدَّةِ فِعْلٍ – يُفَضِّلُوْنَ الاِبْتِعَادَ عَنِ الْمُشَارَكَةِ وَالْعَمَلِ الْجَادِّ

  1. Terburu-buru untuk memetik hasil kerja dakwah, dan sebagai reaksinya, banyak yang memilih untuk menjauh dari partisipasi dakwah dan kerja-kerja serius

– ضَعْفُ الْجَانِبِ الْإِيْمَانِيِّ وَالْقَنَاعَاتِ فِي الدَّعْوَةِ، وَجَعْلُهَا كَأَنَّهَا وَظِيْفَةٌ تُؤَدَّى وَيَتَقَاضَى عَلَيْهَا مُكَافَأَةً أَوْ رَاتِبًا

  1. Melemahnya sisi keimanan dan qana’ah da’awiyah, serta menjadikan dakwah seakan-akan profesi yang menghasilkan uang

– اَلاِنْشِغَالُ بِالدُّنْيَا وَالْإِغْرَاقُ فِيْهَا عَلَى حِسَابِ الدَّعْوَةِ

  1. Tersibukkan oleh urusan dunia dan tenggelam di dalamnya dengan mengabaikan dakwah

– اَلْمَلَلُ مِنَ الرُّوْتِيْنِ اَلْمُتَكَرِّرِ وَعَدَمِ التَّجْدِيْدِ فِي الْمَنَاشِطِ، وَالنَّفْسُ بِطَبْعِهَا تُحِبُّ التَّجْدِيْدَ

  1. Bosan terhadap rutinitas dan tiadanya pembaharuan dalam berbagai aktifitas dakwah, padahal, jiwa manusia menyukai hal-hal baru

– اَلتَّأَثُّرُ بِالْكُسَالَى وَالْمُثَبِّطِيْنَ فِي الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ تَعَالَى

  1. Terpengaruh oleh meraka yang malas dan oleh pihak-pihak yang menggembosi dalam berdakwah

– تَسَنُّمُ الْبَعْضِ قَافِلَةَ الدَّعْوَةِ قَبْلَ النُّضُوْجِ وَتَكْوِيْنِ الْقُدُرَاتِ الْكَافِيَةِ فِي النَّفْسِ لِتَحَمُّلِ أَعْبَاءِ الدَّعْوَةِ

  1. Ada yang “naik pangkat” dalam kafilah dakwah sebelum matang dan sebelum terbentuk berbagai kemampuannya untuk memikul berbagai beban dakwah

– اَلاِخْتِلَافُ وَالتَّفَرُّقُ وَكَثْرَةُ وِجْهَاتِ النَّظَرِ، مِمَّا قَدْ يُسَبِّبُ الاِبْتِعَادَ عَنِ الْعَمَلِ خَوْفًا مِنَ الزَّلَلِ، وَخَوْفًا مِنَ التَّصْنِيْفِ أَوِ الاِتِّهَامِ

  1. Adanya perbedaan, perpecahan dan berbagai sudut pandang, hal yang menyebabkan seorang aktifis dakwah menjauhi kerja dakwah karena takut salah, takut di-tashnif (dikelompokkan) atau takut terkena tuduhan

مِنَ الْأَسْبَابِ مِنْ قَادَةِ الدَّعْوَةِ

Sebab Malas Berdakwah Akibat dari Pimpinan

– ضَعْفُ الْمُتَابَعَةِ مِنْ قِبَلِ الْمَسْئُوْلِيْنَ، مِمَّا يَجْعَلُ الْأَفْرَادَ يَشْعُرُوْنَ بِعَدَمِ أَهَمِّيَّتِهِمْ أَوْ عَدَمِ تَنَبُّهِهِمْ عَلَى الْقُصُوْرِ أَوَّلًا بِأَوَّلٍ

  1. Lemahnya mutabaah para pimpinan, hal yang menjadikan setiap aktifis merasa dirinya tidak penting, atau tidak menyadari adanya kelemahan

– عَدَمُ التَّقْدِيْرِ وَالتَّشْجِيْعِ يَجْعَلُ الْبَعْضَ يَشْعُرُ بِأَنَّهُ سَوَاءٌ عَمِلَ أَوْ لَمْ يَعْمَلْ، فَالْأَمْرُ سِيَانِ

  1. Tidak adanya penghargaan dan motivasi, hal yang menyebabkan sebagian aktifis dakwah merasa bahwa antara dia bekerja dan tidak bekerja sama saja

– اَلتَّصَرُّفُ الْخَاطِئُ فِيْ إِعْدَادِ الْمَنَاشِطِ وَأَسَالِيْبِ تَفْعِيْلِهَا مِنْ قِبَلِ الْقَادَةِ، مِمَّا يَجْعَلُ الدُّعَاةَ لَا يَنْظُرُوْنَ إِلَى قُدْوَةٍ أَمَامَهُمْ يَقْتَدُوْنَ بِهِ.

  1. Adanya perilaku yang salah dari pimpinan dalam mempersiapkan berbagai aktifitas dan cara-cara efektifitasnya, hal yang menjadikan para aktifis dakwah tidak melihat adanya sosok teladan di hadapan mereka

(4) آثَارُ الْكَسَلِ الدَّعَوِيِّ:

Keempat: Dampak dan Pengaruh Malas Berdakwah

– اَلتَّأَخُّرُ فِيْ إِنْجَازِ الْمُهِمَّاتِ الدَّعَوِيَّةِ، مِمَّا يَحْتَاجُ إِلَى جُهْدٍ أَكْبَرَ وَفِيْ وَقْتٍ أَطْوَلَ

  1. Keterlambatan dalam menyelesaikan berbagai tugas dakwah, sehingga memerlukan tambahan tenaga yang lebih besar dan waktu yang lebih lama

– اِخْتِلَاقُ الْأَعْذَارِ عِنْدَ الْمُحَاسَبَةِ مِمَّا يُؤَنِّبُ ضَمِيْرَ الدَّاعِيَةِ مُسْتَقْبَلًا

  1. Membuat-buat alasan saat dievaluasi, hal yang membuat nurani seorang aktifis dakwah terasa tergores di masa depan

– تَوَقُّفُ الدَّعْوَةِ عِنْدَ حَدٍّ مُعَيَّنٍ مِنَ الْوَسَائِلِ وَعَدَمُ ابْتِكَارِ وَسَائِلَ جَدِيْدَةٍ بِسَبَبِ أَنَّ الْوَسَائِلَ الْقَدِيْمَةَ لَمْ تُنَفَّذْ بَعْدُ

  1. Dakwah hanya terpaku pada sarana tertentu dan tidak ada inovasi memunculkan sarana dakwah baru, dengan alasan, sarana yang lama saja belum terlaksana

– سَعَةُ الْهُوَّةِ بَيْنَ الدُّعَاةِ وَبَيْنَ الْجِهَةِ الْمَسْئُوْلَةِ عَنْهُمْ بِسَبَبِ الْمُتَابَعَةِ وَالتَّقْوِيْمِ، مِمَّا يَفْتَحُ الْمَجَالَ لِلتَّرَاشُقِ بِالْكَلِمَاتِ اللَّامَسْئُوْلَةِ

  1. Adanya gap yang terlalu jauh antara aktifis dakwah dengan pimpinanya dikarenakan faktor mutabaah dan evaluasi, hal yang membuka celah untuk saling menyerang dengan tanpa tanggung jawab

– تَأَخُّرُ تَحْقِيْقِ النَّتَائِجِ الْمَرْجُوَّةِ مِنَ الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ تَعَالَى

  1. Terlambatnya perealisasian hasil yang diharapkan dari aktifitas berdakwah

– تَسَلُّطُ أَعْدَاءِ الدَّعْوَةِ عَلَى الدَّعْوَةِ وَالدُّعَاةِ، فَمَنْ لَا يُهَاجِمُ لَا بُدَّ أَنْ يُهَاجَمُ.

  1. Hegemoni musuh-musuh dakwah terhadap dakwah dan para aktifitsnya, sebab “siapa yang tidak menyerang pasti diserang”.

(5) عِلَاجُ الْكَسَلِ الدَّعَوِيِّ:

Kelima: Terapi terhadap Kemalasan Berdakwah

1 – مِمَّا يَجْعَلُ الدَّاعِيَةَ يَتَفَاعَلُ مَعَ دَعْوَتِهِ: مَعْرِفَةُ مَا لَهُ مِنْ أَجْرٍ إِذَا قَامَ بِهَا، أَوِ التَّعَرُّفُ عَلَى أَهَمِّيَّةِ الدَّعْوَةِ.

وَأُجُوْرُ الدَّعْوَةِ تَكْمُنُ فِي الْآتِيْ:

  1. Diantara hal-hal yang menjadikan seorang da’i aktif dalam berdakwah adalah mengetahui pahala yang akan didapatnya, atau mengetahui urgensi berdakwah.

Pahala-pahala berdakwah dapat dijelaskan sebagai berikut:

– أَنَّهَا مِنْ هَدْيِ الرَّسُوْلِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَأَتْبَاعِهِ، قَالَ تَعَالَى: {قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي} [يوسف: 108]

  1. Bahwasanya dakwah itu adalah jalan hidayah para rasul dan para pengikutnya. Allah SWT berfirman: Katakanlah (wahai Muhammad): inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin (QS. Yusuf: 108).

– أَنَّ فَاعِلَهَا مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ قَوْلًا، قَالَ تَعَالَى: {وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ المُسْلِمِينَ} [فصلت:33].

  1. Bahwasanya pelaku dakwah adalah orang yang paling baik perkataannya. Allah SWT berfirman: Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikandan berkata: Sungguh aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri) (QS. Fushshilat: 33).

– رَوَى التِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ أُمَامَةَ: »إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِيْ جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوْتَ، لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ«. وَتَسَاءَلَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَنْ سَبَبِ دُعَاءِ هَؤُلَاءِ وَمِنْهُمُ النَّمْلَةُ وَالْحُوْتُ؟ فَأَجَابُوْا: قَالَ ابْنُ قُدَامَةَ: “أَنَّ نَفْعَ الْعِلْمِ يَعُمُّ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْحُوْتَ، فَإِنَّ الْعُلَمَاءَ عُرِفُوْا بِالْعِلْمِ وَمَا يَحِلُّ وَيَحْرُمُ، وَأَوْصُوْا بِالْإِحْسَانِ إِلَى كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِلَى الْمَذْبُوْحِ وَالْحُوْتِ، فَأَلْهَمَ اللهُ تَعَالَى اْلكُلَّ اَلاِسْتِغْفَارَ لَهُمْ؛ جَزَاءً لِحُسْنِ صَنِيْعِهِمْ”.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Abu Umamah (RA): Sesungguhnya Allah SWT, para malaikat, dan seluruh penghuni langit dan bumi, termasuk semut di dalam lubangnya, dan termasuk ikan di lautan, sungguh mereka mengucapkan shalawat kepada orang yang mengajatkan kebaikan kepada manusia.

Para ulama bertanya tentang sebab yang melatar belakangi do’a mereka, termasuk do’a semut dan ikan di lautan?

Ibnu Qudamah berkata: bahwasanya manfaat ilmu itu meliputi apa saja, termasuk ikan di lautan, sebab para ulama dikenal sebagai orang yang berilmu yang mengetahui apa yang halal dan apa yang haram. Merekalah yang selalu berpesan agar berbuat baik kepada segala sesuatu, termasuk kepada binatang yang disembelih dan kepada ikan, oleh karena itu, Allah SWT mengilhamkan kepada semuanya agar mereka beristighfar untuk para ulama’, sebagai balasan atas perbuatan mereka yang sangat baik.

رَوَى مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : »مَنْ دَعَا إِلَى الْهُدَى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ«. رَوَى الْبُخَارِيْ مِنْ حَدِيْثِ سَهْلٍ: قَالَ الرَّسُوْلُ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِعَلِيٍّ: »لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ«.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah (RA): Siapa yang mengajak kepada jalan hidayah, maka untuknya pahala seperti yang didapat oleh orang-orang yang mengikutinya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari hadits Sahl, Rasulullah SAW bersabda kepada Ali bin Abi Thalib (RA): Sungguh, Allah SWT memberikan hidayah kepada satu orang disebabkan olehmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.

وَأَمَّا أَهَمِّيَّةُ الدَّعْوَةِ فَتَكْمُنُ فِي الْآتِيْ:

Adapun urgensi berdakwah, dapat dijelaskan sebagai berikut:

أ- أَنَّ فِيْهَا تَثْبِيْتَ الدَّاعِيَةِ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ وَمَا يُحَصِّلُهُ مِنْ أُجُوْرٍ عَظِيْمَةٍ مِنَ الدَّعْوَةِ.

  1. Bahwa berdakwah itu memberikan tatsbit (keteguhan) kepada sang da’i untuk tetap berada di atas jalan yang lurus disamping pahala besar yang didapatkannya.

ب- لِأَنَّهَا الطَّرِيْقُ الْأَمْثَلُ فِي الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ

  1. Bahwa dakwah merupakan cara paling ideal dalam penegakan amar ma’ruf nahi munkar.

جـ- وَلِأَنَّهَا أَعْظَمُ طَرِيْقٍ لِبَيَانِ مُخَطَّطَاتِ الْأَعْدَاءِ دَاخِلِيًّا وَخَارِجِيًّا حَوْلَ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ

  1. bahwa berdakwah itu merupakan cara paling agung untuk menjelaskan konspirasi musuh-musuh Islam dan kaum muslimin, baik musuh dari dalam maupun dari luar

د- وَلِأَنَّ فِيْهَا بَيَانَ الشَّرِيْعَةِ لِلنَّاسِ وَأَحْكَامِهَا، وَرَفْعَ الْجَهْلِ عَنْهُمْ، وَرُجُوْعَ النَّاسِ إِلَى الدِّيْنِ وَالْعَمَلِ بِهِ

  1. Bahwa dengan berdakwah seorang da’i dapat menjelaskan tentang syari’at Islam dan ajaran-ajarannya, menghapus kebodohan, mengembalikan manusia kepada agama dan pengamalannya.

هـ- وَلِأَنَّهَا مِنَ الطُّرُقِ فِيْ إِقَامَةِ حُجَّةِ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ وَالْإِعْذَارِ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ

  1. Berdakwah merupakan cara menegakkan hujjah Allah SWT kepada para hamba-Nya, dan merupakan bentuk pembelaan di hadapan Allah SWT

و- وَلِأَنَّهَا مِنْ وَسَائِلِ نُصْرَةِ الْمُسْلِمِيْنَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ وَتَلَاحُمِ الصَّفِّ بَيْنَهُمْ.

  1. Bahwa berdakwah merupakan satu sarana untuk menolong kaum muslimin dari para musuhnya, juga merupakan satu cara untuk merapatkan barisan kaum muslimin

2 – مِمَّا يُعِيْنُ عَلَى النَّشَاطِ الدَّعَوِيِّ وُضُوْحُ الْهَدَفِ مِنْهَا، وَتَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ:

  1. Diantara membantu seorang da’i untuk aktif dalam berdakwah adalah adanya tujuan yang jelas.

Ada dua bentuk tujuan:

أ- اَلْهَدَفُ الْعَامُّ: تَحْقِيْقُ رِضَا اللهِ تَعَالَى، وَهَذَا مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يَجْعَلَ الدَّاعِيَةَ لَا يَهْدَأُ أَبَدًا حَتَّى يَتِمَّ هَذَا الْأَمْرُ أَوْ تَحْقِيْقُ الْعُبُوْدِيَّةِ للهِ تَعَالَى

  1. Tujuan umum, yaitu mewujudkan ridha Allah SWT, atau mewujudkan penghambaan kepada-Nya.

Tujuan ini, jika sungguh-sungguh dilaksanakan, akan membuat seorang aktifis dakwah tidak akan pernah diam sebelum terwujudnya tujuan ini.

ب- اَلْهَدَفُ الْخَاصُّ “اَلْجُزْئِيُّ”: وَهُوَ الْهَدَفُ الْقَرِيْبُ مِنْ كُلِّ عَمَلٍ دَعَوِيٍّ مَهْمَا كَبُرَ أَوْ صَغُرَ، وَبَذْلُ الْجُهْدِ الْكَافِيِّ لِتَحْقِيْقِ الْوُصُوْلِ إِلَيْهِ

  1. Tujuan khusus atau juz’iy, yaitu tujuan jangka pendek dari setiap kerja dakwah, betapapun besar atau kecilnya ia.

Tujuan ini menuntut seorang aktifis dakwah untuk mengerahkan jerih payah yang memadai demi upaya pencapaian dan perwujudannya.

3 – وَضْعُ الْبَرَامِجِ اَلْمُتَنَوِّعَةِ لِلدُّعَاةِ مِنْ قِبَلِ قِيَادَاتِ الدَّعْوَةِ، وَالْمُنَاقَشَةُ الْمُسْتَفِيْضَةِ حَوْلَ جَوَانِبِ الْخَلَلِ وَالْقُصُوْرِ فِيْهَا، وَمُوَاكَبَةُ الْعَصْرِ وَإِعْطَاءُ جَوَانِبَ إِبْدَاعِيَّةٍ مُتَجَدِّدَةٍ حَتَّى لَا نَقَعَ فِيْ قِلَّةِ التَّكَالِيْفِ، وَالَّتِيْ تَدْعُوْ إِلَى الرُّكُوْنِ وَالدَّعَةِ

  1. Perlunya qiyadah menyiapkan berbagai macam program untuk para aktifis dakwah, melakukan berbagai diskusi yang luas dan mendalam untuk melihat berbagai celah dan kelemahan, dan untuk mengikuti berbagai perkembangan zaman, memunculkan berbagai kreasi dan inovasi yang selalu terupdate, agar para aktifis dakwah tidak kekurangan tugas, kekurangan yang dapat membuat mereka bersantai.

4 – لَا تَنْتَظِرِ النَّتَائِجِ: قَالَ تَعَالَى: {وَمَا عَلَيْكَ أَلاَّ يَزَّكَّى} [عبس: 7]، وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلاَّ البَلاغُ المُبِينُ} [النور: 54]، وَعَلَيْنَا بَذْلُ كُلِّ الْأَسْبَابِ اَلْمُؤَدِّيَةِ إِلَى الثِّمَارِ الْمَرْجُوَّةِ، فَإِنْ حَصَلَتْ فَلْنَحْمَدِ اللهَ، وَإِنْ تَأَخَّرَتْ أَوْ تَخَلَّفَتْ فَالْأَسْبَابُ يَعْلَمُهَا اللهُ، وَلَسْنَا مُحَاسَبِيْنَ عَلَى ذَلِكَ، وَلَا لَوْمَ عَلَيْنَا

  1. Jangan menunggu hasil. Allah SWT berfirman: Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman) (QS. Abasa: 7). Juga berfirman: Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas (QS. An-Nur: 54).

Untuk itu, para aktifis dakwah berkewajiban untuk mengupayakan berbagai sebab yang dapat mengantarkan kepada hasil yang diharapkan. Jika berhasil, Alhamdulillah, dan jika ada kelambatan, atau meleset, maka, sebab dan rahasianya ada di sisi Allah SWT, dan para aktifis dakwah itu tidaklah dihisab atas hal itu dan tidak dicela.

5- فَتْحُ مَجَالَاتِ النَّصِيْحَةِ بَيْنَ الْعَامِلِيْنَ فِيْ حَقْلِ الدَّعْوَةِ لِتَنْشِيْطِ الْكُسَالَى، وَإِعَانَةِ الْعَامِلِيْنَ، وَعَدَمِ الاِرْتِكَازِ عَلَى شَخْصِيَّاتٍ مُعَيَّنَةٍ، فَإِنَّ هَذَا يَتَنَافَى مَعَ التَّجْدِيْدِ فِيْ قِيَادَاتِ الدَّعْوَةِ

  1. Membuka ruang nasihat untuk sesama aktifis dakwah demi menggiatkan kembali mereka yang terkena penyakit malas, menolong dan membantu yang masih aktif serta tidak bertumpu kepada figure-figur tertentu, sebab, figuritas itu bertolak belakang dengan kemestian pembaharuan dalam kepemimpinan dakwah

6- اَلتَّوْبَةُ وَالاِسْتِغْفَارُ مِمَّا يُعِيْنُ الْمَرْءَ عَلَى تَحَمُّلِ مَشَاقِّ الدَّعْوَةِ وَمُمَارَسَةِ الدَّعْوَةِ بِاسْتِمْرَارٍ، فَإِنَّ هَذَا مِمَّا يُقَوِّي الْإِيْمَانَ وَيَزِيْدُهُ؛ لِهَذَا اِعْتَبَرَ عُلَمَاءُ الْإِسْلَامِ أَنَّ الدَّعْوَةَ مِنَ الْقُرُبَاتِ الَّتِيْ تُقَدَّمُ عَلَى الْعِبَادَاتِ الْقَاصِرَةِ كَنَوَافِلِ الصَّلَاةِ، مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهَا أَهَمُّ مِنْهَا، وَأَنَّهَا مِمَّا تَزِيْدُ الْإِيْمَانَ، ثُمَّ عَلَى الدَّاعِيَةِ أَنْ يَنْظُرَ لِجَوَانِبِ الْقُصُوْرِ عِنْدَهُ مِمَّا يُضْعِفُ إِيْمَانَهُ، فَيَهْتَمُّ بِإِصْلَاحِهِ حَتَّى لَا يَعُوْدَ عَلَى دَعْوَتِهِ بِالْكَسَلِ وَالتَّوَانِيْ

  1. Taubat dan istighfar sangat membantu seorang da’i untuk memikul beban dan kesulitan dakwah dan membuatnya kontinyu dalam menjalani aktifitas dakwah. Sebab keduanya memperkokoh keimanan dan menambahnya. Oleh karena inilah, para ulama Islam memandang bahwa berdakwah merupakan satu bentuk ibadah yang lebih didahulukan daripada ibadah-ibadah personal semisal shalat sunnat. Pandangan mereka ini menandakan bahwa berdakwah lebih penting daripada ibadah personal, dan bahwasanya berdakwah itu menambah keimanan. Lalu, seorang aktifis dakwah hendaklah memandang sisi-sisi kekurangan yang membuat keimanannya melemah, lalu memberi perhatian untuk memperbaikinya, agar tidak memberi dampak negative kepada dakwahnya yang berupa malas dan ogah-ogahan.

7- اَلتَّوَازُنُ بَيْنَ مَطَالِبِ الدَّاعِيَةِ الشَّخْصِيَّةِ وَدَعْوَتِهِ، فَلَا يَخْلِطُ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ، وَيَجْعَلُ لِكُلٍّ وَقْتَهَ الْمُنَاسِبَ، وَعَلَيْهِ أَنْ لَا يَتَطَلَّعَ إِلَى مَا لَدَى أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ تَرَفٍ وَسَعَةٍ فِي الرِّزْقِ. قَالَ تَعَالَى: {وَلاَ تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجاً مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى} [طه: 131]. رَوَى الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : »اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدِرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ«.

  1. Tawazun antara kebutuhan pribadi dan tuntutan dakwah, tidak mencampur adukkan urusan keduanya, dan menetapkan waktu yang tepat untuk masing-masing urusan. Untuk itu, janganlah seorang aktifis dakwah mengincar dunia dengan segala gemerlapnya yang dimiliki oleh ahli dunia. Allah SWT berfirman: Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal (QS. Thaha: 131).

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadits Abi Hurairah (RA): lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kamu, dan jangan melihat yang lebih tinggi dari kamu, sebab, yang demikian ini lebih layak untuk tidak memandang remeh nikmat Allah SWT yang diberikan kepadamu.

8- فِي الْقِيَادَاتِ وَفِيْ أَقْسَامِهَا لَا بُدَّ مِنْ إِيْجَادِ جِهَةٍ، عَمَلُهَا مُتَابَعَةُ مَنَاشِطِ الدَّعْوَةِ وَإِيْجَادِ مَيَادِيْنَ أُخْرَى لِلاِنْطِلَاقِ بِهَا، وَعَدَمِ الاِكْتِفَاءِ بِالْمَنَاشِطِ الْحَالِيَةِ، حَتَّى نَفْتَحَ مَجَالَاتٍ رَحْبَةً لِكَسْبِ الْمَدْعُوِّيْنَ، وَلِإِبْعَادِ النُّفُوْسِ عَنِ الْمَلَلِ وَالسَّآمَةِ

  1. Pada jajaran qiyadah dan bidang-bidang yang ada, perlu ada satu bagian yang kerjanya melakukan:
  2. Mutabaah terhadap berbagai aktifitas dakwah.
  3. Memunculkan kegiatan-kegiatan dan inovasi baru, serta tidak mengkungkung diri dengan kegiatan-kegiatan yang selama ini sudah ada, demi terbukanya lahan baru nan luas untuk merekrut mad’u-mad’u baru, dan untuk menghindari munculnya kejenuhan dan kebosanan.

9- لَا بُدَّ مِنْ إِيْجَادِ مَحَاضِنَ عَلْمِيَّةٍ لِتَكْوِيْنِ أَعْدَادٍ كَافِيَةٍ وَمُؤَهَّلَةٍ لِلدَّعْوَةِ، وَلَا يُوْضَعُ أَيُّ دَاعِيَةٍ إِلَّا بَعْدَ مَعْرِفَةِ كَفَاءَتِهِ وَقُدْرَتِهِ عَلَى تَحَمُّلِ الْمَسْئُوْلِيَّةِ

  1. Mesti ada mahadhin (lembaga-lembaga, atau wadah-wadah) ilmiah untuk membentuk sejumlah aktifis dakwah yang memenuhi sisi kuantitas dan kualitas yang sesuai dengan tantangan dan peluang dakwah ke depan, dan jangan sampai terjadi penempatan seorang aktifis dakwah pada suatu pos kecuali setelah diketahui kafaah dan kemampuannya dalam memikul beban tanggung jawab dakwah.

10- عَلَيْنَا تَفَهُّمَ أَوْجُهِ الاِخْتِلَافِ، وَمَا الَّذِيْ يَسُوْغُ مِنْهُ وَمَا الَّذِيْ لَا يَسُوْغُ، وَالتَّعَامُلِ مَعَهُ بِحَسَبِ النُّصُوْصِ الشَّرْعِيَّةِ، وَلَا نَجْعَلِ الاِخْتِلَافَ وَسِيْلَةً مِنْ وَسَائِلِ التَّثْبِيْطِ وَالْكَسَلِ فِي الدَّعْوَةِ؛ لِأَنَّهُ طَارِئٌ، وَالدَّعْوَةُ أَصْلٌ وَفَرِيْضَةٌ

  1. Kita perlu memahami berbagai sisi perbedaan, memahami mana perbedaan yang dibenarkan dan mana yang tidak dibenarkan, lalu berinteraksi dengan berbagai perbedaan itu sesuai dengan nash-nash syar’iy, dan janganlah kita menjadikan perbedaan itu sebagai sebab yang mengakibatkan terjadinya penggembosan dan kemalasan dalam berdakwah, sebab perbedaan itu bukanlah masalah pokok dan ia hanyalah hal yang bersifat temporary, sedangkan berdakwah itulah yang bersifat pokok dan merupakan kewajiban agama.

11- وَيَنْبَغِيْ أَنْ نَتَنَاصَحَ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَادَةِ الدَّعْوَةِ، وَذَلِكَ:

  1. Perlu ada keadaan saling menasehati antara aktifis dakwah dan para qiyadah dakwah,yang demikian ini demi:

– بِإِحْيَاءِ رُوْحِ الْمُتَابَعَةِ وَإِصْلَاحِ جَوَانِبِ الْقُصُوْرِ أَوَّلًا بِأَوَّلِ

  1. Menghidupkan spirit mutabaah dan memperbaiki sisi-sisi kelemahan secara dini

– بِضَرُوْرَةِ رَفْعِ الْمَعْنَوِيَّاتِ لِلدُّعَاةِ الْفَاعِلِيْنَ وَمُحَاسَبَةِ الْمُقَصِّرِيْنَ، وَذَلِكَ بِإِحْيَاءِ مَبْدَأِ الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ

  1. Memenuhi tuntutan kemestian adanya upaya peningkatan ma’nawiyah aktifis dakwah yang aktif dan mengevaluasi mereka yang lemah, dan demi menghidupan prinsip reward and punishment.

– وَبِالنَّظَرِ إِلَى أَنْفُسِهِمْ وَجَعْلِهَا فِيْ مَحَلِّ الاِقْتِدَاءِ لِلدُّعَاةِ، فِي النَّشَاطِ وَالْجِدِّيَّةِ وَالتَّنَوُّعِ فِيْ وَسَائِلِ الدَّعْوَةِ

  1. Membangun kesadaran para qiyadah untuk menjadikan dirinya sebagai objek yang diteladani oleh para aktifis dakwah dalam hal semangat, kesungguhan dan kemampuan membuat diversifikasi (keragaman) dalam berbagai sarana dakwah.

– بِإِحْيَاءِ الْجَوِّ التَّنَافُسِيِّ فِيْ حَقْلِ الدَّعْوَةِ، وَإِبْرَازِ الْأَعْمَالِ النَّاجِحَةِ وَالْمُثْمِرَةِ، حَتَّى يَلْتَفِتَ إِلَيْهَا الدُّعَاةُ

  1. Menghidupankan nuansa kompetisi positif di lapangan dakwah dan menonjolkan kerja-kerja sukses nan produktif, supaya menjadi titik perhatian para aktifis dakwah.

– إِحْيَاءُ رُوْحِ الْإِخْلَاصِ لله تَعَالَى وَاسْتِشْعَارُهُ بِشَكْلٍ دَائِمٍ يَقْضِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِنَ الْأَمْرَاضِ، وَمِنْهَا الْكَسَلُ، فَذَلِكَ الْمُخْلِصُ لَا يَحْرِصُ عَلَى ثَنَاءِ النَّاسِ عَلَى جُهُوْدِهِ، كَمَا أَنَّ الْإِسَاءَةَ إِلَيْهِ لَا تُثَبِّطُ هِمَّتَهُ فِي الْعَمَلِ وَالنَّشَاطِ، كَمَا أَنَّهُ إِذَا فَرَّطَ الآخَرُوْنَ تَرَاهُ بَاقِيًا عَلَى جُهُوْدِهِ وَبِهِمَّةٍ عَالِيَةٍ؛ لِأَنَّهُ لَا يَرْجُو الْأَجْرَ إِلَّا مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

  1. Menghidupkan jiwa ikhlash karena Allah SWT dan bahwasanya mencita rasakan ikhlas secara terus menerus dapat mengikis habis banyak penyakit dakwah, yang diantaranya adalah malas dalam berdakwah. Sebab, seseorang yang ikhlas, ia tidaklah berambisi untuk mendapatkan pujian manusia atas jerih payahnya, sebagaimana sikap dan tindakan buruk yang menimpanya tidaklah akan menggembosi semangatnya dalam kerja dan menjalani berbagai aktifitas. Ikhlas juga yang menjadikan seorang aktifis dakwah tetap mengerahkan seluruh potensinya dengan semangat tinggi meskipun yang lainnya sudah tampak olehnya sebagai orang-orang yang melemah. Yang demikian ini karena ia tidak mengharap upah dan imbalan apapun kecuali dari Allah SWT.

 المراجع:

1- مشكلات الدعوة وحلولها، عبد الحميد البلالي

2- الحرص على هداية الناس، د./ فضل إلهي

3- المدخل إلى علم الدعوة، د./ محمد أبو الفتح البيانوني

4- فضل العلم، محمد سعيد رَسْلان.

المصدر:

http://www.startimes.com/?t=30489885

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *