Kitab yang Zunik

%d9%85%d9%82%d8%af%d9%85%d8%a7%d8%aa

Sebagai penggemar buku/kitab, terkadang, tanda direncanakan, bahkan cenderung mengejutkan, seseorang bertemu dengan sebuah kitab atau buku yang unik (baca: zunik, biar lebih dalem).

Pengalaman seperti di atas sering saya alami, di mana, ada banyak kitab atau buku zunik yang saya dapatkan dalam suasana seperti di atas, suasana tanpa direncanakan, dan cenderung mengejutkan.

Cerita dan pengalaman saya kali ini adalah perjumpaan saya dengan sebuah risalah, sebuah buku “kecil” yang hanya terdiri dari 50 halaman “saja”, namun dicetak dalam format “kitab kuning” dalam arti panjang, lebar, dan nyaris tanpa tanda baca (tanpa alinea, tanpa tanda tanya pada saat bertanya, tanpa tanda seru saat ada penegasan, tanpa tanda kutip, bahkan tanpa koma dan tanpa titik, woooww … lha terus kapan berhentinya?!!).

Ada banyak kezunikan dalam kitab (risalah) ini, diantaranya:

  1. Risalah ini bernama: Risalatun fi Muqaddimat al-‘ulum. Kalau ditulis dengan huruf Arab: رسالة في مقدمات العلوم
  2. Penyusunnya, menurut saya, terbilang zunik juga, sebab, pengalaman pribadi saya, baru kali ini berjumpa dengan nama: Al-Ustadz al-Kamil Asy-Syekh Mahmud bin Umar al-Jarkasiy, al-Qarimiy, al-Baslaniy. Meskipun, isi dari risalah yang beliau tulis menunjukkan beliau adalah seorang ulama’ yang mumpuni. Dan kemumpunian seorang ulama’ ini juga diakui oleh pihak yang mencetak risalah ini.
  3. Risalah ini, sesuai dengan namanya, berisi tentang mukadimah-mukadimah berbagai ilmu. Apa itu mukadimah? Inilah kezunikan yang lainnya.
  4. Mukadimah ilmu terhitung pembahasan yang zunik, sebab, – lagi-lagi ini pengalaman pribadi – pembahasan tentang mukadimah ilmu jarang diangkat dan dibicarakan.
  5. Mukadimah ilmu menjelaskan tentang bahwa setiap ilmu, apa pun ilmu itu, paling tidak ilmu-ilmu syar’iy dan ilmu-ilmu adabi (sastra) selalu diawali dengan penjelasan tentang definisi ilmu, peletak dasar ilmu tertentu, tema yang menjadi isu pembahasan ilmu, hubungan antara satu ilmu dengan ilmu lainnya, manfaat dan kegunaan ilmu dan semacamnya.
  6. Karena yang dibahas dalam mukadimah ilmu itu ada sepuluh point, maka mukadimah ilmu itu sering disebut dengan istilah: al-muqaddimat al-‘asyr lil ‘ilmi (sepuluh mukadimah ilmu).
  7. 10 mukadimah ini terhimpun dalam tiga bait syi’ir sebagai berikut:

إِنَّ مَبَادِي كُلِّ فَنٍّ عَشْرَةْ ÷ اَلْحَدُّ وَالْمَوْضُوْعُ ثُمَّ الثَّمْرَةْ

وَفَضْلُهُ وَنِسْبَةٌ وَالْوَاضِعْ ÷ وَالاِسْمُ الاِسْتِمْدَادُ حُكْمُ الشَّارِعْ

مَسَائِلُ وَالْبَعْضُ بِالْبَعْضِ اكْتَفَى ÷ وَمَنْ دَرَى الْجَمِيْعَ حَازَ الشَّرَفَا

  1. Ada 17 bidang studi ilmu yang oleh Syekh Mahmud ini dituliskan mukaddimat-nya, yaitu: ilmu fiqih, ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu bahasa, ilmu ushul fiqih, ilmu ma’ani, ilmu bayan, ilmu badi’, ilmu nahwu, ilmu isytiqaq, ilmu tashrif (sharaf), ilmu mantiq, ilmu kalam, ilmu ‘arudh, ilmu qawafi, ilmu membuat syi’ir dan terakhir ilmu menulis.

Bagi pembaca yang ingin membaca dan melihat sendiri kezunikan dari risalah ini, silahkan cari di internet dengan entry kata: رسالة في مقدمات العلوم

Semoga pembaca menemukan kezunikan lebih banyak lagi, amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *