KE-TAWADHU’AN SYEKH NAWAWI AL-BANTANI

Syeikh-Nawawi-al-Bantani

SERI KAJIAN KITAB “SALALIMUL FUDHALA”

Bagian-2

KE-TAWADHU’AN SYEKH NAWAWI AL-BANTANI

(1230 – 1314 H = 1815 – 1897 M)

Salah satu ciri khas ulama’ Islam adalah komitmen mereka untuk berakhlaq mulia. Dan diantara akhlaq mulia para ulama’ yang hampir selalu disebut oleh para penulis biografi mereka adalah sifat tawadhu’, rendah hati, istilah Jawa-nya andap asor.

Syekh Nawawi al-Bantani, yang menjadi guru bagi banyak ulama’ nusantara, juga dikenal sebagai seorang ulama’ yang tawadhu’, meskipun ada lebih dari 115 judul kitab telah beliau tulis dalam Bahasa Arab, yang sampai sekarang kitab-kitab-nya itu masih dipelajari di banyak pondok pesantren di nusantara, khususnya di pulau Jawa.

Diantara bukti ke-tawadhu’-an beliau, saat beliau hendak memulai men-syarah (memberikan ulasan) terhadap nazham “Hidayatul Adzkiya’ ila Thariqil Auliya’” karya Syekh Zainuddin al-Malibari (872 – 928 H = 1467 – 1522 M), beliau memulainya dengan beberapa pernyataan yang menunjukkan ke-tawadhu’-an beliau.

Untuk diketahui, nazham adalah satu bentuk karya ilmiah yang menyerupai syi’ir. sedangkan “Hidayatul Adzkiya’ ila Thariqil Auliya’” adalah sebuah nazham yang berisi tentang kumpulan adab atau tata kerama yang harus dipegang teguh oleh siapa saja yang hendak menempuh jalan ke-wali­-an. Dinamakan “hidayatul adzkiya’” sebab ia menjadi petunjuk bagi orang-orang yang cerdas. Namun, karena karya ilmiah ini berbentuk nazham, yang biasanya kalimatnya sangat pendek, namun padat dengan makna, maka kitab ini perlu di-syarah, dan syekh Nawawi al-Bantani termasuk salah seorang ulama’ yang men-syarah karya ilmiah yang berbentuk nazham ini.

Pernyataan-pernyataan yang syekh Nawawi sebutkan, yang menunjukkan ke-tawadhu’-an beliau diantaranya:

  1. Mensyarah Atas Permintaan Orang lain.

Saat Syekh Nawawi al-Bantani memulai men-syarah nazham ini, Syekh Nawawi mengatakan bahwa kehendak untuk men­-syarah nazham ini pada asalnya bukanlah datang dari inisiatif beliau sendiri, namun, ada pihak-pihak tertentu yang meminta kepada beliau untuk men­-syarah nazham ini. Terkait dengan hal ini beliau menyatakan: هَذَا شَرْحٌ سُئِلْتُ فِيْهِ (ini adalah sebuah syarah, yang aku diminta [sekali lagi: diminta] untuk terjun ke dalamnya).

  1. Kerja Syekh Nawawi dalam Syarah Hanyalah Menghimpun dan Menulis Ulang

Di bagian awal dari syarah ini, Syekh Nawawi al-Bantani juga menyatakan bahwa syarah yang beliau lakukan “hanyalah”, sekali lagi, hanyalah hasil kumpulan dari pendapat para ulama’ yang beliau himpun, lalu beliau tulis ulang. masyaAllah, beliau hanya menghimpun dan menulis ulang?! Sungguh, tawadhu’ yang luar biasa. Terkait hal ini, beliau menyatakan: وَلَيْسَ لِيْ فِيْ هَذَا الْمَجْمُوْعِ إِلَّا الْكِتَابَةُ وَالْجَمْعُ مِنْ كَلَامِ النُّبَلَاءِ (dalam himpunan ini, saya tidak ada peran kecuali menulis dan menghimpun perkataan orang-orang yang mulia). Bahkan dari kutipan ini, beliau pun menamai syarah-nya dengan istilah al-majmu’ yang artinya: himpunan, seakan beliau “hanya” menghimpun saja.

  1. Banyak Salah??!

Syekh Nawawi al-Bantani menyatakan bahwa di dalam syarah yang beliau sebut sebagai himpunan ini, terkandung banyak kemungkinan salah, yang beliau istilahkan dengan berbagai istilah kelemahan. Ada istilah اَلْخَلَل yang artinya cacat, ada istilah تَشْوِيْش yang artinya tercampur aduknya informasi dan pengetahuan, sehingga mengakibatkan terjadinya ke-tidak tepat-an, ada istilah وَهْم yang berarti ilusi atau salah menduga, ada istilah سُوْءُ فَهْم yang berarti salah faham, ada istilah عَيْب yang berarti cela atau celah atau lubang atau aib, ada lagi istilah زَلَل yang berarti terpeleset, ada pula هَفَوَات yang berarti melenceng dari jalan dan ada pula istilah عَثَرَات yang berarti perjalanan yang tidak tegak dan terseok-seok ke kanan kiri.

Semua istilah ini menggambarkan tentang kesalahan dan kekeliruan, atau ke-tidak tepat-an.

Hal ini tidak lain karena ke-tawadhu’-an beliau, semoga Allah SWT merahmatinya, amin.

  1. Under Capacity??!

Beliau juga mengaku bahwa sebenarnya (kata beliau), beliau tidak mempunyai kapasitas untuk men­-syarah nazham ini, kalaupun ada sedikit-sedikit (kira-kira maknanya begini), modal yang sedikit ini belum lah cukup untuk melakukan kerja besar bernama: syarah nazham, katanya. Terkait hal ini, beliau berkata: … مَعَ عَدَمِ تَأَهُّلِيْ لِذَلِكَ وَقُصُوْرِيْ عَنِ الْوُصُوْلِ إِلَى مَا هُنَالِكَ (disertai ketidak cakapan saya untuk hal ini, dan ketidak mampuanku untuk mencapai yang nun jauh di sana). Lagi-lagi, hal ini beliau nyatakan hanyalah sebagai satu bentuk ke-tawadhu’-an beliau, rahimahullah rahmatan wasi’atan, amin.

Untuk semua kemungkinan kelemahan-kelemahan ini, Syekh Nawawi al-Bantani menyatakan tiga hal, yaitu:

  1. Meminta permakluman dari para pembaca syarah beliau, lalu membetulkan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi.

Terkait hal ini, Syekh Nawawi al-Bantani menyatakan:

فَإِذَا رَأَيْتَ فِيْهِ شَيْئًا مِنَ الْخَلَلِ فَمِنْ تَشْوِيْشٍ حَصَلَ مِنِّيْ، أَوْ وَهْمٍ صَدَرَ مِنْ سُوْءِ فَهْمِيْ، فَالْمَطْلُوْبُ مِمَّنْ اِطَّلَعَ عَلَى ذَلِكَ أَنْ يُصْلِحَهُ بَعْدَ وَضْعِ الْمِيْزَانِ، فَرَحِمَ اللهُ امْرَءًا رَأَى عَيْبًا فَسَتَرَهُ، أَوْ زَلَلًا فَغَفَرَهُ، أَوْ وَهْمًا فَحَلُمَ عَلَى صَاحِبِهِ وَعَذَرَهُ، فَإِنَّهُ قَلَّ أَنْ يَخْلُصَ مُصَنِّفٌ مِنَ الْهَفَوَاتِ، أَوْ يَنْجُوْ مُؤَلِّفٌ مِنْ عَثَرَاتٍ، مَعَ عَدَمِ تَأَهُّلِيْ لِذَلِكَ، وَقُصُوْرِيْ عَنِ الْوُصُوْلِ إِلَى مَا هُنَالِكَ

Oleh  karena itu, jika engkau (pembaca) melihat suatu cacat, maka (ketahuilah bahwa hal itu akibat) dari ketidak fokusan diriku, atau ilusi yang timbul dari buruknya pemahamanku. Oleh karena itu, saya meminta dari siapa saja yang menemukan hal-hal demikian, agar ia berkenan memperbaikinya setelah meletakkan timbangan, maka, semoga Allah SWT merahmati seseorang yang melihat aib pada seseorang lalu menutupinya, atau melihat kekeliruan, lalu mengampuninya, atau melihat suatu ilusi, lalu berkenan mengampuni dan memakluminya, sebab, sedikit sekali seorang penulis yang luput dari kesalahan, atau selamat dari keterplesetan. (terlebih saya, yang sebenarnya) tidak memiliki keahlian untuk melakukan syarah ini, dan ketidak mampuanku untuk mencapai apa yang ada di (sebelah) sana.

  1. Menyatakan bahwa beliau baro’ah (berlepas diri) dari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dalam men-syarah nazham

Terkait dengan hal ini, syekh Nawawi al-Bantani menyatakan:

وَإِنِّيْ أَبْرَأُ إِلَى اللهِ مِمَّا زَلَّ بِهِ الْبَنَانُ، أَوْ ضَلَّ بِهِ الْبَيَانُ أَوْ حَلَّ فِيْهِ الْخَطَأُ أَوِ النِّسْيَانُ

Dan aku menyatakan berlepas diri kepada Allah SWY dari jemari yang terpeleset (salah), atau penjelasan yang melenceng, atau berkubang dalang kesalahan atau kealpaan.

  1. Berdo’a dan memohon kepada Allah SWT, semoga Allah SWT berkenan untuk tidak menjadikan syarah-nya ini sebagai saksi yang memberatkannya di hari akhirat nanti.

Terkait dengan hal ini, syekh Nawawi al-Bantani menyatakan:

وَإِلَى اللهِ الْكَرِيْمِ أَمُدُّ أَكُفَّ الضَّرَاعَةِ وَالاِبْتِهَالِ أَنْ لَا يَجْعَلَهُ حُجَّةً عَلَيَّ يَوْمَ قِيَامِ السَّاعَةِ وَظُهُوْرِ الْأَهْوَالِ.

Dan kepada Allah Dzat Yang Maha Mulia, aku tengadahkan telapak tanganku sebagai bentuk permohonan yang amat sangat, agar Allah SWT tidak menjadikan syarah ini sebagai saksi yang memberatkan diriku pada hari kiamat, hari bagi kemunculan berbagai peristiwa yang sangat dahsyat.

Semoga Allah SWT merahmati syekh Nawawi al-Bantani, mengampuni dosa-dosanya, dan menjadikan karya-karyanya sebagai karya yang berkah dan manfaat bagi Islam dan kaum muslimin, serta semoga kita semua mendapatkan bagian dari manfaat dan keberkahan dari ilmu beliau, amin.

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *