Kenapa Mesti Bekerja?

 

Seorang amil (pekerja, aktifis) bekerja (pertimbangan) pertama demi melaksanakan kewajiban, lalu, (pertimbanan) kedua demi mendapat pahala akhirat, lalu (pertimbangan) ketiga demi memberi manfaat kepada pihak lain.

أَنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ لِأَدَاءِ الْوَاجِبِ أَوَّلًا، ثُمَّ لِلْأَجْرِ الْأُخْرَوِيِّ ثَانِيًا، ثُمَّ لِلْإِفَادَةِ ثَالِثًا،

Dan jika dia (pekerja, aktifis) telah bekerja, sungguh ia telah menunaikan kewajiban, dan beruntung dengan pahala dari Allah SWT tanpa diragukan lagi, jika syarat-syaratnya terpenuhi (ikhlas, diantaranya).

وَهُوَ إِنْ عَمِلَ، فَقَدْ أَدَّى الْوَاجِبَ، وَفَازَ بِثَوَابِ اللهِ، مَا فِيْ ذَلِكَ مِنْ شَكٍّ، مَتَى تَوَفَّرَتْ شُرُوْطُهُ،

Tinggal masalah memberi manfaat. Untuk yang ini urusannya terserah Allah SWT. Sebab bisa jadi datang satu kesempatan yang tidak pernah diduganya yang menjadikan pekerjaannya datang dengan berbagai hasil yang paling berkah

وَبَقِيَتِ الْإِفَادَةُ، وَأَمْرُهَا إِلَى اللهِ، فَقَدْ تَأْتِيْ فُرْصَةُ لَمْ تَكُنْ فِيْ حِسَابِهِ، تَجْعَلُ عَمَلَهُ يَأْتِيْ بِأَبْرَكِ الثَّمَرَاتِ،

Sementara jika dia (pekerja, aktifis) tidak bekerja, jelas ia mendapat dosa atas tidak kerjanya itu, ia pun kehilangan pahala berjihad, dan pasti pula tidak dapat memberi manfaat.

عَلَى حِيْنَ إِنَّهُ إِذَا قَعَدَ عَنِ الْعَمَلِ، فَقَدْ لَزِمَهُ إِثْمُ التَّقْصِيْرِ، وَضَاعَ مِنْهُ أَجْرُ الْجِهَادِ، وَحُرِمَ الْإِفَادَةَ قَطْعًا.

Lalu, kelompok yang manakah dari yang bekerja dengan yang tidak bekerja yang lebih baik kedudukan dan seruannya?

فَأَيُّ الْفَرِيْقَيْنِ خَيْرٌ مَقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا؟

Dan Al-Qur’an al-Karim telah memberi isyarat tentang hal ini dengan gamblang dan jelas pada ayat berikut:

وَقَدْ أَشَارَ الْقُرْآنُ الْكَرِيْمُ إِلَى ذَلِكَ فِيْ صَرَاحَةٍ وَوُضُوْحٍ فِيْ الْآيَةِ اَلْكَرِيْمَةِ:

Dan ingatlah ketika suatu umat di antara mereka berkata: “mengapa kamu menasihati kaum yang akan dibinasakan atau diadzab Allah dengan adzab yang sangat keras?”. Mereka menjawab: “Agar kamu mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan agar mereka bertakwa”. Maka setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang orang yang berbuat jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (Q.S. Al-a’raf: 164 – 165).

{وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُواْ مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ، فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ أَنجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُواْ بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُواْ يَفْسُقُونَ} [الأعراف: 164 – 165]

Karena inilah tidak ada alasan untuk tidak beramal dan berjihad bagi seorang muslim yang memiliki ghirah, yang jiwanya telah mendarah daging dengan prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran Islam

لِهَذَا، كَانَ لَا مَنْدُوْحَةَ مِنَ الْعَمَلِ وَالْجِهَادِ لِلْمُسْلِمِ اَلْغَيُوْرِ اَلَّذِيْ تَشَرَّبَتْ نَفْسُهُ بِمَبَادِئِ الْإِسْلَامِ وَتَعَالِيْمِهِ،

Dan untuk inilah Ikhwanul Muslimin bekerja mengerahkan segala jerih payahnya, mereka mati-matian dalam mencapai tujuannya, dan mengerahkan segalanya di jalan jihadnya

وَلِهَذَا يَعْمَلُ الْإِخْوَانُ اَلْمُسْلِمُوْنَ جُهْدَهُمْ، وَيَتَفَانَوْنَ فِيْ غَايَتِهِمْ، وَيَبْذُلُوْنَ كُلَّ شَيْءٍ فِيْ جِهَادِهِمْ،

Jika berhasil, itulah yang diharapkan, dan jika tidak berhasil, maka cukup menjadi kebanggaan mereka bahwa mereka telah menjadi jembatan penyambung fikrah kepada generasi yang lebih mampu daripada mereka dalam merealisasikan fikrahnya

فَإِنْ وُفِّقُوْا فَذَاكَ، وَإِنْ فَاتَهُمْ ذَلِكَ، فَحَسْبُهُمْ أَنْ يَكُوْنُوْا قَنْطَرَةً تَعْبُرُ عَلَيْهَا اَلْفِكْرَةُ إِلَى مَنْ هُمَ أَقْدَرُ مِنْهُمْ عَلَى تَحْقِيْقِهَا،

Jika tidak berhasil menjadi jembatan penghubung pun, cukuplah bagi mereka bahwa mereka telah mempunyai alasan di hadapan Allah SWT bahwa mereka telah bekerja

وَإِلَّا، فَحَسْبُهُمْ أَنْ يُعْذِرُوْا إِلَى اللهِ

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *