CARI KAWAN, DAN JANGAN MENAMBAH LAWAN

MAS-ULIYYAH ITU TERLALU BESAR DAN BERAT

CARI KAWAN, DAN JANGAN MENAMBAH LAWAN

Prolog

Kisah-kisah Al-Qur’an al-Karim, selalu menawarkan ibrah dan pelajaran menarik. Bukan hanya itu saja, ibrah dan pelajaran yang diberikannya pun selalu baru. Persis dengan pernyataan Ali bin Abi Thalib (RA):

كِتَابُ اللهِ … وَلَا يَشْبَعُ مِنْهُ الْعُلَمَاءُ وَلَا يَخْلَقُ عَنْ كَثْرَةِ الرَّدِّ، وَلَا تَنْقَضِي عَجَائِبُهُ

Kitabullah .. dan para ulama tidak pernah kenyang dari Al-Qur’an, ianya pun (Al-Qur’an) tidak akan menjadi using karena seringnya diulang-ulang dan keajaiban-keajaibannya tidak habis-habis

Bahwa Al-Qur’an itu keajaibannya tidak ada habisnya, dan selalu memberi sesuatu yang baru.

Dalam kehidupan berorganisasi dan berjama’ah pun, Al-Qur’an al-Karim, wabil khusus kisah-kisah yang ada di dalamnya, selalu memberikan ibrah dan pelajaran untuk kehidupan berorganisasi dan berjamaah.

Terkait hal ini, menarik untuk didalami kisah pengangkatan nabi Musa (AS) sebagai nabi dan rasul oleh Allah SWT, dan permintaan nabi Musa (AS) agar bersamanya diangkat saudara lelaki nya Harun (AS) sebagai nabi dan rasul pula.

Seperti apakah sebagian dari pelajaran kisah ini?

Selamat menyimak di pembahasan berikutnya.

Pembahasan

Pertama: Pengangkatan Nabi Musa (AS) Sebagai Nabi dan Rasul

Tersebut di dalam Al-Qur’an surat Thaha, surat yang ke-20 menurut urutan mushaf Al-Qur’an, cerita (hadits) tentang nabi Musa (AS) [ayat yang ke-9)

Diantara hadits (cerita) tentang nabi Musa (AS) adalah ketetapan Allah SWT yang memilihnya untuk menjadi nabi dan rasul [ayat: 13].

Dan Allah SWT pun memberikan satu misi (risalah) kepada nabi Musa (AS) yaitu mendatangi dan menghadap Fir’aun [ayat: 24].

Misi (risalah) ini dirasakan sangat berat oleh nabi Musa (AS). Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh nabiyullah Musa (AS). Diantaranya:

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ . وَيَضِيقُ صَدْرِي وَلَا يَنْطَلِقُ لِسَانِي فَأَرْسِلْ إِلَى هَارُونَ . وَلَهُمْ عَلَيَّ ذَنْبٌ فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ (الشعراء: 12 – 14)

Berkata Musa: “Ya Rabbku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan dadaku menjadi sempit, tidak lancar lidahku, maka utuslah (Jibril) kepada Harun. Dan aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku”. (Q.S. Asy-Syu’ara: 12 – 14)

Oleh karena inilah, nabi Musa (AS) merasakan betapa beratnya tanggung jawab (mas-uliyyah) misi kerasulannya itu.

Demi meringankan beratnya beban mas-uliyyah kerasulan ini, nabi Musa (AS) mengajukan beberapa permohonan kepada Allah SWT, diantaranya:

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي . وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي . وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي . يَفْقَهُوا قَوْلِي . وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي . هَارُونَ أَخِي . اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي . وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي . كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا . وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا . إِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيرًا (طه: 25 – 35).

Berkata Musa: “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau,” dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Malihat (keadaan) kami”. (Q.S. Thaha: 25 – 35).

Kedua: Nabi Musa (AS) Meminta Wazir

Diantara hal yang menarik untuk didalami dari permohonan nabiyullah Musa (AS) adalah permintaannya agar Allah SWT memberikan kepada nabi Musa seorang wazir, “waj’al li waziran”, dan jadikanlah untukku seorang pembantu.

Ada beberapa hal menarik terkait dengan hal ini, diantaranya:

  1. Nabi Musa (AS) merasakan bahwa misi yang akan diembannya, adalah misi dan tanggung jawab yang sangat berat, karenanya, ia perlu wazir.
  2. Dalam kitab-kitab tafsir dijelaskan, ada banyak fungsi wazir ini, sebagai pembantu, sebagai tempat dan mitra musyawarah atau diskusi, untuk ikut memikul beban, sebagai pemberi support, sebagai tempat “curhat” bila diperlukan, sebagai pemberi nasihat, dan lain sebagainya.
  3. Permintaan nabi Musa (AS) kepada Allah SWT terkait dengan wazir ini, bukan sekedar wazir biasa, akan tetapi wazir yang selevel dan sama dengan dia, sama-sama sebagai nabi dan rasul.
  4. Jika sekelas nabi Musa (AS) sebagai nabi dan rasul saja memerlukan seorang wazir, apatah lagi yang bukan nabi dan rasul, mereka lebih perlu kepada wazir yang mempunyai banyak fungsi tersebut.
  5. Ada maksud lain dibalik permintaan nabi Musa (AS) tentang adanya seorang wazir ini, yaitu: “supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau,” dan banyak mengingat Engkau”.

Ketiga: Rasulullah SAW bersabda:

وَعَنْ عَائِشَةَ – رضي الله عنها – قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -: إِذَا أَرَادَ اللهُ بِالأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرًا صَالِحًا، إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِهِ غَيْرَ ذَلِكَ، جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ سُوءٍ، إِنْ نَسِيَ لَمْ يُذَكِّرْهُ، وَإِنْ ذَكَرَ لَمْ يُعِنْهُ (رواه أبو داود [2932]، والنسائي [4204]، وانظر: صحيح الجامع الصغير [302]، وسلسلة الأحاديث الصحيحة [489]).

Dan dari Aisyah (RA) ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Jika Allah SWT menghendaki suatu kebaikan bagi seorang pemimpin, maka Allah SWT akan menjadikan untuknya seorang wazir yang baik, jika ia lupa, maka wazir itu mengingatkannya, dan jika pemimpin itu ingat, maka wazir itu membantunya, dan jika Allah SWT menghendaki selain kebaikan untuk pemimpin itu, maka Allah SWT menjadikan untuknya seorang wazir buruk, jika ia lupa wazir itu tidak mengingatkannya dan jika pemimpin itu ingat, wazir itu tidak membantunya”. (Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Daud [2932] dan An-Nasa-i [4204]. Lihat pula: Shahihul Jami’ Ash-Shaghir [302] dan Silsilah hadits shahih [489]).

Keempat: Pernyataan Para Ahli Tafsir

Terkait hal ini, Imam Fakhruddin Ar-Razi (544 – 606 H = 1149 – 1209 M) berkata: “Bekeja sama untuk urusan agama, dan saling menguatkan demi agama, yang disertai dengan kecintaan yang tulus dan membuang jauh-jauh prasangka dan tuduhan, merupakan keistimewaan yang sangat agung dalam urusan berdakwah (mengajak manusia kepada Allah SWT)”.

Juga menarik pernyataan berikut: “Kerja dakwah di jalan Allah SWT, begitu juga segala urusan penting lainnya, urusan yang bertujuan memberikan pelayanan kepada public atau rakyat, urusan ini tidak akan sukses dan tersebar secara meluas seluas-luasnya kecuali jika ada banyak pelaku yang menerjuninya dan sebagian mereka menolong dan membantu yang lainnya, mereka saling menopang dalam kerja dan saling terlibat dalam memikul mas-uliyyah (tanggung jawab). Dengan cara ini, maka hasil akan berlipat ganda dan buah yang dihasilkannya pun akan suci dan bersih”. (At-Taisir fi Ahadits at-Tafsir, karya Muhammad Makki An-Nashiri).

Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi berkata: “Oleh karena itu, janganlah engkau berprasangka bahwa dirimu lebih baik daripada yang lain, sebab, masing-masing menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, jika engkau merasa bahwa pada satu sisi engkau lebih baik daripada selain engkau, maka ketahuilah bahwa orang lain itu juga memiliki kelebihan dan sisi kebaikan yang tidak ada pada diri engkau, untuk itulah diperlukan saling kerjasama”.

friends-vs-enemies

Penutup

Jelas bahwa nabi Musa (AS) memerlukan seorang wazir, dan permintaan ini dikaitkan juga dengan peningkatan “produktifitas”.

Jadi perbanyak teman dan kawan yang akan membantu untuk meringankan beban, syukur dapat meningkatkan “produktifitas”, khususnya produktifitas dakwah, dan jangan sebaliknya: membuka kancah dan ladang permusuhan, membuka front di sana sini, membuka pintu-pintu perlawanan dan pertikaian, jangan memperbanyak lawan, apalagi merubah kawan menjadi lawan, sebab mas-uliyah dakwah itu sangat besar dan berat, memerlukan banyak tenaga dan potensi untuk terlibat.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk dapat menerapkan nilai-nilai Qur’ani dan menteladani para nabi dan rasul, amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *