Jadilah Murabbi yang Ikhlash

Dakwah

Ada Dua Murabbi

Imam Fakhruddin Ar-Razi (544 – 606 H = 1150 – 1210 M) berkata:

الْمُرَبِّي عَلَى قِسْمَيْنِ:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُرَبِّيَ شَيْئًا لِيَرْبَحَ عَلَيْهِ الْمُرَبِّي،

وَالثَّانِي: أَنْ يُرَبِّيَهُ لِيَرْبَحَ الْمُرَبَّي،

وَتَرْبِيَةُ كُلِّ الْخَلْقِ عَلَى الْقِسْمِ الْأَوَّلِ، لِأَنَّهُمْ إِنَّمَا يُرَبُّونَ غَيْرَهُمْ لِيَرْبَحُوا عَلَيْهِ إِمَّا ثَوَابًا أَوْ ثَنَاءً،

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: هُوَ الْحَقُّ سُبْحَانَهُ،  … فَهُوَ تَعَالَى يُرَبِّي وَيُحْسِنُ،

وَهُوَ بِخِلَافِ سَائِرِ الْمُرَبِّينَ وَبِخِلَافِ سَائِرِ الْمُحْسِنِينَ. (مفاتيح الغيب [1 / 199]).

Ada dua macam murabbi:

  1. Murabbi yang menjalankan aktifitas tarbiyah demi mendapatkan keuntungan dari pihak yang ditarbiyah olehnya.
  2. Murabbi yang mentarbiyah demi memberi keuntungan kepada pihak yang ditarbiyah olehnya.

Seluruh aktifitas tarbiyah yang dilakukan oleh makhluq, semuanya masuk kategori yang pertama, sebab, mereka tidak melakukan aktifitas tarbiyah kepada pihak lainnya melainkan supaya mendapatkan keuntungan darinya atas aktifitas tarbiyahnya itu, mungkin berupa upah, ataupun pujian.

Sedangkan “Murabbi” yang –secara mutlak – mentarbiyah demi memberi keuntungan kepada pihak yang ditarbiyah, Dia itu adalah Allah SWT … sebab, Allah SWT selalu mentarbiyah dan senantiasa berbuat baik.

Hal ini berbeda dengan seluruh murabbi selain-Nya, dan berbeda juga dengan seluruh pihak yang melakukan kebaikan. (Mafatihul Ghaib [1 / 199]).

Allah Ar-Rabb

Sepengetahuan saya yang masih sangat cetek (dangkal), tidak ada dalil yang secara tekstual menyebut bahwa Allah SWT adalah Murabbi. Yang ada adalah bahwa Allah SWT adalah Ar-Rabb yang mempunyai keterkaitan erat dengan tarbiyah dan pekerjaan (fi’il) tarbiyah (rabba – yurabbi).

Oleh karena itu, sebagai bentuk kehati-hatian, kita tidak menyebut Allah SWT sebagai Murabbi atau Al-Murabbi kecuali dalam tanda petik. Sebab, yang ada dalinya adalah:

  • Allah SWT sebagai Ar-Rabb, dan
  • Allah SWT yurabbi (diantaranya ada disebut dalam sebuah hadits shahih muttafaqun ‘alaih [Bukhari 1410, 7430 dan Muslim 1014]). Wallahu a’lam

Ta’abbub (Menghambakan diri)

Sebagai salah satu bentuk implementasi dari Q.S. Al-A’raf: 180, maka kita perlu “berdo’a” dengan nama-nama Allah SWT (Al-Asma’ al-Husna), dimana do’a mempunyai dua makna: memohon dan beribadah.

Oleh karena itu, kita perlu ber-ta’abbud dengan nama-nama Allah SWT yang indah yang diantaranya adalah Ar-Rabbu.

Diantara bentuk ta’abbud dengan nama Ar-Rabb adalah:

  1. Kita perlu melakukan pekerjaan tarbiyah dalam arti membina dan menumbuhkan sisi-sisi positif dan baik yang ada pada diri mutarabbi serta memungsikannya dengan sebaik-baiknya. Pekerjaan ini terus menerus kita lakukan dan senantiasa melakukan pembaharuan terhadapnya (yurabbi).
  2. Kita perlu ikhlash dalam aktifitas tarbiyah kita, betatapun berat dan sulit, baik dari sisi motif, maupun dari sisi tujuan, dengan cara menjadikan motif kita dalam aktifitas tarbiyah adalah keimanan kita kepada rukun-rukun iman dan dengan cara hanya berorientasi mencari dan mengharapkan ganjaran dan pahala dari sisi Allah SWT.
  3. Kita perlu tajarrud sebisa dan sedapat mungkin, dalam arti bukan mencari keuntungan dari para mutarabbi kita, namun, aktifitas tarbiyah yang kita lakukan, semuanya dalam rangka dan kita darma baktikan untuk meninggikan kalimat Allah SWT (I’la’ kalimatillah), membela agama-Nya dan menyebar luaskan dakwah dan seruan-Nya.

Semoga kita bisa mengamalkannya, amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *