Diantara Sejarah Hari Jum’at

mosque-prayer
“Tidak ada seorang nabi pun kecuali diperintahkan untuk memuliakan dan beribadah di hari Jum’at” (tafsir Thabari riwayat no. 1138), seperti halnya yang masih berlaku pada umat Islam sampai hari ini, yaitu keharusan beribadah secara penuh hanya beberapa saat saja, tidak sampai harus sepanjang dan selama satu hari satu malam.
Namun, Bani Israil menolak apa yang disampaikan oleh nabi mereka, dan mereka meminta – melalui nabi mereka – agar ibadah Jum’at itu dipindahkan dan diganti ke hari Sabtu. Lalu Allah SWT pun “mengabulkan” permintaan mereka dengan tambahan ketentuan bahwa di hari Sabtu itu, sepanjang hari, bukan hanya saat-saat tertentu saja, sepanjang satu hari satu malam penuh mereka harus khusus hanya beribadah kepada Allah SWT, tidak boleh melakukan kegiatan dan aktifitas apa pun selain beribadah mahdhah kepada Allah SWT.
Sebenarnya, “penolakan” Bani Israil terhadap ketentuan “Jum’atan” ini adalah satu bentuk kefasikan, meskipun mereka menyatakan bersiap menggantinya dengan ibadah yang lebih berat dan lebih panjang.
Oleh karena kefasikan inilah, Allah SWT meng-ibtila’ (menguji) mereka. Bentuk ujiannya adalah pada hari Sabtu, ikan-ikan bermunculan dalam jumlah besar dan sangat banyak di permukaan air, sedangkan di luar hari Sabtu, ikan-ikan itu seakan tersapu bersih dari lautan.
Perlu diketahui, pada waktu itu, kaum yang menawar perubahan hari ibadah dari Jum’at ke Sabtu adalah kaum yang bertempat tinggal di pantai dan bermata pencaharian sebagai pencari ikan.
Inilah salah satu makna dan tafsir dari firman Allah SWT:
وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (الأعراف: 163).
Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri, yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada disekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik (Q.S. Al-A’raf: 163).
Diantara ibrahnya, sebagaimana disebut oleh imam Fakhruddin Ar-Razi (544 – 606 H = 1150 – 1210 M) adalah:
مَنْ أَطَاعَ اللَّه تَعَالَى خَفَّفَ اللَّه عَنْهُ أَحْوَالَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ عَصَاهُ ابْتَلَاهُ بِأَنْوَاعِ الْبَلَاءِ وَالْمِحَنِ
Siapa saja yang taat kepada Allah SWT maka Allah SWT akan meringankan berbagai macam keadaan dan kondisinya di dunia dan di akhirat, dan siapa saja yang maksiat kepada-Nya, maka Allah SWT akan menimpakan ibtila’ (ujian) kepadanya dengan berbagai macam ujian dan cobaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *