Ketepatan Khithab

Menurut ilmu bahasa, khususnya Ilmu Balaghah, sebuah khithab, dinyatakan tepat guna manakala memenuhi beberapa aspek:

  1. Khithab itu harus terdiri dari kosakata-kosakata yang fashahah (fasih), istilahnya adalah: fashahatul kalimah yang ini harus memenuhi tiga syarat:
    1. Tanafurul Huruf, kosakata itu harus terbebas dari susunan huruf-huruf yang kurang singkron.
    2. Mukhalafatul Qiyas, kosakata itu harus selamat dari penggunaan kaidah yang salah.
    3. Gharabah, kosakata itu tidak boleh merupakan kosakata aneh, asing dan tidak dikenal oleh mukhathab (pihak yang kepadanya sebuah kata itu ditujukan dan dimaksudkan.
  2. Kalam (susunan dan gabungan kosakata-kosakata) yang menjadi konten dari khithab itu juga harus memenuhi aspek fashahatul kalam (susunan dan gabungan kosakata-kosakata yang fasih), yaitu:
    1. Tanafurul kalimat, antara kosakata yang satu dengan kosakata lainnya, terbebas dari ketidaksingkronan, meskipun huruf-huruf di internal kosakata itu sudah singkron.
    2. Dha’fut-ta’lif, tidak terdapat kelemahan pada aspek tehnik penyusunan kosakata-kosakata yang menjadi konten khithab itu. Dengan bahasa lain, penyusunan kosakata-kosakata itu tidak keluar dari kaidah Ilmu Nahwu, ilmu gramer Arab.
    3. Ta’qid, susunan dan gabungan dari kosakata-kosakata itu tidak berupa simpul-simpul yang membuat mukhathab (pihak yang kepadanya ditujukan dan dimaksudkan pembicaraan), menjadi kebingungan dan kesulitan dalam memahami maksud khithab.
    4. Memenuhi persyaratan fashahatul kalimah (kosakata yang fasih).
  3. Kesesuaian khithab itu dengan muqtadhal hal, situasi dan kondisi yang menuntut munculnya khithab tersebut.

Yang paling sulit dari aspek-aspek ketepatan di atas adalah aspek ketiga, yaitu: adanya kesesuaian antara khithab dengan muqtadhal halil khhithab, atau kesesuaian antara khithab yang disampaikan, baik melalui lisan (ceramah, khutbah, taushiyah, taujih dan semacamnya), maupun melalui tulisan, menyesuaikannya dengan situasi dan kondisi yang melingkupi munculnya khithab tersebut.

Sebab, muqtadhal hal yang dimaksud itu bisa sempit dan bisa sangat luas. Sempit dalam arti hanya terkait dengan situasi dan kondiri seorang (satu orang) mukhathab. Dan bisa sangat luas, jika mukhathabnya adalah anggota dari sebuah organisasi, apalagi rakyat suatu negara. Dan akan semakin sulit lagi, manakala khithab itu ditujukan untuk seluruh umat manusia di seantero dunia ini.

Aspek ketiga dari persyaratan ketepatan khithab ini, juga karena tidak hanya terkait dengan aspek konten dan isi dari khithab tersebut, namun, harus menyesuaikan juga dengan situasi dan kondisi yang melingkupinya.

Misalnya, seseorang yang sedang sakit, tidak tepat disampaikan kepadanya khithab yang berisi cerita-cerita tentang banyaknya orang yang meninggal dunia dikarenakan oleh penyakit seperti yang diderita oleh si pasien itu, meskipun seluruh konten cerita yang disampaikan adalah cerita fakta dan kebenaran.

Contoh lain misalnya, saat situasi dan kondisi menuntut adanya pengerahan berbagai asbab maddiyah (sebab-sebab material) untuk suksesnya sebuah perjuangan, maka janganlah khithab yang disampaikan itu menjelaskan betapa tidak pentingnya asbab maddiyyah itu, karena yang penting adalah asbab ma’nawiyah (sebab-sebab inmateriil).

Contoh lain lagi misalnya: di saat situasi dan kondiri menuntut perlunya para mukhathab meraih dan menggapai tujuan dan cita-cita, janganlah khithabnya justru berisi tentang cerita-cerita tentang tidak tercapainya sebuah tujuan dan cita-cita.

Dari penggambaran singkat tentang “ketepatan khithab” inilah, terbayang beberapa hal, diantaranya:

  1. Ternyata sulit dan tidak mudah juga menyampaikan khithab itu, baik secara lisan (ceramah, khutbah, taushiyah, taujih dan semacamnya), maupun dalam bentuk tulisan.
  2. Dari sini pula, sebuah khithab, baik secara lisan maupun dalam bentuk tulisan, akan berhadapan dengan naqd (kritikan), ataupun penilaian (taqyim), yang bisa jadi sebuah khithab akan mendapatkan label: benar atau salah, tepat atau tidak tepat. Bahkan, bisa jadi penyampai khithab nya pun juga tidak akan terlepas dari penilaian tersebut. Bahkan bisa berdamppak kepada perilaku mukhathab yang membanding-bandingkan antara kemampuan satu pemberi khithab dengan pemberi khithab yang lain.
  3. Repotnya, jika khithab itu dipandang tidak tepat, maka ada kemungkinan mukhathab (pihak yang kepadanya ditujukan dan diarahkan sebuah khithab) akan berpaling dari seorang penyampai khithab. Lebih buruknya lagi, mukhathab bisa beralih dan berpindah kepada penyampai khithab yang lain.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua untuk bisa tepat dalam menyampaikan khithab, amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *