Hak Bertanya

Pada mukadimah kitab: Ad-Da’wah Qawa’id wa Ushul, Syekh Jum’ah Amin Abdul Aziz (Allah yarham) menulis sebagai berikut:

Para aktifis harakah Islamiyah, tan keno ora, kudu bertolak dari al-fahmu asy-syamil terhadap Islam.

Di saat yang sama, mereka mestilah selalu mengimani kemampuan da’wah ini dalam menyelesaikan berbagai problematika kehidupan, baik pada tataran pribadi, maupun social.

Dan harakah Islamiyah, saat ia berdaya upaya untuk melakukan perubahan menuju kesalehan umat, keselamatan masyarakat dan kemajuan negeri, ia (harakah Islamiyah) itu telah belajar dari Al-Qur’an Tuhannya bahwa mengajak masyarakat kepada agama ini tidak boleh ada bentuk apapun dari pemaksaan meskipun dalam hatinya sebenarnya tidak suka, tidak pula dengan cara menjebaknya untuk tidak memiliki pilihan lain, dan tidak pula dengan pola menggiringnya secara paksa, sebab Al-Qur’an menyatakan:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ} [البقرة: 256]

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Oleh karena itu, tan keno ora kudu:

  • Ada kelapangan dada,
  • Mendengarkan apa saja yang diajukan oleh para mad’u, baik saat mereka banyak mempertanyakan, ataupun meminta berbagai macam penjelasan.
  • Tidak ada rasa sempit di dada seorang da’i saat sikap-sikap mempertanyakan itu ditujukan kepadanya.

Sebab, Al-Qur’an, yang menjadi sumber pengajaran para da’i itu ternyata juga menjawab berbagai tasaulat (sikap mempertanyakan) yang diajukan oleh masyarakat dan merespon apa saja yang berkecamuk di dalam jiwa mereka.

Saat kita membaca Al-Qur’an, kita akan banyak menemukan berbagai tasaulat yang ditujukan kepada Rasulullah saw. sebagai qiyadah ulya para da’i itu, diantaranya: Q.S. Al-Baqarah: 189, Q.S. Al-Baqarah: 215, Q.S. Al-Baqarah: 217, Q.S. Al-Baqarah: 219, Q.S. Al-Baqarah: 220, Q.S. An-Nisa’: 176.

Jadi, janganlah merasa nyesek terhadap pertanyaan mereka, dan jangan pula merasa kikuk, selama mereka memang berkeinginan mencari kebenaran dan sampai kepadanya.

Dan bukankah dahulu kala, dahulu banget, para malaikat telah bertanya kepada Tuhan mereka tentang nabi Adam (as). (Q.S. Al-Baqarah: 30).

Juga nabi Ibrahim (as) juga bertanya kepada Tuhannya (Q.S. Al-Baqarah: 260).

Juga nabi Musa (as) juga meminta kepada Tuhannya (Q.S. Al-A’raf: 143).

Semua itu demi memperjelas hakekat, membuat gamblang kebenaran dan menghancurkan kebatilan, agar kebatilan itu dapat tercerabut dari dalam hati, sehingga ia tidak memiliki ketetapan (pijakan) di atas bumi tempat masyarakat itu hidup.

Oleh karena ini pula, kita dapati bahwa diantara tugas Rasulullah saw. adalah menjelaskan Al-Qur’an kepada masyarakat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka (Q.S. An-Nahl: 44).

Dan perlu kita ketahui bahwa tugas nabi untuk menjelaskan (at-tibyan) itu memerlukan, hikmah dan bashiroh, karenanya, tidak ada guna pola-pola pemaksaan masyarakat, penggiringan dan penciptaan suasana ketidak sukaan di dalam hati mereka terhadap apa yang didakwahkan kepada mereka.

Dari sini pula, kita menolak secara tegas cara-cara kekerasan dan pemaksaan sebagai satu jalan untuk memfardhukan berbagai pendapat kepada masyarakat dan memaksa mereka untuk mengimplementasikannya dan justru yang harus kita lakukan adalah mencabut akar-akar kekerasan ini dari pola pikir dan dari waqi’ (kehidupan riil).

Semua ini, kita lakukan, sebab titik tolak kita adalah pemahaman kita kepada Islam dan interaksi kita dengan teks-teksnya, misalnya pada firman Allah SWT pada Q.S. An-Nahl: 125.

Sebagai penggantinya, kita mempergunakan pola-pola hiwar (dialog), iqna’ (membangun pemahaman sampai ke tingkat puas), dan menghadapi hujjah dengan hujjah. (Q.S. Al-Baqarah: 111), (Q.S. An-Naml: 64), (Q.S. Al-An’am: 83) dan (Q.S. Al-Baqarah: 258).

Inilah jalur yang paling lurus dan jalan yang paling benar bagi dominasi suatu prinsip dan tersebarnya fikroh (ide, gagasan), dan bahkan, inilah manhaj yang kita tidak berpaling darinya, selama dalam diri kita masih ada nadi yang berdenyut.

2 Comments

  1. Barakallah fiik pak Musyafa

  2. Mantap pak Musyaffa. Barakallah fiik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *