Jumlah Ayat Al-Qur’an

Basyirul Yusri

JUMLAH AYAT AL-QUR’AN

Prolog

populer di tengah masyarakat bahwa jumlah ayat Al-Qur’an adalah 6666 (enam ribu enam ratus enam puluh enam). Sebuah gabungan angka yang indah nan cantik, mudah dihafal dan gampang diingat.

Pernah suatu kali, waktu masih kecil dulu, kami, anak-anak ngaji di kampung, pernah iseng-iseng menghitung dengan cara menjumlahkan total ayat di setiap surat. Ternyata, kami hanya mendapatkan angka 6236 ayat saja. Kami pun menjadi bingung: “kurangnya banyak banget!!!”. Kata kami waktu itu. Tetapi, kami pun tidak berani bertanya, apalagi mengkonfirmasi.

Rasa penasaran kami “sedikit” terobati saat kami mendapatkan informasi bahwa jumlah ayat Al-Qur’an yang 6236 itu adalah menurut itungan ulama’ Kufah, sedangkan angka 6666 itu menurut itungan ulama lainnya.

Waktu itu kami sudah mulai dengar-dengar istilah ulama’ Kufah dan ulama’ Bashrah, yaitu saat kami mulai belajar ilmu Nahwu (gramar bahasa Arab), tepatnya saat kami mulai belajar syarah Ibnu ‘Aqil, sebuah kitab yang mengulas nazham Alfiyah Ibnu Malik, sebuah nazham Ilmu Nahwu yang sangat terkenal itu.

Akan tetapi, “obat yang sedikit” itu ternyata semakin menambah rasa penasaran kami, penasaran yang menimbulkan banyak pertanyaan:

  1. Adakah perbedaan pendapat diantara para ulama’ dalam menghitung ayat Al-Qur’an?
  2. Apakah perbedaan pendapat ini maknanya adalah adanya perbedaan mereka tentang Al-Qur’an? Sehingga jumlah ayatnya pun menjadi berbeda?
  3. Apa makna perbedaan dalam menghitung jumlah ayat Al-Qur’an?
  4. Adakah kitab-kitab yang mu’tabar yang berbicara tentang perbedaan tentang jumlah ayat Al-Qur’an ini?

Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang masih menjadi bagian dari penasaran kami yang belum dapat kami suguhkan dalam bentuk kalimat pertanyaan.

Penasaran atas semua itu, kami pun terus belajar dan belajar, dan hasil dari belajar yang kami lakukan, insyaAllah akan dijelaskan dalam pembahasan-pembahasan tentang:

  1. Pengertian ulama’ berbeda pendapat dalam menghitung jumlah ayat Al-Qur’an
  2. Ilmu Fawashil adalah ilmu yang khusus membahas tentang perbedaan pendapat dalam menghitung ayat Al-Qur’an, yang mencakup:
    1. Pengertian ilmu fawashil.
    2. Manfaat dan kegunaan ilmu fawashil.
    3. Ulama’ al-Adad, atau ulama’-ulama’ yang mu’tabar dalam menghitung ayat Al-Qur’an.
    4. Kitab-kitab referensi dalam ilmu fawashil.
  3. Pendapat yang mengatakan bahwa jumlah ayat Al-Qur’an adalah 6666 adalah pendapat yang ghairu mu’tabar, berikut penjelasan tentang rinciannya.

Pembahasan

Pertama: Makna Perbedaan Pendapat Ulama tentang Jumlah Ayat Al-Qur’an

Adanya perbedaan pendapat diantara para ulama tentang jumlah ayat Al-Qur’an tidaklah berarti bahwa Al-Qur’an mereka berbeda. Tidak, sama sekali tidak. Al-Qur’an mereka tetap lah sama, dimuali dari ba’-nya bismillahirrahmanirrahim dan diakhiri dengan sin-nya minal jinnati wannas.

Perbedaan pendapat mereka tentang jumlah ayat Al-Qur’an juga tidak berarti ada bagian dari Al-Qur’an yang dikurangi, atau ada bagian dari Al-Qur’an yang ditambah. Sama sekali tidak.

Perbedaan pendapat mereka tentang jumlah ayat Al-Qur’an juga tidak berarti ada berbagai macam Al-Qur’an, sama sekali bukan ini maksudnya.

Namun, perbedaan pendapat para ulama’ tentang jumlah ayat Al-Qur’an hanyalah karena perbedaan pendapat mereka tentang kapan suatu ayat dimulai dan kapan pula di akhiri.

Dengan bahasa lain, dengan kosa kata apa suatu ayat dimulai dan dengan kosa kata apa suatu ayat di akhiri.

Sekedar contoh, firman Allah SWT:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Adakah firman Allah SWT ini dihitung sebagai satu ayat ataukah dihitung sebagai dua ayat?

Bagi yang menghitungnya satu ayat, maka ayat ini dimulai dengan kosa kata “shirata” dan diakhiri dengan kata “waladh-dhallin”.

Namun, bagi yang menghitungnya dua ayat, maka bagian yang pertama dimulai dengan kosa kata “shiratha” dan berakhir dengan kosa kata “alaihim”. Dan bagian ayat yang kedua dimulai dengan kosa kata “ghairi” dan berakhir dengan kosa kata “waladh-dhallin”.

Jadi, perbedaan mereka hanyalah perbedaan dalam menentukan awal dan akhir suatu ayat saja.

Atau, dengan bahasa lain, perbedaan pendapat mereka hanyalah berbeda dalam titik awal dan titik akhir cara menghitungnya saja.

Contoh lain adalah firman Allah SWT:

يس وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ

Firman Allah SWT ini terhitung satu ayat ataukah terhitung dua ayat?

Bagi yang menghitungnya sebagai satu ayat, maka satu ayat ini dimulai dari kosa kata “yasin” dan diakhiri dengan kosa kata “al-hakim”.

Namun, bagi yang menghitungnya dua ayat, maka, ayat yang ke-1 adalah kosa kata “yasin”. Dan ayat yang kedua adalah “wal-Qur’anil hakim”.

Penjelasannya bisa juga disingkat menjadi: “perbedaan pendapat diantara para ulama’, sebenarnya hanyalah perbedaan pendapat tentang kosa kata akhir dari suatu ayat”. Sebab, dengan mengetahui kosa kata terakhir, akan dapat diketahui dengan mudah kosa kata awal dari ayat berikutnya.

Kosa kata terakhir dari suatu ayat oleh para ulama’ disebut dengan istilah fashilah (فَاصِلَة) yang bentuk jama’ (plural)-nya adalah fawashil (فَوَاصِل).

Dengan demikian, perbedaan pendapat diantara para ulama dalam menentukan jumlah ayat Al-Qur’an pada hakekatnya hanyalah perbedaan pendapat diantara mereka dalam menentukan fashilah atau fawashil-nya saja.

Kedua: Ilmu al-Fawashil

  1. Pengertian Ilmu Fawashil

Dalam perkembangannya, perbedaan pendapat diantara para ulama’ tentang jumlah ayat Al-Qur’an, telah menghasilkan satu cabang ilmu tersendiri dari sekian banyak ilmu-ilmu Al-Qur’an (Ulumul Qur’an) yang diberi nama ‘Ilmul Fawashil.

Istilah Ilmu Fawashil terdiri dari dua suku kata: “ilmu” dan “fawashil”.

Ilmu maksudnya adalah sebuah bidang studi yang bersifat khusus yang memiliki kaidah-kaidahnya secara menyendiri.

Sedangkan fawashil – sebagaimana telah disinggung sebelumnya – adalah bentuk jamak (plural) dari kata fashilah yang berarti ujung akhir suatu ayat.

Istilah lain dari fashilah adalah ra’sul ayat (رأس الآية) atau kepala atau ujung akhir suatu ayat.

Dengan demikian, Ilmul Fawashil adalah:

 

هُوَ عِلْمٌ يُبْحَثُ فِيْهِ عَنْ أَحْوَالِ آيَاتِ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ مِنْ حَيْثُ مَعْرِفَةُ عَدَدِ آيَاتِ كُلِّ سُوْرَةٍ مَعَ بَيَانِ رُؤُوْسِ آيَاتِهَا وَخَاتِمَتِهَا

 

Ilmu yang di dalamnya dibahas tentang berbagai keadaan ayat Al-Qur’an al-Karim dari sisi pengetahuan terhadap jumlah ayat pada setiap surat disertai penjelasan tentang ujung akhir dari ayat itu.

Istilah lain yang juga dipergunakan oleh para ulama’ adalah istilah “Ilmul ‘Adad”, suatu ilmu yang berbicara tentang jumlah ayat setiap surat Al-Qur’an.

  1. Manfaat Ilmu Fawashil

Dengan menguasai ilmu fawashil, seseorang akan banyak mendapatkan manfaat, kegunaan dan keuntungan, diantaranya:

  1. Mengetahui kadar sahnya shalat. Sebab, sebagian ulama berpendapat bahwa bagi yang belum hafal surat Al-Fatihah, kalau ada, maka sah baginya mengganti dengan tujuh ayat dari Al-Qur’an. Kalau seseorang tidak mengetahui fawashil, bagaimana bisa memberi arahan terkait tujuh ayat ini?
  2. Rasulullah SAW menjelaskan dalam shahih Muslim [hadits no. 802] bahwa siapa yang membaca 3 ayat (setelah Al-Fatihah), maka seakan ia telah mendapatkan tiga ekor unta yang gemuk yang lagi bunting. Ilmu Fawashil membantu seseorang untuk mengetahui batasan tiga ayat ini. Begitu pula pahala yang dijanjikan kepada mereka yang mau mempelajari tiga ayat dan atau lebih dari ayat-ayat Al-Qur’an.
  3. Dengan mengetahui ilmu fawashil, seseorang akan mengetahui posisi waqaf (berhenti) pada akhir ayat yang merupakan sunnah dari Rasulullah SAW.
  4. Ulama’ Adad

Para ulama’, khususnya ulama’ Ulumul Qur’an, dan lebih khusus lagi ulama’ Ilmul Fawashil telah mengenal istilah ulama’ al-‘adad, yaitu ulama’-ulama’ yang mu’tabar dalam spesialisasi menghitung ayat Al-Qur’an.

Ulama’ yang mu’tabar dalam Ilmul Fawashil ada tujuah, yaitu:

  1. Al-Madani al-Awwal. Dalam hitungan mereka, jumlah ayat Al-Qur’an totalnya adalah 6217 ayat.
  2. Al-Madani Ats-Tsani. Dalam hitungan mereka, jumlah ayat Al-Qur’an totalnya adalah 6214 ayat.
  3. Al-Makkiy. Dalam hitungan mereka, jumlah ayat Al-Qur’an totalnya adalah 6210 ayat.
  4. Al-Bashriy. Dalam hitungan mereka, jumlah ayat Al-Qur’an totalnya adalah 6204 ayat.
  5. Ad-Dimasyqi. Dalam hitungan mereka, jumlah ayat Al-Qur’an totalnya adalah 6227 ayat.
  6. Al-Himshi. Dalam hitungan mereka, jumlah ayat Al-Qur’an totalnya adalah 6232 ayat.
  7. Al-Kufi. Dalam hitungan mereka, jumlah ayat Al-Qur’an totalnya adalah 6236 ayat.

Perlu diketahui bahwa saat kita belajar tentang Ilmul Fawashil, kita akan dipertemukan dengan munculnya “semacam” istilah lain dari yang tujuh tadi. Misalnya:

  1. Al-Madani. Istilah ini dipergunakan untuk menunjukkan bahwa terdapat kesamaan pandangan diantara dua ulama’ adad dari Madinah tentang suatu Fashilah, atau tentang jumlah ayat dari suatu surat.
  2. Al-Hijazi. Istilah ini dipergunakan untuk menunjukkan bahwa terdapat kesamaan pandangan diantara dua ulama’ adad dari Madinah dan ulama’ adad dari Makkah tentang suatu Fashilah, atau tentang jumlah ayat dari suatu surat.
  3. Asy-Syami. Istilah ini dipergunakan untuk menunjukkan bahwa terdapat kesamaan pandangan diantara ulama’ adad Dimasyqi dan Himshi tentang suatu Fashilah, atau tentang jumlah ayat dari suatu surat.
  4. Al-Iraqi. Istilah ini dipergunakan untuk menunjukkan bahwa terdapat kesamaan pandangan diantara ulama’ adad dari Bashrah dan Kufah tentang suatu Fashilah, atau tentang jumlah ayat dari suatu surat.

Selain dari mereka ini, pandangannya tentang jumlah ayat suatu surat, atau pandangannya tentang suatu fashilah, termasuk total jumlah ayat Al-Qur’an, bukanlah pandangan yang mu’tabar.

Ketiga: Tentang Angka 6666

Tentang pendapat yang mengatakan bahwa jumlah total ayat Al-Qur’an adalah 6666, atau enam ribu enam ratus enam puluh enam ayat, ini adalah pendapat yang sangat sangat tidak berdasar, karenanya ia bukanlah pendapat yang mu’tabar.

Sayangnya, angka ini sudah kadung populer.

Terkait dengan hal ini, Imam Yusuf bin Ali al-Hudzali al-Yasykuri al-Maghribi (wafat 465 H) berkata:

وَلَا خِلَافَ فِيْ سِتَّةِ آلَافٍ وَمِائَتَيْنِ … وَلَا عِبْرَةَ بِقَوْلِ الرَّوَافِضِ وَالْعَامَّةِ: سِتَّةُ آلَافٍ وَسِتُّمِائَةٍ وَسِتَّةٌ وَسِتُّوْنَ

Tidak ada perbedaan pendapat dalam angka enam ribu dua ratusan … dan tidak perlu dipandang (diperhitungkan) pendapat golongan rafhidhah dan masyarakat awam yang mengatakan bahwa jumlah ayat Al-Qur’an adalah 6666. (lihat: Al-Kamil fil Qiraat wal Arba’in az-Zaidah ‘Alaiha, hal. 103).

Lebih tidak mu’tabar lagi penjelasan tambahan terkait jumlah ini, penjelasan yang mengatakan bahwa:

  • 1000 ayat berisi tentang ayat-ayat perintah.
  • 1000 ayat berisi tentang ayat-ayat larangan.
  • 1000 ayat berisi tentang ayat-ayat janji Allah.
  • 1000 ayat berisi tentang ayat-ayat ancaman Allah.
  • 1000 ayat berisi tentang berita dan cerita.
  • 1000 ayat berisi tentang ibrah dan permisalan.
  • 500 ayat tentang halal dan haram.
  • 100 ayat tentang do’a, dan
  • 66 ayat tentang nasikh dan mansukh.

Keempat: Kitab-Kitab Rujukan dalam Ilmul Fawashil

Ada beberapa kitab yang bisa dijadikan rujukan dalam Ilmul Fawashil ini, diantaranya:

  1. Basyirul Yusri Syarh Nazhimatuz-Zahari fi Ilmil Fawashili karya Al-Imam Asy-Syathibi Al-Qari (538 – 590 H = 1144 – 1194 M). Syarah dilakukan oleh Syekh Abdul Fattah al-Qadhi. Imam Syathibi di sini berbeda dengan Imam Syathibi pemilik kitab Al-Muwafaqat, sebab Imam Syathibi yang terakhir ini wafat 790 H = 1388 M.
  2. Nafaisul Bayan Syarh al-Faraid al-Hisan fi ‘Addi Ayil Qur’an, karya Syekh Abdul Fattah al-Qadhi (1325 – 1403 H = 1907 – 1982 M).

Penutup

Inilah sedikit pembahasan tentang jumlah ayat Al-Qur’an al-Karim.

Memang terdapat perbedaan pendapat para ulama’ tentang jumlah total ayat Al-Qur’an, namun, perbedaan itu hanyalah terletak pada cara menghitungnya saja, sama sekali bukan menunjukkan adanya perbedaan Al-Qur’an yang mereka miliki, sama sekali tidak.

Dan dalam hal ini, telah ada ilmu khusus dan juga kitab-kitab rujukan khusus yang membahas tentang masalah ini, sehingga dipersilahkan bagi para pembaca untuk merujuk kepada ilmu khusus ini dan juga rujukan-rujukannya yang mu’tabar, mu’tabar sesuai dengan bidang spesialisasinya.

Rabbi zidni ilman, amin.

2 Comments

  1. Alhamdulillah, JazakalLah Ustadz.

  2. masyaAlloh, mu’jizat qur’an

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *