Jangan Yang Penting Unjuk Perbedaan

ga-setuju

Terkadang, atau malah sering, ada keinginan kuat untuk membuat sebuah bantahan atau sanggahan, baik melalui tulisan, atau dalam sebuah rapat.

Namun, keinginan itu urung. Diantara sebabnya adalah adanya pengingatan (tadzkirah) dari As-Siraj al-Bulqini (724 – 805 H = 1324 – 1403 M) yang berkata:

وَلَكِنَّ الاِنْتِهَاضَ لِمُجَرَّدِ الاِعْتِرَاضِ مِنْ جُمْلَةِ الْأَمْرَاضِ (محاسن الاصطلاح، ص240).

Akan tetapi, bangkit untuk melakukan sekedar bantahan atau sanggahan sahaja, merupakan bagian dari sejumlah penyakit. (Mahasin al-ishthilah, hal. 240).

Maksudnya tentu adalah penyakit hati.

Jadi, perlu selalu memperhatikan kerja dan kinerja hati, agar dia selalu dalam posisi menghamba kepada Allah SWT semata.

Termasuk saat hendak berbantahan atau saling sanggah menyanggah, baik dalam dunia tulis menulis, atau dalam sebuah rapat. Perlu selalu mengontrol gerak gerik hati, jangan sampai, melakukan suatu perbantahan atau persanggahan karena sekedar dan hanya karena ingin melakukan bantahan atau sanggahan. Sebab, hal ini bisa jadi merupakan ekpresi dari adanya syahwah bathinah khafiyyah, atau sebuah syahwat (dalam arti negative) yang ada di dalam batin manusia, yang keberadaannya sangat tersamar dan tersembunyi.

Hal itu bisa saja terjadi pada seseorang, terutama saat ia menganut “madzhab” asbed, asal beda, atau unjuk perbedaan.

Dan terkadang, asbed itu bisa terjadi karena ada rasa, atau sifat, atau bahkan akhlaq iri (hasad) pada seseorang, sehingga, perilakunya, asal si fulan berbicara, maka saya harus membantah atau menyanggahnya.

فلا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

Ya Allah…

Bimbinglah kami untuk selalu ikhlas dalam setiap tutur dan tindakan kami, amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *