Demi Memuro’at Perasaan Anak Kecil

foto-lucu-anak-kecil-meniru-gerakan-salat-berjamaah

Tersebut dalam hadits shahih cerita sebagai berikut:

عَنْ شَدَّادِ بْنِ الْهَادِ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: “خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعِشَاءِ، وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَوَضَعَهُ، ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَلَاةِ فَصَلَّى، فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا”، فَرَفَعْتُ رَأسِيْ، وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَهُوَ سَاجِدٌ – فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا، حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ، أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ، فَقَالَ: «كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعْجِلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ». (حديث صحيح رواه أحمد [16076]، والنسائي [1141]، والبيهقي [3423]، والحاكم [4775]

Dari Syaddad bin  al-Had (RA), ia berkata: “Rasulullah SAW keluar dari rumah beliau kepada kami pada salah satu dari shalat Maghrib atau Isya’, saat itu beliau menggendong Hasan atau Husain, lalu Rasulullah SAW maju ke depan untuk mengimami shalat dan menurunkan Hasan atau Husein itu, kemudian beliau melakukan takbiratul ihram untuk shalat, lalu melanjutkan shalat. Pada saat beliau sujud, beliau bersujud dan memanjangkan sujud beliau, maka aku agkat kepalaku, ternyata anak kecil (Hasan atau Husein) berada di atas punggung Rasulullah SAW, padahal beliau SAW sedang sujud, maka aku kembali bersujud. Setelah selesai shalat, para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, engkau bersujud dalam shalat dengan sebuah sujud yang engkau memanjangkannya, sehingga kami menduga bahwa telah terjadi sesuatu, atau bahwa engkau menerima wahyu?! Maka beliau SAW menjawab: «semua itu tidak terjadi, hanya saja, anakku ini menjadikan diriku sebagai tunggangannya, aku tidak ingin mempercepat [kesenangannya] sehingga ia memenuhi hajatnya».

(Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad [16076], an-Nasa-iy [1141], al-Baihaqi [3423], dan al-Hakim [4775]).

Bayangkan saja:

  • Beliau sedang berada di dalam masjid nabawi.
  • Dalam keadaan shalat, bahkan dalam keadaan sujud.
  • Waktunya Maghrib atau Isya’.
  • Saat itu pun beliau SAW sebagai imam shalat.
  • Tiba-tiba, cucu beliau SAW, Hasan atau Husain – radhiyallahu ‘anhuma – menaiki punggung beliau yang sedang sujud itu, seakan menjadikan beliau SAW sebagai tunggangannya.
  • Menariknya, beliau SAW memanjangkan sujud beliau SAW, bukan karena ada suatu urusan atau peristiwa penting sedang terjadi, bukan.
  • Bukan pula karena beliau SAW sedang menerima wahyu saat sujud tersebut.
  • Namun, karena beliau SAW memuro’at, atau mempertimbangkan “perasaan”, atau “keinginan”, atau “hajat” cucu beliau SAW yang masih kanak-kanak tersebut.

MasyaAllah…

  • Perasaan atau keinginan atau hajat anak kecil beliau pertimbangkan?!
  • Saat beliau SAW sedang shalat?
  • Saat sujud?
  • Bahkan saat beliau SAW menjadi imam?
  • Bukankah itu hanya “perasaan”atau “hajat” atau “keinginan” anak kecil?

Dan yang lebih menarik lagi adalah:

  • Para sahabat nabi SAW telah ber-husnuzhan bahwa sesuatu telah terjadi pada diri nabi SAW, atau
  • Mereka telah ber-husnuzhan bahwa beliau SAW sedang menerima wahyu.

Namun, ternyata, hal itu “hanya” karena memuro’at atau mempertimbangkan “perasaan” atau “keinginan” atau “hajat” seorang anak kecil!!!

Kita pun bisa bertanya-tanya: “lha bagaimana dengan pertimbangan jama’ah?”.

Sepertinya, wallahu a’lam,

  • Karena para sahabat nabi memang sudah nawaitu untuk shalat berjama’ah di belakang nabi Muhammad SAW,
  • Mereka pun juga telah siap dengan konsekwensi apa pun saat diimami oleh Rasulullah SAW, termasuk saat beliau SAW memanjangkan sujud beliau.

Mungkin karena pertimbangan-pertimbangan seperti itulah, wallahu a’lam, maka, saat “terjadi kontradiksi” antara pertimbangan jama’ah dengan pertimbangan “perasaan”, atau “keinginan” atau “hajat” anak kecil itu, maka Rasulullah SAW lebih mengutamakan pertimbangan memuro’at perasaan anak kecil itu, wallahu a’lam.

Ya Allah…bimbing kami untuk senantiasa menteladani nabi dan rasul-Mu, amin.

2 Comments

  1. Dalem nan bermakna nasehatnya…

  2. Sebuah kisah yg menginspirasi dan sarat dengan pelajaran yg berharga.
    Jazakallah khair ustadz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *