Cinta dan Mukhalafah

Adalah al-Bara’ bin Ma’rur – radhiyaLlahu ‘anhu -, seorang tokoh Yatrib (baca: Madinah). Berasal dari suku Khazraj, yang memeluk Islam sebelum nabi Hijrah ke sana, bahkan, telah memeluk Islam sebelum melihat dan bertemu dengan Rasulullah saw.

Beliau juga ikut serta dalam Bai’ah Aqabah ke-2, sebuah bai’at yang dikenal dengan bai’atun-nushrah, bai’at untuk membela Rasulullah saw. dengan jiwa dan harta. Lebih dari itu, beliau adalah satu dari 12 naqib yang dipilih Rasulullah saw. untuk memimpin, membimbing, membina dan mempersiapkan kota Yatsrib untuk menjadi bumi hijrah Rasulullah saw. dan kaum muslimin.

Ada hal menarik dari sirah (perjalanan) hidup al-Bara’ bin Ma’rur ini, yaitu keinginannya (baca: cintanya) untuk berkiblat ke Ka’bah, sebab ia tidak sampai hati untuk membelakangi Ka’bah, bangunan “warisan” dan “peninggalan” nabi Ibrahim – ‘alaihis-salam -.

“suara hati”-nya itu pun kemudian dilaksanakannya dalam bentuk shalat menghadap ke Ka’bah, padahal waktu itu kiblat kaum muslimin masih ke Baitul Maqdis. Karena inilah, perbuatan ini, oleh sahabatnya: Ka’b bin Malik dipandang sebagai satu bentuk mukhalafah, satu bentuk pelanggaran terhadap ajaran Rasulullah saw. dan selanjutnya perbuatan al-Bara’ pun “dilaporkan” kepada Rasulullah saw.

Hal ini lah yang menarik untuk dicermati, diantaranya:

  1. Saat Rasulullah saw. mendengar “laporan” dari Ka’b bin Malik tentang al-Bara’ bin Ma’rur ini, beliau bersabda kepada al-Bara’: “Kamu kan sudah mempunyai kiblat, bersabar saja atas kiblatmu itu”. Maka al-Bara’ pun kembali berkiblat ke Baitul Maqdis.
  2. Sabda Rasulullah saw. di atas sangat menarik, di mana beliau saw. meminta kepada al-Bara’ untuk bersabar atas kiblat yang ada. Sebab, Rasulullah saw. sendiri, secara pribadi, juga sangat ingin dan sangat berharap, agar Allah SWT mengarahkan kiblat kaum muslimin ke Ka’bah, sebagaimana diceritakan dalam Q.S. Al-Baqarah: 144, di mana Rasulullah saw. selalu menengadahkan wajahnya ke langit untuk menunggu datangnya perintah Allah SWT agar beliau saw. dan kaum muslimin berkiblat ke Ka’bah.
  3. Dan pada saat al-Bara’ bin Malik – radhiyaLlahu ‘anhu – menjelang wafat, beliau meninggalkan beberapa point wasiat, yang diantaranya, beliau berwasiat, agar kalau beliau wafat, mayat beliau dihadapkan ke Ka’bah, bukan ke Baitul Maqdis. Al-Bara’ wafat pada bulan Shafar, satu bulan sebelum Rasulullah saw. tiba di Yatsrib. Artinya, al-Bara’ wafat pada saat kiblat kaum muslimin belum ke Ka’bah, tetapi masih ke Baitul Maqdis. Oleh karena inilah, al-Bara’ adalah sahabat nabi Muhammad saw. yang pertama yang berkiblat ke Ka’bah, saat ia masih hidup, dan sahabat nabi yang pertama pula yang mayatnya dihadapkan ke Ka’bah. Hebatnya lagi, hal itu dilakukannya sebelum ada perintah untuk berkiblat ke Ka’bah. Jadi, ada urusan antara cinta dan mukhalafah di sini.
  1. Indahnya, setelah 16 atau 17 bulan Rasulullah saw. dan kaum muslimin di Madinah berkiblat ke Baitul Maqdis, datang perintah Allah SWT, agar kiblat kaum muslimin berpindah dari Baitul Maqdis ke Ka’bah di al-Masjidil Haram di Makkah. Keindahan itu terjadi pada awal mula perintah pindah kiblat itu terjadi. Diceritakan, bahwa, pada suatu hari, Rasulullah saw. bersilaturrahim ke rumah Ummu Bisyr; istri al-Bara’ bin Ma’rur. Tidak lama setelah Rasulullah saw. tiba di rumah al-Bara’ bin Ma’rur, masuklah waktu untuk menunaikan shalat Zhuhur. Maka Rasulullah saw. dan beberapa sahabat yang menyertai beliau pun melakukan shalat Zhuhur di rumah Ummu Bisyr yang istri al-Bara’ bin Ma’rur –radhiyaLlahu ‘anhu – itu. Saat shalat Rasulullah saw. baru dua rakaat, turun lah perintah Allah SWT. agar beliau berkiblat ke Ka’bah di al-Masjidil Haram di Makkah. Maka beliau saw. pun berputar haluan dari berkiblat ke Baitul Maqdis, ke berkiblat ke al-Masjidil Haram. Sekali lagi, hal ini sangat menarik dan sangat indah, sebab, hal itu terjadi di rumah Ummu Bisyr; istri al-Bara’ bin Ma’rur yang sangat mencinta untuk berkiblat ke Ka’bah itu. Atas terjadinya peristiwa itu, maka rumah Ummu Bisyr, di kemudian hari diubah menjadi masjid, dan masjid itu diberi nama: Masjid Qiblatain, masjid dua kiblat.

Jadi, terkadang, cinta yang sangat luar biasa, meskipun sempat terjadi mukhalafah, bisa berujung menjadi sebuah fakta sejarah dan cerita yang sangat indah.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *