Larangan Mendekati Harta Anak Yatim

Terkait dengan pelarangan terhadap urusan harta anak yatim, Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ  [الأنعام: 152].

Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. (Q.S. Al-An’am: 152).

Di bagian lain dari Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ [الإسراء: 34]

Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa (Q.S. Al-Isra’: 34).

Diantara kandungan dua ayat ini adalah adanya larangan untuk memakan harta anak yatim.

Namun, ada yang menarik dan menggelitik untuk direnungkan secara mendalam (ditadabburi), yaitu, fakta bahwa pelarangan ini mempergunakan bahasa: wala taqrabu, yang artinya: “dan janganlah kamu mendekat”.

Bahasa pelarangan seperti ini, persis dengan bahasa pelarangan terhadap perbuatan zina atau fahisyah, sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT berikut:

وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ [الأنعام: 151]

Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi. (Q.S. Al-An’am: 151)..

Di bagian lain dari Al-Qur’an, Allah Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا [الإسراء: 32]

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Q.S. Al-Isra’: 32).

Terkait dengan kekhasan bahasa pelarangan ini, Syekh Mahmud Syaltut menjelaskan sebagai berikut:

“وَمَنْ تَأَمَّلَ أُسْلُوْبَ هَذِهِ الْآيَةِ رَأَى أَنَّ الْوَصِيَّةَ بِالْيَتِيْمِ قُصِدَ فِيْهَا النَّهْيُ عَنْ “قُرْبَانِ” مَالِهِ، وَأَنَّ تَسْلِيْطَ النَّهْيِ عَلَى “الْقُرْبَانِ”، عَلَى هَذَا النَّحْوِ لَمْ يَرِدْ فِيْ شَيْءٍ غَيْرِ الْنَّهْيِ عَنْ مَالِ الْيَتِيْمِ إِلَّا فِي الْوَصِيَّةِ بِالنَّهْيِ عَنِ الْفَوَاحِشِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَأَنَّ مَا عَدَاهُمَا كَانَ النَّهْيُ فِيْهِ مُسَلَّطًا عَلَى نَفْسِ الْفِعْلِ، حَتَّى الشَّرْكِ بِاللهِ: {لَا تُشْرِكُوا}، {وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ}، {وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ} … إلخ.

وَذَلِكَ:

1 – يَدُلُّ عَلَى مِقْدَارِ الْعِنَايَةِ الْإِلَهِيَّةِ بِالْيَتِيْمِ،

2 – وَيُوْحِيْ بِأَنَّ الاِعْتِدَاءَ عَلَيْهِ هُوَ عِنْدَ اللهِ فِيْ مُسْتَوَى ارْتِكَابِ الْفَوَاحِشِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

المصدر: تفسير القرآن الكريم للشيخ محمود شلتوت، طبعة دار الشروق، ص 144 – 145

Siapa saja yang menyelami bahasa ayat ini, akan tampaklah baginya bahwa wasiat terkait dengan yatim, pelarangan yang dimaksud adalah “mendekati” harta anak yatim.

Jadi, pusat penyorotannya diarahkan kepada pelarangan untuk “mendekati”, persis dengan pelarangan terhadap zina atau fahisyah.

Hal ini berbeda dengan bahasa pelarangan terhadap yang lainnya, dimana bahasa pelarangan diarahkan secara langsung kepada perbuatannya: “Jangan menyekutukan Allah”, “Jangan membunuh anak-anak kamu”, “jangan membunuh jiwa yang diharamkan Allah” … dst.

Hal ini:

  1. Menunjukkan betapa tinggi dan besar perhatian Allah SWT terhadap urusan anak yatim,
  2. Memberi kesan kuat bahwa melakukan bentuk pelanggaran terhadap urusan anak yatim, di sisi Allah SWT, sama beratnya dengan urusan pelanggaran terhadap fahisyah dan perzinaan, baik yang kasat mata, maupun yang terselubung.

(dikutip dari: Tafsir Al-Qur’an al-Karim, karya Syekh Mahmud Syaltut, cetakan Dar al Syuruq, halaman 144 – 145).

Semoga bermanfaat, amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *