Makna Marhaban Wa Ahlan dan Tarhib Ramadhan

ramadan_13_L

Secara bahasa, kata marhaban berasal dari kata rahuba – yarhubu – rahban, warahabatan wa marhaban yang pada asalnya berarti longgar dan lapang, baik secara fisik, yaitu lapang dan longgarnya suatu tempat, maupun secara psikis, yaitu kelapangan dada dan hati.

Sedangkan kosa kata “ahlan” berasal dari kalimat: “ahalar-rajulu” yang maksudnya adalah memberi informasi bahwa seorang lelaki telah menikah atau telah berkeluarga. Oleh karena itu, kosa kata “ahlun” sering dimaknai sebagai keluarga.

Dan apabila dua kosa kata itu diucapkan sekaligus, sehingga menjadi: marhaban wa sahlan, maka maknanya, sebagaimana dijelaskan oleh para ahli bahasa adalah sebagai berikut:

قَالَ الْأَصْمَعِي (122 – 216 هـ = 740 – 831 م) فِي قَول النَّاس مرْحَبًا: أتيتَ رَحْبًا أَي سَعَةً، وَقَوْلهمْ: أَهْلًا أَيْ أَتَيْتَ أَهْلًا لَا غُرَبَاء فَاسْتَأْنِسْ وَلَا تَسْتَوْحِشْ، وَسَهْلًا أَيْ أَتَيْتَ سَهْلًا لَا حَزْنًا

Al-Ashmu’iy (122- 216 H = 740 – 831 M) berkata: Terkait dengan perkataan banyak orang “marhaban” maknanya adalah engkau telah mendatangi tempat yang luas, longgar dan lapang, bukan tempat yang sempit nan sumpeg. Atau engkau telah mendatangi seseorang yang memiliki hati dan jiwa yang lapang dada.

Sedangkan ucapan “ahlan” maknanya adalah engkau telah mendatangi keluarga sendiri, karenanya engkau bukanlah orang asing, oleh sebab itu, hendaklah engkau merasa nyaman dan jangan merasa kesepian.

Sementara ucapan “sahlan” maksudnya adalah engkau telah tiba di satu tempat yang datar, lunak dan nyaman untuk ditinggali, dan bukan tempat yang berbatu-batu, miring dan sulit ditinggali. Atau, engkau telah tiba di satu tempat di mana seluruh urusan engkau menjadi mudah.

(lihat: Gharibul Hadits karya Ibnu Qutaibah [1/481], juga lihat: Az-Zahir fi Ma’ani Kalimatin-Nas [1/234]).

Pendapat lain mengatakan bahwa makna dari kalimat “marhaban wa ahlan” adalah kalimat do’a yang artinya adalah:

Semoga Allah SWT menjadi dirimu sebagai sebab bagi lapangnya dan luasnya suatu tempat, atau lapangnya dada,

Dan semoga Allah SWT memberikan kepadamu satu keluarga, dan

Semoga Allah SWT memudahkan semua urusanmu.

(lihat: Az-Zahir fi Ma’ani Kalimatin-Nas [1/234]).

Sedangkan kalimat “tarhib Ramadhan” maksudnya adalah mengucapkan kata “marhaban” atas datangnya “tamu” yang berupa bulan Ramadhan.

Maksudnya, kedatangan bulan Ramadhan kepada kita hendaknya disambut dengan sambutan “marhaban” dalam arti:

  1. Disambut dengan memberikan tempat dan ruang yang luas untuk berbagai amal shalih dan segala bentuk ketaatan di dalamnya.
  2. Disambut dengan sukacita dan lapang dada, senang dan gembira layaknya kedatangan seorang tamu istimewa kepada kita.
  3. Disambut sebagaimana disambutnya Abdul Muththalib, kakek Rasulullah SAW oleh Saif bin Dzi Yazan saat datang kepadanya (baca tema lain: Sejarah Kalimat Marhaban wa Ahlan).

Atau, hendaknya kita sambut kedatangan bulan Ramadhan dengan do’a, semoga Allah SWT memberikan keluasan dan kelapangan ruang dan waktu serta kelapangan dada dan hati kepada kita untuk mengoptimalkan dan memaksimalkan bulan Ramadhan dengan berbagai amal shalih yang akan memberi manfaat kepada kita di dunia dan di akhirat, baik untuk diri kita, keluarga kita, masyarakat, kaum muslimin dan umat manusia seluruhnya, amin.

One Comment

  1. Pingback: Sejarah Kalimat Marhaban wa Ahlan – Musyafa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *